oleh

Kisah Sepenggal Wanita Aroma Kopi

 

Kisah Sepenggal Wanita Aroma Kopi
Karya Erina Purba

 

Tangan-tangan keriput masih memiliki tenaga. Tiada hentinya memuja kopi. Wanita sepanjang hidupnya tercurah kepada aroma kopi yang selalu menguar semerbak pagi dan sore hari.

Bila senja samar-samar aroma kopi mulai menyebar menusuk hidung hingga aku ingin menikmatinya.
Wanita itu telah candu dengan kopi tak bisa berpaling. Bahkan biji kopi telah menjadi emas dan berlian dan mampu melepaskan si jantung hati menjadi orang yang terpandang dan berkedudukan.

Engkau tahu wanita itu sangat gigih sepanjang hidupnya bahkan setiap inci tulang-tulang di tubuhnya begitu mendamba kopi. Sehingga dia mendapatkan mahkota itu. Si pecinta kopi yang tak pernah lepas dari tubuhnya aroma yang memabukkan dan menyegarkan.

Wanita beraroma kopi hidup hampir seratus tahun, dan kau tahu di penghujung hidupnya aroma kopi setia mengelilinginya. Wanita yang cantik dan perkasa. Wanita itu telah lama tiada kini aroma kopi merana.

Akankah ada yang setia seperti wanita beraroma kopi itu? Hingga kini masih berwujud pertanyaan. Ingin kukembali nanti aroma kopi yang sama masih setia menugguku.

Kerapkali mereka memanggilku
Aku hanya bisa melambaikan tangan
Aku hanya bisa menyapanya lewat dupa- dupa di setiap waktu.

Kenangan bersama dengan wanita beraroma kopi selalu bergelayut bersama dengan jalan hidup. Sungguh kenangan terindah di sepanjang hidup. Aroma kopi yang telah memanusiakan manusia. Setia menemani hidupku.

Bekasi, 19 September 2020

Sudah ditulis di Kaskus

 

Menulis ke-21

Tentang Penulis: Lesterina Purba

Gambar Gravatar
Lesterina Purba berprofesi sebagai guru. Hobinya membaca yang memberi banyak inspirasi dalam kegiatan menulis aneka karya mulai dari puisi, artikel , pun literasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed