oleh

Bukan Begitu Namanya Menolong

-Edukasi, Humaniora-Telah Dibaca : 306 Orang

PERNAHKAH kita mendengar teman-teman kita sesama guru, atau bukan teman kita tapi dia memang guru dengan alasan sayang dan kasihan kepada anak-didiknya lalu dalam ujian dibantunya. Bahasanya membantu anak atau siswa. Tapi caranya dengan menunjukkan jawaban alias membocorkan kunci jawaban soal ujian. Pernah mendengar?

Bersyukurlah jika tidak pernah mendengar itu. Artinya kita tidak tahu kalau ada guru yang karena alasan saying, konon ikhlas membocorkan soal ujian dengan memberikan kunci jawaban atau menunjukkan jawaban soal kepada siswanya. Lazimnya kasus seperti itu terjadi dalam ujian akhir sekolah seperti Ujian Nasional, misalnya. Sekali lagi, bersyukurlah jika tidak pernah mendengarnya. Dan bersyukur juga jika pernah mendengar tapi tidak pernah melihat langsung seorang guru memberikan jawaban untuk soal-soal ujian. Mungkin sedikit jengkel mendengarnya tapi tidak sampai marah karena tidak melihatnya juga. Mungkin dianggap itu hanya isu belaka.

Tapi bagaimana jika kita pernah melihatnya? Bahkan (maaf) kita pernah melakukannya, bagaimana perasaan kita? Tenangkah perasaan kita? Tentu saja kalau ‘perasaan’ yang dipakai mengukurnya, maka itu biasa-biasa saja. Sebagai guru kita mungkin merasa sayang, ya perasaan sayang yang ada di hati kita, mungkin membuat kita melakukannya. Melakukan ‘bagai-bagi kunci jawaban’ saat ujian berlangsung. Karena dorongan perasaan pula tindakan jelek itu terlakukan.

Lebih lanjut, jika kita melihatnya tapi tidak pernah melakukannya, bahkan benci dengan sikap teman-teman kita yang melakukannya, bagaimana? Bagaimana kita memandangnya? Inilah salah satu perang antara perasaan dengan pikiran yang boleh jadi pernah kita alami sebagai guru. Perasaan mengantarkan kita untuk sedikit longgar atau bertoleransi dalam mengawas ujian atau mengelola pembelajaran. Tapi oleh pikiran boleh jadi menentangnya. Pikiran akan mengatakan itu adalah sebuah pelanggaran. Membocorkan ujian adalah pelanggaran moral bahkan bisa pidana. Biasanya memang akan bertolak belakang antara perasaan dan pikiran.

Haruskah situasi seperti itu dibiarkan perasaan yang menilai dan memutuskannya? Jangan. Sebaik-baiknya jangan gunakan perasaan. Perasaan pasti saja akan subyektif dan bertindak terkasang di luar nalar. Maka sebaiknya menggunakan pikiran. Pikiran akan menggunakan logika dan pastikan akan mengikuti aturan yang berlaku.

Kalau boleh bersikap, terlepas dari perasaan sayang kepada siswa, sejatinya membocorkan ujian itu tidaklah baik. Ada banyak cara untuk menolong siswa jika memang niatnya menolong atau membantu. Bukan dengan memberikan kunci jawaban dalam ujian, tentu. Kalau itu yang dilakukan, namanya bukan menolong, tapi menggolong (menggulung) siswa ke arah keburukan. Bisa berujung kejahatan jika pelanggaran –yang duanggaap kecil– ini dilakukan terus-menerus.

Kata peribaha, pekerjaan yang terus-menerus itu dapat diungkapkan dengan peribahasa, “Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa dan sudah tua terubah tiada.” Mulai-mula biasa-biasa saja. Lama menjadi terbiasa dan tidak akan mudah kelak mengubahnya. Pada saat inilah biasanya perbuatan buruk yang tadinya dianggap kecil menjadi besar dan terperangkap untuk terus melakukannya. Bisa pidana, kan? Kalau begitu janganlah menolong dengan jalan yang salah. Bimbing mereka. Ajar mereka dan insyaallah mereka akan mudah menjawab ujiannya.***

Komentar

Tinggalkan Balasan