oleh

Oase Hari Ke 29 Ramadhan “LUPAKANLAH KEBURUKAN ORANG LAIN”

-Humaniora, Ramadhan-Telah Dibaca : 92 Orang

Hari hari Ramadhan terasa begitu cepat berlalu, tiada terasa kita telah berada di penghujungnya. Pastinya Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Tidak ada lagi hari dimana tidur orang berpuasa bernilai ibadah, segala amal kebaikan dibalas tiada batas, pintu rahmat dan ampunan Allahpun terbuka luas. Diapun pergi dengan segala kemuliaannya.

Nabi dan para sahabat mengencangkan ikat pinggang untuk bersungguh sungguh menguatkan ibadahnya ketika Ramadhan di ambang batas. Tabiin, tabiit tabiin, ulama ulama salaf dan orang orang shalih terdahulu menangis dengan perasaan sedih dan cemas kalau kalau puasanya tiada terbalas.

Akhir akhir Ramadhan di isi dengan ibadah penuh khidmat, melupakan segala nikmat dunia. Bersimpuh air mata, berdoa memohon ampunan atas segala salah dan dosa. Meningkatkan segala amal kebaikan jauh melebihi hari hari di luar Ramadhan.

Beda dengan kita, jika Ramadhan di ambang batas, lalu lintas di jalan jalan merayap, mall, toko dan pusat perbelanjaan menjadi padat, rumah rumah berganti cat, baju baru dan berbagai makanan enak telah siap.

Akhir akhir Ramadhan kesibukan dunia kita semakin padat, sholat tarawih dan tilawatil Qur’an pun tersendat. Sibuk berbelanja pakaian baru, berbagai kue dan jajanan sedap, untuk disiapkan saat Hari Raya Idul Fitri hingga lebaran ketupat.

Bergembira ketika hari lebaran tiba, sangat dianjurkan oleh agama, akan tetapi kesedihan dan kecemasan karena berpisah dengan Ramadhan harusnya kita rasakan. Karena kita tidak pernah tahu apakah kita bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang.

Jika orang orang sholeh terdahulu, semakin dekat ambang batas Ramadhan, semakin memuncak kesedihanya, semakin cemas pikirannya, semakin kuat ibadah dan munajatnya. Mengapa demikian..?. Perginya Ramadhan berarti pergi pula segala keutamaan, pergi pula berbagai keberkahan, pergi pula kemuliaanya, datangnyapun satu tahun kemudian. Entah bisa bertemu atau tidak, tidak seorangpun yang mengetahuinya.

Tanpa kita sadari, Ramadhan telah membuat beribadah terasa ringan, sholat tarawih selama malam ramadhan bisa kita kerjakan, baca Qur’an siang dan malam semarak kita dengarkan. Keutamaan ini, takkan pernah kita temui dibulan selain Ramadhan, sebab dibulan inilah syaitan dibelenggu, pintu pintu surga terbuka lebar, balasan amal kebaikan tiada batas, itulah kemuliaan Ramadhan.

Kini, sebentar lagi dia akan meninggalkan kita, berpisah mungkin untuk selamanya. Kita memang tidak bisa bersedih dan menangis layaknya para sahabat dan orang orang sholeh. Namun selayaknya kita perlu khawatir apakah kita mendapat ampunan atau tidak.

Karena tidak ada seorangpun yang dapat menjamin apakah amal yang kita kerjakan selama Ramadhan di terima Allah atau tidak ?. Patut kita renungkan, peringatan Rasul Muhammad SAW melalui hadist yang di riwayatkan oleh Imam Hakim dan Imam Thabrani “Celakalah seorang yang memasuki Ramadhan namun dia tidak mendapatkan ampunan”.

Wajarlah jika orang orang sholeh menangis ketika Ramadhan pergi, mereka sangat cemas dengan peringatan Rasul tersebut. Sebab itu, akhir akhir Ramadhan mereka disibukkan dengan beribadah dan berdo’a memohon ampun sepanjang malam dan siang hari bahkan hingga enam bulan setelah Ramadhan berlalu, baru kemudian mereka berdo’a memohon agar dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Sebagai manusia biasa, yang tidak pernah lepas dari salah dan dosa, tidak bisa beribadah sekuat para sahabat, tidak bisa menangis selayaknya orang orang sholeh. Paling tidak, dipenghujung Ramadhan ini, kita berusaha melupakan kesalahan orang lain dan menutupi segala keburukan serta memaafkannya. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain menjadi sebab ampunan Allah SWT terhadap dosa dan kesalahan kita.

Melupakan kesalahan dan menutupi aib orang lain sangat penting bagi kita, karena dengan itu, Allah menjamin akan menutupi aib kita kelak di hari kiamat. Barang siapa yang bisa menutupi orang laian maka Allah akan menutupi aibnya. Seperti Sabda Rasulullah SAW “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain, melainkan Allah akan menutupi aibnya kelak di hari kiamat”. (HR. Imam Muslim).

Dalam hidup dan kehidupan ini, kita selalu berinterkasi dengan orang lain, baik dengan ucapan, perbuatan maupun sikap. Semua ucapan, perbuatan dan sikap yang kita lakukan tidak luput dari salah dan khilaf, sehingga membuat orang lain tersakiti atau tersinggung.

Untuk itu, agar hubungan baik kita dengan orang lain tetap terjaga, ada dua hal yang harus kita lupakan yaitu “Lupakanlah Keburukan Orang Lain dan Lupakanlah Kebaikan Diri Sendiri”.

Melupakan keburukan orang lain, hidup menjadi tenang, pikiran positif akan berkembang,
prasangka buruk akan dijauhkan. Teman dan sahabat akan bertambah, Rizqipun semakin melimpah.

Demikian juga dengan melupakan kebaikan diri sendiri, menyebabkan orang rendah diri, tawaddu dalam hidupnya, selalu menghargai orang lain serta mawas diri dalam segala ucapan, perbuatan dan sikap hingga membuatnya hidup jadi beradab.

Semoga Bermanfaat….
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Semoga Puasa Kita Diterima Oleh Allah SWT
Aamiin Ya Rabbal’alamiin

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed