oleh

Perspektif Awam Tentang Karya Seni Lukis

-Edukasi, Humaniora-Telah Dibaca : 124 Orang
Berkunjung ke sebuah pameran dan menambah apresiasi seni (dokpri)

 

Dalam ruang lingkup seni rupa dikenal dengan pengetahuan perspektif. Perspektif dalam ilmu seni rupa adalah ilmu yang berhubungan dengan sudut pandang. Setiap mata yang melihat obyek akan mempunyai sudut pandang berbeda tergantung dengan posisinya saat melihat.  Ketika dua pelukis menggambar pemandangan mereka sepakat melukis pemandangan yang ada di depannya.

Di depan ada pohon dan letak benda yang sama persis. Tetapi meskipun sama – sama jago sudut pandang beda antara satu pelukis dengan yang lain. Sebab posisi melukis mereka tidaklah dalam posisi sama meskipun obyeknya sama. Interpretasi warna, pengaturan komposisi dan eksekusi akhir dari keduanya berbeda.

Semua karena sudut pandang. Begitu juga ketika penulis membahas tentang sebuah kasus yang sama persis. Mereka sama- sama menulis, sama sama membahas masalah yang sama. Pada akhirnya penyelesaian kedua penulis berbeda. Itulah sudut pandang, tidak ada orang yang bisa seragam dalam memandang masalah.

Bisa jadi bagi anda lukisan Affandi yang ekspresif dan cenderung kasar, tidak menarik sama sekali, lebih enak melihat lukisan Basuki Abdullah atau Abdullah Suriosubroto, bahkan lebih senang melihat lukisan yang sering dipajang di pinggir jalan. Tidak ada keharusan juga pada tiap orang untuk seragam berpendapat. Semua bisa berawal dari selera, kesenangan dan pengalaman estetis.

Bagi kurator dan pecinta lukisan bisa jadi lukisan Affandi jelas- jelas lebih menarik daripada lukisan pemandangan alam. Semua bermula dari sudut pandang. Pengamat dan kolektor mempunyai wawasan, mempunyai pengetahuan bisa menebak makna instinsik dari sebuah lukisan. Mereka juga tahu bahwa kemegahan lukisan Affandi bisa jadi terpengaruh pada besarnya peluang investasi terhadap lukisan langka dan lahir dari seorang maestro.

Meskipun terkesan ruwet dan susah dimaknai dengan mata telanjang, bagi pengamat lukisan Affandi itu sebuah karya masterpiece. Lukisan yang susah ditiru dan bisa jadi satu- satunya yang pernah ada di dunia. Tidak mudah para peniru, duplikator bisa meniru lukisan.

Mengapa lukisan bisa mahal salah satunya karena setiap lukisan itu akan berbeda, tidak bisa dilipatgandakan, tidak bisa ditiru seperti halnya baju yang bisa diproduksi dalam jumlah ribuan.

Mungkin hampir mirip dengan batik tulis, karena hasil karyanya terbatas, limited edition, jadi harga bisa tinggi. Namun lukisan yang tinggi harganya bisa juga karena permainan spekulan, kurator dan kolektor yang bisa melambungkan harga sebuah lukisan.

Kadang orang awam bingung, lukisan scream yang mengerikan kenapa bisa jadi harga lukisan termahal di dunia, tidak masuk akal. Tapi ada kolektor yang dengan berani membeli dengan harga yang bagi orang biasa, huuuhhh gila, uedannn tenan… nggak percaya aku?

Tapi begitulah, berbicara tentang sudut pandang maka yang ada dalam pikiran penulis ya itulah namanya demokrasi, setiap orang boleh berpendapat, setiap orang boleh mempunyai pikiran berbeda, namun jika mau hidup rukun dan mencintai dinamika yang terbaik adalah bersikap toleran. Toh perbedaan – perbedaan itu bisa diambil sisi positifnya. Setiap penulis bisa menghargai tulisan meskipun dari seorang pemula sekalipun, sebab tulisan, lukisan dan apapun karyanya berasal dari manusia yang unik, manusia yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Dalam seni rupa juga dikenal dengan istilah iconic  bahasa- bahasa simbol, bahasa bahasa isyarat. Seorang pelukis akan mencoba mengarah pada hal – hal ikonik, mudah diingat atau bisa saja setiap pelukis akan dikenal karena mempunyai ciri khas. Setiap melihat lukisan Affandi orang akan membawanya pada gambaran lukisan ekspresionisme sama halnya melihat lukisa Vincent van Gogh. Raden Saleh  akan selalu terikat pada lukisan- lukisan beraliran romantisme. Kalau Djoko Pekik mereka akan selalu teringat pada lukisan celeng.

Hal hal yang ikonik sering terlihat di dunia entertain, Charlie Caplin akan selalu diingat karena film bisunya dan bentuk kumis yang terkesan lucu di bawah hidung. Jojon pelawak Indonesia wajahnya mirip dengan Charlie Caplin dengan kumis lucu berada di bawah bibir ditambah dengan celana yang selalu ia pakai, yang terkesan kedodoran dan ditarik sampai bawah dada.

Semoga tulisan tulisan saya tentang seni rupa memberi tambahan pengetahuan bagi pembaca yang ingin mengetahui tentang dunia seni rupa. Tentu  saja setiap pandangan saya tidak serta merta menjadi sebuah acuan, perlu banyak bacaan lain dan tulisan lain yang bisa menguatkan atau malah membuat lebih beda. Semuanya karena sudut pandang, karena setiap orang mempunyai perspektif berbeda.

Di negara Indonesia mungkin saja kebutuhan keindahan, estetika dan lukisan belum begitu prioritas, banyak yang lebih tertarik berbicara kuliner, jalan- jalan dan kegiatan kumpul – kumpul lain. Bicara seni ah, mungkin hanya beberapa persen yang suka, selebihnya mereka lebih suka bicara makanan dan kesenangan lain. Tapi paling tidak semoga pembaca sedikit melirik tulisan saya yang lancang bicara tentang seni sementara mungkin banyak pembaca lebih suka berkunjung pada sebuah kegiatan yang bersifat tren. Tetapi semoga selalu saja ada pembaca yang membaca tulisan saya dengan cermat. Salam Sehat selalu.

 

Citra Indah City, 21 September 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed