oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (26)

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Literasi, Novel-Telah Dibaca : 255 Orang

Meskipun kesulitan demi kesulitan dirasakan Jamel selaku Kepala Sekolah, dia tidak akan berputus asa. Inilah perjuangan, katanya dalam hatinya. Dia ingat pesan gurunya ketika masih di PGA dulu, bagaimana menghadapi kesulitan. Tidak boleh berputus asa. Gurunya, selain mengutip ayat alquran juga sering menggunakan peribahasa dalam memberi nasihat. Satu kalimat pernah disampaikan Pak Nasir, gurunya itu, “Sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan.” Itu pesan gurunya dengan mengutip makna ayat alquran. Di waktu lain gurunya itu mengutip sebuah peribahasa, “Kesulitan adalah titik pemisah antara keberhasilan dengan kegagalan.” Jamel ingin membuktikan kata-kata gurunya itu.

Setiap selesai upacara bendera Senin Pagi, Jamel mengadakan pertemuan guru dan TU (Tata Usaha) di Ruang Guru. Dia menyebut pertemuan itu sebagai pertemuan ‘Informasi dan Koreksi’. Maksudnya pertemuan dengan memanfaatkan waktu sisa jam pertama yang dipakai untuk upacara bendera, itu adalah untuk melaksanakan koordinasi dengan materi penyampaian informasi-informasi baru untuk satu pekan ke depan sekaligus mengingatkan atau mengoreksi temuan kekeliruan satu pekan yang sudah ditinggalkan. Kesalahan-kesalahan itu diingatkan untuk diperbaiki ke depannya. Itulah fungsi pertemuan minguuan itu.

Pertemuan rutin ini merupakan cara Jamel untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dalam sepekan. Dengan itu pula Jamel berharap berbagai kesulitan yang dia rasakan dalam mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah dapat dikurangi atau dihilangkan. Arus informasi yang terjadi dalam pertemuan ini lebih banyak dari Kepala Sekolah atau wakilnya. Karena bukan rapat resmi, di sini tidak ada diskusi untuk membuat keputusan. Setiap keputusan akan dibicarakan dalam rapat resmi, rapat bulanan.

Jika informasi-informasi yang disampaikan dalam pertemuan mingguan ini kurang efektif, terutama informasi yang bersifat pembinaan secaa umum maka pembinaannya akan diteruskan pada kesempatan selanjutnya. Apakah dalam pertemuan mingguan ke depan atau dalam pertemuan khusus antara Kepala Sekolah dengan guru tertentu, itu tergantung kebutuhannya. Sebagai Kepala Sekolah Jamel bisa saja melanjutkannya di ruang Kepala Sekolah jika itu dianggap perlu. Intinya, pertemuan ingguan sesudah upacara bendera adalah salah satu cara oleh Jamel untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dalam pengelolaan sekolah yang diembannya.

Sekali waktu, Jamel sudah mengingatkan dalam satu pertemuan bahwa perangkat pembelajaran harus sudah terkumpul sejak minggu sebelumnya. Namun dalam laporan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum ternyata masih ada beberapa orang yang belum mengumpulkannya. Jamel sudah meminta wakilnya itu menyampaikan dalam pertemuan Informasi dan Koreksi. Setelah berlalu seminggu lagi, ternyata guru itu belum juga mengumpulkannya. Dan sudah pula dipanggil oleh Bidang Kurikulum. Maka hari Selasa minggu selanjutnya Jamel meminta guru tersebut masuk ke ruangnya.

“Mengapa perangkatnya belum dikumpulkan, Pak?” Jamel menanyakan langsung ketika guru itu sudah berada di depannya. “Mungkin banyak kegiatan?”

“Iya, maaf, Pak. Saya kebetulan memang belum. Bulan-bulan kemarin ada pekerjaan, Pak. Pulang sekolah saya kebetulan ada pekerjaan. Orang tua minta bantu memperbaiki rumah tua itu. Atapnya kebetulan diganti sebagian.”

“Hmm, tapi sudah dikerjakan?”

“Sudah, Pak. Tinggal memindahkannya saja lagi. Insyaallah minggu ini selesai, Pak.” Guru yang terkenal selalu lambat mengumpulkan perangkat pembelajaran itu memberikan alasan. “Maaf, Pak,” katanya menambahkan.

“Saya harapkan segera, ya. Sekolah kita mau akreditasi. Baik. Silakan,” Jamel mempersilakan guru itu keluar ruangannya. Jamel tetap tersenyum dan menampilkan wajah bersahabat dengan guru Sosiologi itu. Para guru juga tahu kalau Kepala Sekolah ini memang rada lembut tapi tetap tegas.*** (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan