oleh

Semangat Seorang Guru, Rasa Sakit Dibuat Bagai Tak Sakit

-Edukasi, Humaniora, Literasi-Telah Dibaca : 57 Orang

TIDAK ada yang menyangka kalau Ibu Hj. P (maaf saya cukup menyebut inisial saja untuk privasi belyau) sebenarnya baru saja mendapat musibah. Dia seorang guru agama di sebuah SMA Karimun. Tangan kanannya sedikit terkilir tersebab musibah itu. Jari kelingking. Kakinya yang sebelah kanan bagian lutut sedikit terkelupas kulitnya. Berdarah, mengenai baju warna putih yang diapakainya. Itu baju seragam pengurus PD (Pengurus Daerah) IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kabupaten Karimun yang memang harus dipakai saat itu. Dia aka nada tugas hari itu.

Motor Ibu Hj. P pagi Sabtu (11/06/2022) itu terserempet seorang bapak-bapak. Dia, sebelum ke Balai Haji, tempat kegiatan Halal Bihalal PD IPHI Kabupaten Karimun, dia pergi dulu ke sekolah. Sebagai seorang PNS dia merasa wajib minta izin ke Kepala Sekolah dan mengisi daftar hadir sebelum ke Balai Haji, tempat dia akan bertugas sebagai MC alias pembawa acara. Pada acara Halal Bihalal PD IPHI yang disejalankan dengan pelepasan JCH (Jamaah Calon Haji) Kabupaten, Ibu Hj. P bertugas sebagai pemandu acara setahun sekali itu. Karena itu pula dia memaksa diri datang ke Balai Haji meskipun baru saja mengalami musibah.

 

Selama dia melakonkan diri menjadi MC, itu seolah tidak ada apa-apa yang menimpa dirinya. Seolah tidak merasa sakit yang tengah dirasakannya. Dia tetap melekasanakan kewajibannya. Di hadapan para JCH dan pengurus PD IPHI serta undangan lainnya, Ibu Hj. P sukses melaksanakan tanggung jawabnya. Dia tidak grogi karena baru beberapa menit sebelumnya mendapat musibah jalan raya itu. Lagi pula, di ruangan itu juga ada Bupati Karimun, Dr. H. Aunur Rafiq dan Ketua DPRD Kabupaten Karimun, M. Yusuf Sirat bersama Kakankemenag Kabupaten Karimun, H. Jamzuri.

 

Singkat kisah, hari Ahad (12/06/2022) ini, para pengurus PD IPHI kebetulan mengunjungi Ibu Hj. Isnaini, salah seorang pengurus PD IPHI yang sudah beberapa pekan dalam keadaan sakit. Ketua PD IPHI Pak Haris Fadillah mengajak pengurus yang berkesempatan untuk mengunjungi Bu Hj. Isnaini ke rumahnya. Ada belasan orang yang sempat hadir. Selepas kunjungan inilah timbul ide salah seorang anggota pengurus untuk sekalian mengunjungi Ibu Hj. P yang kemarin, konon ceritanya mendapat musibah. Tapi hampir semua pengurus tidak tahu itu. Hanya beberapa orang saja yang tahu.

 

Ide mengunjungi Ibu Hj P pun terlaksana. Dia ada di rumah ketika ditelpon dari rumah Ibu Hj. Isnaini. Di sinilah detail musibah itu diulangceritakannya kepada kami yang hadir. Karena yang berkisah itu adalah yang punya badan maka lengkaplah kami mendapatkan kronologi ceritanya. Dari mulutnya langsung para pengurus yang hadir akhirnya memahami, betapa kemarin itu dia dalam posisi tidak sebagaimana mestinya. Baru saja mendapat musibah. Tangannya cedera –meskipun katanya ringan saja– dan kakinya yang sebelah kanan itu, ternyata tidaklah luka sederhana seperti yang dia ceritakan.

 

Melihat fotonya saja mungkin kita sangat sedih. Itu cukup parah sesungguhnya. Hanya saja, ketika dia menunaikan kewajibannya itu dia berpikir dan berharap semoga rasa sakit kaki dan tangannya ‘ditunda’ dulu oleh Allah. Padahal darah di lutut kakinya itu terus mengalir. Karena itu pula dia berusaha untuk tidak merasa sakit. Dan, katanya benar-benar tidak sakit. Rasanya seperti biasa saja. Begitulah yang dia rasakan. Boleh jadi, perinsipnya, sakit tak sakit dia buat serasa tidak sakit saja. Semua itu adalah bukti tanggung jawab yang dia emban.***

Dari ‘Ibu Hj. P Sakit Tak Sakit Dibuat Tak Sakit’ pada blog lainnya

Komentar

Tinggalkan Balasan