oleh

Ketika Tuhan Seolah Tiada

-Edukasi, Filosofi, Humaniora, KMAB, Pendidikan, YPTD-Telah Dibaca : 314 Orang
Gambar Ilustrasi

Ketika mengalami kesulitan dan pergumulan hidup sehari-hari, orang sering merasa sendirian, dan tidak mampu berbuat apa-apa. Hal ini sangat manusiawi sekali. Dalam situasi itu, pikiran manusia beralih kepada pertanyaan: dimanakah Tuhan? Benarkah demikian?

Ada banyak persoalan hidup di dunia ini. Bencana alam, peristiwa tragis, permasalahan dalam keluarga, relasi masyarakat yang tidak baik, pasangan tidak harmonis, penyakit, dan masih banyak lagi. Jika mengikuti dan menyimak, rasanya berbagai persoalan itu tiada habisnya. Persoalan datang dan pergi silih berganti dari generasi ke generasi. Beberapa di antaranya bahkan datang bertubi-tubi. Tak jarang, persoalan hidup itu membuat hidup manusia menderita dan terpuruk. Gempuran masalah itu terkesan datang menggempur kekuatan pertahanan manusia.

Saya mencoba mendalami pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang juga pernah tertuang dalam hati di tengah gejolak persoalan pribadi. Pencarian keberadaan Tuhan ketika manusia membutuhkan, bukanlah pencarian sosok secara jasmani karena Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata jasmani manusia. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak ada.

Pertanyaan atas keberadaan Tuhan ternyata bukanlah hal tabu yang harus dihindari. Hal itu justru menjadi penting untuk membangun kesadaran bahwa manusia memerlukan Tuhan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menemukan Tuhan?

Menyelami Kisah Inspiratif

Ada sebuah kisah tentang Sepuluh Orang Kusta. Mereka berteriak meminta bantuan orang yang melewati mereka. Tak terkecuali, Ketika seorang tabib terkenal melintas, teriakan mereka menggema memohon belas kasihan.

Sang Tabib hanya diam memandang mereka. Kesepuluh orang kusta terus memohon belas kasihan. Mereka tentu berharap Sang Tabib akan memegang, memberi obat atau ramuan-ramuan, membaca mantera, meniup atau menyemburkan sesuatu kepada mereka. Intinya, mereka mengharapkan sebuah tindakan yang nyata dari Sang Tabib bagi mereka. Sayangnya, harapan mereka itu hanya tinggal harapan. Tidak ada reaksi apapun dari Sang Tabib.

Tidak lama, Sang Tabib hanya berkata, “Pergilah untuk memperlihatkan dirimu kepada tokoh-tokoh agama dan para pemimpin di sana.” Kesepuluh orang kusta itu merasa kecewa tetapi tetap mengikuti perkataan Tabib itu. Di tengah perjalanan, kesepuluh orang kusta itu pun sembuh. Mereka bersorak dan melompat-lompat kegirangan lalu melanjutkan perjalanannya. Namun, salah seorang di antara mereka kembali untuk menemui Sang Tabib. Setelah bertemu, seorang yang sembuh dari kusta itu tersungkur dan berterima kasih kepada Sang Tabib.

Sebuah Refleksi Batin

Orang sakit biasanya sangat sensitif apalagi jika telah mengalami sakit dalam waktu yang lama. Dalam keadaan seperti itu, orang sakit sering merasa tidak sabar. Apalagi jika sakit yang diderita tak kunjung sembuh, orang sakit cenderung merasa putus asa. Segala cara mungkin akan dilakukan untuk mendapatkan kesembuhan.

Menarik sekali ketika saya mendalami kisah di atas. Sepintas terlihat Sang Tabib tidak melakukan apa-apa. Mungkin saja orang-orang kusta itu kesal dan kecewa karena merasa Sang Tabib tidak melakukan apa-apa. Mereka mungkin menganggap ia tidak peduli pada nasib mereka. Kenyataannya, kesepuluh orang kusta itu justru mengalami kesembuhan. Tindakan Sang Tabib itu tidak dapat diukur oleh orang-orang kusta.

Pada bagian ini, saya merefleksikan bahwa Tuhan juga demikian. Manusia sering kali mengharapkan tindakan-tindakan nyata atas dirinya. Manusia sering lupa, bahwa Tuhan bertindak dengan cara-Nya sendiri dan selalu tidak dapat diukur dengan pengetahuan manusia. Sesungguhnya Tuhan menaruh perhatian dan kasih pada manusia, tapi manusia lebih mudah menghakimi Tuhan. Manusia selalu mengharapkan jawaban atas permintaannya dating seketika. Padahal Tuhan menjawab pada waktu yang tepat.

Pada bagian lain kisah di atas, hanya ada satu orang yang kembali untuk menyampaikan syukur dan terima kasihnya kepada Sang Tabib. Saya merefleksikan ini bahwa kadang manusia hanya tahu meminta tetapi lupa berterima kasih. Seolah-olah, apa yang diterimanya merupakan haknya. Dalam kegembiraan, orang sering lupa siapa dirinya, bagaimana ia sampai pada hari ini, siapa yang berperan untuk menghantarnya pada situasi saat ini, dan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Tuhan tidak pernah menuntut terima kasih, tetapi sebagai manusia ciptaan-Nya, selayaknya manusia menyadari siapa dirinya dan selalu ingat bersyukur-berterima kasih atas segala pemberian-Nya. Baik rasa sakit maupun kesembuhan, adalah karunia yang Tuhan berikan untuk manusia. Semua itu merupakan bentuk didikan Tuhan bagi manusia agar selalu mengarahkan diri dan menemukan Tuhan.

Insight

Perjalanan menemukan Tuhan bukanlah perjalanan instan. Dalam setiap kesedihan maupun kegembiraan, dalam rasa sakit maupun dalam keadaan sehat, serta dalam berbagai pengalaman hidup, saya menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan tak pernah absen dalam hidup setiap orang.

Proses pencarian Tuhan akan selalu menjadi proses yang penuh makna jika manusia mau berusaha, berproses mencari dan menemukan Tuhan dan kehendak-Nya yang penuh misteri. Tuhan selalu ada bersama kita, dan Dia hanya sejauh doa.***(kps)

 

Kunjungi Blog Penulis

Komentar

Tinggalkan Balasan