oleh

Oase Ramadan Hari Ke 22 “ Tradisi Maleman Pada Malam Kemuliaan”

-Terbaru-Telah Dibaca : 216 Orang


“Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadr, yaitu malam yang penuh berkah, malam dijelaskan atau ditetapkannya segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS:Ad Dukhan :3)

Maleman adalah tradisi perayaan malam malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan sebagai bentuk kegiatan menyambut datangnya malam lailatul qadr. Kegiatan ini di isi dengan berbagai kegiatan, baik yang diadakan oleh orang tua, pemuda, remaja hingga anak anak.

Orang tua, pemuda dan remaja yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, biasanya mengisinya dengan khataman qur’an. Kegiatannya dimulai sejak pagi hari hingga menjelang berbuka puasa. Kegiatan ini diadakan di masjid maupun di mushalla sekitar tempat tinggal, mulai dari tanggal 20 Ramadhan hingga 28 Ramadhan.

Ibu ibu di rumah menyiapkan hidangan yang akan dibawa ke masjid atau mushalla tempat diadakannya kegiatan. Hidangan tersebut digunakan untuk berbuka puasa secara berjamaah, dihadiri oleh seluruh jamaah Masjid atau jamaah Mushalla tempat diadakannya khataman Al-Qur’an.

Bagi anak anak di kampung halaman saya, kegiatan Malemen dilakukan selepas sholat Magrib dengan sebuah permainan tradisional “Curi Obor Sate Tusuk”.

Obor Sate Tusuk terbuat dari buah jarak yang sudah dikeringkan, dicampur dengan sisa perasan buah kelapa kemudian dibuat seperti sate tusuk. karena itu, dinamakan Obor Sate Tusuk.

Pada malam malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, anak anak menyalakan obor sate tusuk, kemudian dipasang disetiap sudut rumah sekitar pekarangan mereka.

Anak anak dari dusun lainnya, mengintip dari kejauhan, menunggu kelalaian pemilik untuk diambil ketika sang pemilik tidak menjaganya atau pergi memasang disudut lainnya. Anak anak yang kebetulan melihat ada yang mengambil berteriaak dengan mengatakan maleeeng….. maleeeng. Demikian seterusnya dilakukan secara bergantian di masing masing kampung sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Itulah Tradisi Permainan Curi Obor Sate Tusuk.

Menurut penuturan orang tua dan tokoh masyarakat, permainan ini telah dilakukan secara turun temurun dan sudah menjadi tradisi pada setiap malam ganjil di bulan Ramadan. Pembagian jadwalnyapun, masing masing dusun telah ditentukan sejak berdirinya desa. Jadwal untuk masing masing dusun disesuaikan dengan jumlah dusunnya.

Karena malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan jumlah 5, jika dusun jumlahnya 10, maka jadwal perayaan Tradisi Maleman pada setiap malam ganjilnya dilakukan oleh dua dusun.

Tradisi Maleman ini dilaksanakan sebagai sarana saling mengingatkan antara seluruh warga, bahwa pada malam malam tersebut adalah malam diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia agar selamat di dunia maupun di akhirat.

Untuk itu, setiap warga masyarakat yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, di anjurkan untuk bersama sama mengadakan khataman Al-Qur’an dalam rangka menyambut datangnya malam kemuliaan, dengan harapan mendapatkan ganjaran kebaikan yang lebih baik dari seribu bulan.

Sedangkan Tradisi permainan “Curi Obor Sate Tusuk” yang dilakukan oleh anak anak merupakan simbol untuk menjaga rumah dari berbagai kejahatan dengan memberikan penerangan pada setiap sudut rumah dan sekitar pekarangan mereka menggunakan obor menyerupai sate tusuk.

Cahaya yang terpancarkan dari Obor Sate Tusuk ditancapkan dimasing masing sudut rumah melambangkan cahaya keberkahan Al Qur’an yang permulaannya diturunkan pada bulan suci Ramadhan.

Untuk dapat menjaga rumah dari segala kejahatan, setiap rumah membutuhkan penerangan baik penerangan secara lahiriah maupun rohaniah. Penerangan secara lahiriah digambarkan oleh cahaya yang berasal dari cahaya Obor Sate Tusuk.

Penjagaan rumah secara baik, membutuhkan cahaya yang cukup terutama saat malam hari, sehingga ketika ada orang yang ingin berbuat jahat, dengan adanya cahaya yang mencukupi dimasing masing sudut rumah, maka orang tersebut mengurungkan niat jahatnya.

Untuk itu, setiap rumah hendaknya dihiasi dengan cahaya kebenaran yang bersumber dari Al Qur’an.

Cahaya api di malam hari dari nyala Obor Sate Tusuk merupakan symbol untuk membiasakan anak agar selalu berbuat baik terhadap orang lain. Nyala Obor Sate Tusuk, sebagai motivasi agar anak anak sejak dini mempunyai semangat yang berkobar untuk berbuat kebaikan, seperti kemuliaan pada malam Lailatul Qadr pada malam malam ganjil di bulan Ramadan, demikian penjelasan dari para orang tua dan tokoh agama di kampung saya.

Sementara menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menjelaskan bahwa Qadr dapat dimaknai menjadi tiga bagian. Pertama, Qadr yang berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah terhadap perjalanan hidup manusia. Dikuatkan oleh QS. Ad Dukhan ayat 3.

Ada ulama yang memahami bahwa penetapan itu berlaku dalam batas satu tahun. Al Qur’an yang diturunkan pada malam lailatul qadr diartikan, bahwa Allah mengatur dan menetapkan strategi bagi Nabinya Muhammad SAW, untuk mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik secara individu maupun kelompok.

Kedua, Qadr berarti kemuliaan, malam tersebut adalah malam paling mulia. Mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al Qur’an dan menjadi titik tolak dari segala kemulian yang dapat diraih.

Ketiga, Qadr yang berarti sempit, malam tersebut adalah malam yang sempit dikarenakan pada malam ini semua malaikat turun kebumi mengiringi malaikat Jibril untuk mengatur segala urusan. Kata sempit menurutnya dapat dilihat pada surat Ar Ra’du ayat 26 “Allah melapangkan rizqi bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya”
Tradisi Maleman dalam rangka mengisi malam malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dengan bersama sama mengadakan khataman Qur’an, kemudian menyediakan hidangan untuk berbuka puasa bersama di Masjid atau Mushalla, dapat menjadikan puasa kita dan amal kebaikan lainnya sebagai jalan mendapat Malam Kemuliaan, Malam Penetapan perjalanan hidup manusia dan Malam sempit karena dipenuhi oleh para malaikat yang mengiringi Jibril untuk mengatur semua urusan. Aamiin.
Semoga Bermanfaat….
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Semoga Puasa Kita Diterima Oleh Allah SWT
Aamiin Ya Rabbal’alamiin

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar

News Feed