oleh

“Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe”, Sebuah Ujian Keikhlasan bagi Pejuang Kebaikan

(Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo)

 

Salah satu kekayaan budaya yang Indonesia miliki dan patut dilestarikan adalah bahasa daerah. Per tahun 2020, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi dan tersebar di 34 provinsi.

Bahasa Jawa menjadi bahasa daerah yang paling banyak dituturkan oleh masyarakat Indonesia. Mengutip dari Wikipedia, jumlah penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai 75,5 juta penutur pada tahun 2006. Sementara data resmi sensus 2010 melaporkan ada sekitar 68 juta penutur bahasa Jawa.

Sebagaimana bahasa Indonesia maupun bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa juga memiliki ragam peribahasa yang kerap dijadikan pitutur (petuah, nasihat) secara turun-temurun dari para orangtua kepada anak cucu.

Ada tiga bentuk pepatah Jawa yang umum dikenal, yaitu paribasanbebasan, dan saloka. Jika dilihat dari substansinya, ketiganya bisa dikatakan memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berisi nasihat, teguran dan sindiran.

Nah, karena ada banyak peribahasa bahasa Jawa dan saya tidak mungkin menuliskan semuanya, di artikel ini saya akan fokus membahas satu contoh saja, yaitu sepi ing pamrih rame ing gawe

Paribasan ini jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya adalah “tidak mengharapkan imbalan atau balasan namun tetap sungguh-sungguh dalam bekerja”.

Ikhlas atau keikhlasan adalah suatu kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah dalam praktiknya.

Dalam agama, ikhlas adalah ketika seseorang mampu melakukan suatu hal dengan niat tulus, semata-mata untuk mengharapkan rida Tuhan, bukan mengharapkan pujian atau imbalan dari manusia.

Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak mendapatkan hasil atau timbal balik seperti yang kita inginkan. Padahal kita telah mengorbankan seluruh tenaga, pikiran, waktu bahkan biaya untuk meraih cita-cita, menciptakan suatu karya atau membuat perubahan di tengah masyarakat.

Kita melakukannya dengan niat baik demi kebaikan bersama. Namun kadang ada pihak-pihak yang tidak senang sehingga bermaksud menggagalkan usaha yang kita lakukan.

Kadang pekerjaan, karya atau kebaikan yang kita lakukan tidak dilihat, dianggap, dihargai bahkan mungkin dipandang sebelah mata dan dicaci. Kadang apa yang telah kita usahakan justru berujung pada kegagalan. Namun inilah ujian yang akan menentukan setangguh apa mental kita dan selapang apa hati kita dalam menghadapinya. Apakah kita akan tetap bergerak atau diam dan akhirnya menyerah?

Disinilah sebenarnya keikhlasan kita diuji. Jika kita benar-benar ikhlas melakukan suatu pekerjaan atau kebaikan, harusnya kita tidak akan terpengaruh oleh ada atau tidaknya pujian dan imbalan. Seseorang yang hatinya penuh keikhlasan juga tidak akan mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dilakukannya pada orang lain.

Orang yang ikhlas ketika dipuji atau diberi imbalan kita tidak sombong dan pamer. Ketika tidak dipuji atau diberi imbalan pun ia tidak marah dan kehilangan semangat untuk tetap berbuat baik.

Karena pujian dan imbalan sejatinya hanya bonus belaka. Sementara kebaikan, kerja keras dan karya nyata bagi diri sendiri dan sesama jauh lebih penting untuk dilakukan. Meskipun manusia tidak melihat dan menghargai kebaikannya, setidaknya masih ada Tuhan Yang Maha Melihat dan Mengetahui sehingga ia tidak merasa khawatir.

Seseorang yang ikhlas pasti memiliki niat yang tulus dan bersih dari penyakit-penyakit hati, seperti pamer, sombong, iri, dengki dan sebagainya. Mereka tidak ambil pusing akan apa kata orang. Selama yang ia lakukan tidak merugikan siapapun, ia tidak akan ragu untuk tetap berbuat baik meski di jalan sunyi sekalipun.

Menjadi pribadi yang ikhlas memang tidak mudah. Dibutuhkan niat yang tulus, motivasi yang kuat, mental baja, pengorbanan dan kelapangan hati untuk menghadapi apapun reaksi yang diberikan oleh orang lain dan lingkungan atas apa yang kita lakukan.

 

Ditulis oleh Luna Septalisa untuk Inspirasiana

(Artikel ini pernah ditayangkan di sebuah blog pada 16 Juni 2021)

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed