oleh

Tari Bedhaya Banyu Ning Segara, Menari dengan Suara Hati

Dokumentasi Pribadi dari Instagram SangArt

Sudah tahu apa itu Tari Bedhaya Banyu Ning Segara? Mari kita ulik dalam tulisan kisah “Menari dengan Suara Hati” ini. Anggitan ini menggunakan sudut pandang Ayu sebagai penulisnya.

Berbicara tentang suatu karya seni, tentunya berkorelasi dengan adanya gagasan- gagasan yang disumbangsihkan oleh sang pencipta karya. Dalam penciptaan sebuah karya seni tentunya ada  proses kreativitas dari suatu keresahan yang dirasakan oleh jiwa manusia.

Bagi Ayu, seni dimaknai sebagai ruang untuk introspeksi dan mengekpresikan diri.  Ya, berkesenian tanpa kenal lelah, Ayu rasa itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Hingga Ayu mengenyang pendidikan di bangku perkuliahan pun, rasa jatuh hati terhadap seni tidak berkesudahan. Bahkan Ayu menganggap hidup tanpa seni adalah mati. Seni sangat menarik bukan?

Puji dan syukur kecintaan Ayu terhadap seni tidak putus sampai saat ini, duduk di bangku perkuliahan. Ayu belajar untuk merubah posisi diri, menghayati peran sebagai kaum akademisi sehingga menjadikan seni sebagai objek penelitian.

Ya, aku ingat kala itu ketika menempuh semester tiga pada mata kuliah Kajian Kultural Komunikasi, untuk tugas akhir semester Ayu mendapatkan objek yang sangat menarik untuk diteliti. Apa itu? Pasti penasaran bukan?

Ya, tak lain adalah salah satu karya seni berbentuk tarian. Tarian karya seniman asal Yogyakarta bernama Isthira Dwi Amretasari dari Sanggar SangArt Yogyakarta.  Sekadar informasi, kumpulan dari Sanggar SangArt bukan merupakan penari, menariknya lagi merupakan orang-orang dari berbagai latar belakang berbeda yang justru menggeluti dunia teater.  Berbasis seni teater, justru seniman tersebut menghasilkan bentuk tarian dalam inovasi yang berbeda. Mereka menyebut penarinya sebagai penubuh.

Dengan beraninya  dan ide brilian dari Isthira Dwi Amretasari, diberangkatkan dari kerpihatinan bahwa panggung-panggung pertunjukan terkadang ada batasan yang tidak bisa diakses masyarakat luas , dirinya menciptakan Tari Bedhaya Banyu Ning Segara.

Titik inilah membuat Ayu bisa menarik kesimpulan, bahwa tarian ini ada untuk mematahkan stigma-stigma negatif yang leluasa menjalar di berbagai kalangan masyarakat.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Tari Bedhaya merupakan tarian klasik  yang penarinya merupakan perempuan dari Keraton Yogyakarta maupun Surakarta. Tarian tersebut bersifat sakral dan mempunyai aturan (pakem ) tertentu  baik dalam lingkup siapa yang boleh menarikan dan ditarikan pada peristiwa tertentu  (Inawati,2014,h.198).

Menilik dari hal tersebut, Tari Bedhaya Banyu Ning Segara menyuguhkan sesuatu hal yang berbeda. Sang pencipta karya berani memodifikasi dan melampaui gerakan-gerakan yang bersifat pakem. Tarian tersebut bisa ditarikan dimana saja terlebih tanpa iringan musik.

Tantangan ada para penubuh yang menyelaraskan gerak dan menggunakan insting untuk bekerja sama satu sama lain dalam menyeragamkan gerak.  Lewat tarian ini, merupakan suatu dinamika untuk  berusaha menggali dan mengenali diri sendiri.  Sang pencipta karya berkata bahwa tarian tersebut sudah beberapa kali ditarikan di pinggir jalan sudut kota Yogyakarta.

 

Mengapa Bedhaya Banyu Ning Segara?

Dokumentasi Pribadi dari Instagram SangArt

 

Tarian tersebut berkisah tentang doa para perempuan untuk bumi yang mereka pijak. Biasanya, tarian ini ditarikan oleh Sembilan orang yang melambangkan arah mata angin serta Sembilan lubang pada tubuh manusia. Perempuan  diartikan seperti air yang mempunyai kekuatan dan kedudukan mulia, sejajar, sebagai pendorong di depan ataupun di belakang.

Tari Bedhaya Banyu Ning Segara merefleksikan tentang nilai asal muasal kita sebagai manusia, siklus kehidupan yang diibaratkan muaranya adalah lautan luas. Aliran lubang di tubuh manusia  dan semuanya dialiri oleh air yang menejukkan namun juga bisa merusak. Saling tarik-menarik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Tari merupakan hasil dari kebudayaan yang dibentuk oleh suatu masyarakat tersebut, maka tari diciptakan tentunya merupakan produk dari konstruksi sosial yang disadur dari norma-norma budaya lokal  (Alkaf,2012,h.129).

Bisa dilihat bukan? Bahwa tarian tersebut mempunyai makna yang mendalam dan kompleks. Berdasarkan hasil analisis Ayu menggunakan teori semiotika Roland Barthes , ditemukan bahwa Tari Bedhaya Banyu Ning Segara mengangkat nilai-nilai etika Jawa yang menggambarkan Perempuan Jawa.

Dalam gerak  Tari Bedhaya Banyu Ning Segara sangat mementingkan pada  wiraga ( gerakan), wirama ( irama), dan wirasa (penghayataan)  dari penubuh   ( Inawati, 2014,h.199). Dalam hal ini selaras dengan cerita dari tarian itu sendiri, yang mencerminkan perempuan yang sedang  melakukan meditasi dan doa. Hal ini ditujukan tentunya untuk mengelola kondisi batin  manusia.

 

Sebagai pengingat asal dan hakitat tarian ini menggambarkan bahwa perempuan bisa menyeimbangkan diri dua kehidupan baik ketika berelasi dengan manusia, maupun dengan Manunggaling Kawula lan Gusti (berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa) ( Siahaan dalam Suryadi,2015,h.7) .

 

Tari Bedhaya Banyu Ning Segara menyoroti peran perempuan dalam masyarakat Jawa, yang  terampil, adaptif, pandai bersosialisasi, cerdas sehingga berbagai tanggung jawab bisa dilakukan seperti   sebagai   tenaga pendidik dan juga mempunyai amanah untuk mempertahankan kebudayaan (Pudjianto, 2017, h.126)

 

Pada intinya, Gerak Tari Bedhaya Banyu Ning Segara terindetifikasi sangat mengangkat nilai-nilai etika Jawa yang menitikberatkan pada lima karakteristik yaitu kuat, empati, mesra, lembut, dan cantik ( Suryadi,2018,h. 572).

 

Begitulah, Ayu membagikan bahwa seni itu begitu dinamis mengikuti alur perubahan zaman. Seni terus bermunculan dan berkembang tiada habisnya ditelan zaman.  Pengalaman dalam proses mengulas Tari Bedhaya Banyu Ning Segara, Ayu akui  sangat membekas dan berkesan di hati.

 

Salam Berkesenian! Maria Ayu untuk Inspirasiana

 

 

Daftar Pustaka

Alkaf, M. (2012).  Tari Sebagai Gejala Kebudayaan: Studi Tentang Eksistensi Tari Rakyat di Boyolali. Jurnal Komunitas, Vol. 4, No. 2, 126-129.

Amretasari, I. D. (2020, Mei 15). Tari Bedhaya Banyu ning Segara. (M. F. Yulita, Interviewer)

Inawati, A. (2014). Peran Perempuan dalam Mempertahankan Kebudayaan Jawa dan Kearifan Lokal. Musâwa, Vol. 13, No. 2, 198-200.

Pudjianto, R. (2017). Perempuan Jawa : Representasi dan Modernitas. Indonesian Journal of Sociology and Education Policy, Vol.2,No.2, 126-127.

Suryadi, M. (2018). Nilai Filosofis Peralatan Tradisional Terhadap Karakter Perempuan Jawa dalam Pandangan Masyarakat Pesisir Utara Jawa Tengah. Nusa, Vol. 13, No.4, 572.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed