oleh

Adat Pati dalam Kearifan Berladang Suku Dayak: Wujud Rekonsiliasi Manusia dengan Tuhan, Sesama dan Leluhur serta Alam

-Terbaru-Telah Dibaca : 96 Orang
Warga sedang mengadakan upacara ritual adat pati di tanah makam (gupung) – dokpri

 

Alam dan manusia Dayak untuk selamanya tak akan pernah dapat dipisahkan. Karena itu, alam sebagai bagian dari seluruh kehidupan mereka harus diperlakukan dan dimanfaatkan secara hormat dan beradat.

Perlakuan dan pemanfaatan alam secara hormat dan beradat diperlukan mengingat, pertama, karena manusia Dayak menyatu dengannya, tergantung darinya dan hidup dalam kebersamaan dengannya. Kedua, Yang Ilahi (Petara Nan Agung) hadir dalam dan melalui alam. Alam kadang kala dialami sebagai suatu yang memiliki kekuatan “magis”, yang selain menciptakan rasa hormat dari pihak manusia tetapi juga ketakutan.

Perlakuan dan pemanfaatan yang bijaksana, hormat dan beradat terhadap alam tidak ada tujuan lain selain terbangun dan terpeliharanya relasi yang harmonis dengan alam itu sendiri.

Upaya tersebut bukan berarti tanpa tantangan dan hambatan. Sistem berladang dengan cara membakar merupakan tantangan nyata yang dihadapi oleh para peladang. Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman utama jika mereka tidak bijak dan hati-hati dalam mengolah lahan pertanian.

Karena itu, untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan dan lahan sudah ada aturan yang harus ditaati oleh semua warga. Dalam aturan tersebut setiap warga dilarang keras membakar lahan miliknya hanya seorang diri saja. Tak peduli berapa pun luas lahan yang mereka miliki, warga harus menginformasikan kepada orang sekampung jika hendak membakar ladang.

 

Sebuah Contoh Kasus

Aturan memang sudah ada dan ditaati. Namun, yang namanya musibah kadang berada di luar kendali manusia. Musibah itulah yang menimpa paman saya pada pertengahan tahun 2019 yang lalu. Tepatnya pada bulan Agustus. Bagi para peladang, bulan Agustus, jika tidak sering turun hujan, biasanya menjadi kesempatan yang baik untuk membakar lahan.

Paman saya ini kebetulan membuka ladang berdekatan dengan tanah makam leluhur kami. Tanah makam (orang dayak Desa menyeputnya gupung) merupakan hutan adat. Di kampung kami sendiri ada cukup banyak gupung. Sebagai hutan adat tentu saja harus dijaga dan dilindungi oleh segenap warga masyarakat.

Seluruh warga kampung, tanpa terkecuali, dilarang keras membuka ladang atau kebun di gupunggupung tersebut. Gupung merupakan tanah pamali. Akan ada bahaya yang mengancam keselamatan penduduk bila larangan tersebut diabaikan.

Di setiap gupung biasanya tumbuh pohon ara (kiarak dalam bahasa kampungnya) yang besar dan rindang. Oleh warga, pohon ini diyakini sebagai tempat tinggal roh-roh leluhur. Karena itu, tidak boleh diganggu gugat. Apalagi ditebang.

Paman saya tahu dengan baik kalau tanah makam merupakan tanah pamali. Ini bukan pertama kalinya dia berladang di situ. Dia pun tentu selalu ingat pesan bahwa siapa pun yang berladang dekat gupung harus ekstra hati-hati, terutama saat membakar ladang miliknya.

Sadar akan hal tersebut, paman saya pun melibatkan banyak orang saat membakar ladang miliknya guna mengantisipasi api agar tidak menjalar ke tanah makam. Namun, nasib malang tak dapat dielakkan. Kencangnya tiupan angin nampaknya menjadi faktor utama yang menyebabkan kobaran api menjalar ke gupung.

Peristiwa ini tentu saja membuat paman saya sangat sedih dan terpukul. Memang tidak ada unsur kesengajaan maupun kelalaian dalam peristiwa itu. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi alasan bagi paman terlepas dari jerat hukuman adat.

 

Pelaksanaan

Hukuman itulah yang dinamakan dengan Adat Pati. Adat pati bisa diartikan sebagai denda adat terhadap orang yang telah menyebabkan sesama manusia atau alam terluka.

Bagaimana upacara ritual Adat Pati ini dilaksanakan? Upacara ritual adat ini dipusatkan pada pohon ara yang ada di dalam gupung. Dalam ritual ini warga harus menyediakan sesajen (pegelak). Sesajen ini akan disimpan di sebuah tempat khusus yang terbuat dari anyaman bambu (ranccak). Rancak ini kemudian digantung di dekat pohon ara.

Ritual ini dipimpin oleh satu dan/atau dua orang yang dituakan yang paham betul tentang mantra (permohonan) yang akan disampaikan dalam ritual.

Sesajen (pegelak)-dokpri

 

 

Tanda Penyesalan dan Permohonan Ampun

 

Adat Pati sungguh merupakan wujud nyata dari rekonsiliasi manusia dengan Tuhan Pencipta, dengan sesamaa dan leluhur serta dengan alam. Menjadi wujud nyata karena salah satu syarat terwujudnya rekonsiliasi ialah bila pihak yang telah melakukan kesalahan mengakui perbuatannya dan bersedia untuk meminta maaf.

Dalam kasus ini, warga sungguh menyadari kesalahan mereka karena telah mengusik ketenangan roh leluhur dengan membiarkan rumah kediaman mereka termakan api. Meski, sekali lagi, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan, warga yang masih hidup sungguh dengan rendah hati menyesali perbuatan mereka dan memohon ampun atas perbuatan mereka tersebut.

Permohonan ampun itu mesti disampaikan agar ke depannya segala usaha dan jerih payah mereka dalam berladang direstui dan diberkati oleh Petara, leluhur dan alam semesta. Dengan demikian, kehidupan mereka akan sejahtera baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

 

 

Mencegah terjadinya Malapetaka

 

Dilaksanakannya ritual Adat Pati di gupung merupakan keinginan terdalam dari warga kampung agar terhindar dari malapetaka karena telah melukai  hutan tempat para leluhur bersemayam.

Barangkali ada yang bertanya apakah terbakarnya tanah makam bisa mendatangkan celaka atau malapetaka? Kalau memang bisa, siapa saja yang bisa tertimpa malapetaka tersebut? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dipahami dalam cara pandang kosmis yang dianut oleh orang Dayak. Sebuah cara pandang yang meyakini tak terpisahnya realitas kosmos (manusia dan dunianya) dengan realitas transenden. Dengan menghidupi pandangan ini, manusia Dayak menaruh hormat yang tinggi kepada kekuatan-kekuatan gaib dan roh leluhur.

Orang Dayak meyakini bahwa alam mempunyai “roh”, “jiwa” tertentu yang memberikan kehidupan kepada manusia. Maka dari itu harus dihormati. Oleh karena itu pula perilaku manusia harus baik dan sopan dalam memanfaatkan alam atau ketika harus bersentuhan dengan alam.

Pohon-pohon besar, sungai, batu-batu besar, dan tempat-tempat tertentu dikeramatkan karena “pengalaman” perjumpaan dengannya “membuktikan” bahwa di situ hadir Yang Ilahi atau menjadi perpanjangan tangan kehadiran yang Ilahi itu. Rasa hormat diungkapkan dengan sikap dan tutur kata yang sopan dan santun serta lewat upacara atau ritual adat.

Dari pemahaman di atas, terlukanya tanah makam tentu saja dapat mendatangkan malapetaka. Malapetaka tersebut tidak hanya bisa menimpa si pemilik ladang beserta seluruh anggota keluarganya, tapi juga seluruh warga kampung. Guna mencegah terjadinya malapetaka tersebut, ritual adat wajib dilakukan.

 

 

Wasana Kata

 

Masih eksisnya adat pati dalam kearifan berladang suku Dayak hendak menunjukkan betapa mereka menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap alam. Rasa hormat itulah yang menuntun mereka untuk selalu memperlakukan alam sebijaksana mungkin demi terpeliharanya relasi yang harmonis dengan Yang Maha Tinggi, sesama dan leluhur serta alam.

Oleh: Gregorius Nyaming untuk Inspirasiana

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed