oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (36)

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Literasi, Novel-Telah Dibaca : 156 Orang

Hari masih pagi. Udara di luar terasa lembut. Waktu menunjukkan pukul 06.45. Jamel sudah sampai di sekolah. Menggunakan scutter merah yang dibeli ketika masih di Moro dia bukan orang pertama datang pagi itu. Sudah ada dua atau tiga orang guru lainnya. Jamel berjalan berkeliling sekolah setelah memarkir vespanya. Melihat-lihat pekarangan sekolah tampak asri dengan tetumbuhan bunga. Sudah hampir satu bulan saya di sekolah baru ini, katanya dalam hati sambil menukmati taman di depan labor itu. Lalu kembali ke ruangnya setelah sebagian besar pekarangan dijalaninya.

Apel Upacara Senin Pagi, ini adalah upacara kedua kali Jamel bersama keluarga besar SMA Negeri 2 Karimun. Pembina upacara hari ini adalah Alta, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Pelaksana upcara dari kelas II. Jamel belum hafal, itu kelas II berapa. Upacaranya sendiri berjalan dengan baik dan khidmat. Sama seperti upcara sebelumnya. Jamel menyukai kenyataan itu. Sekolah ini sudah berbudaya disiplin, cetusnya dalam hati. Dan selepas upacara kembali dia mengumpulkan semua guru dan pegawai TU. Pertemuan mingguan kedua sudah dilakukannya.

“Pertemuan ini kita beri nama pertemuan Informasi dan Koreksi,” katanya setelah memulai dengan salam secara Islami. “Ya, pertemuan Informasi dan Koreksi, namanya,” katanya sekali lagi. Jamel ingin istilah itu menjadi istilah yang populer di sekolah ini. Dia ingin pertemuan mingguan itu tetap dilakukan walaupun waktunya singkat. Lazimnya, sisa waktu menjelang dimulainya proses pembelajaran jam awal setelah apel ada sekitar 10-15 menit. Sayang kalau waktu itu tidak dipakai. Begitu dia berperinsip.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu semua, saya ingin memastikan bahwa pertemuan kita ini akan menjadi salah satu budaya di sekolah kita. Di luar rapat bulanan yang akan rutin kita lakukan setiap tanggal lima atau di sekitar itu, maka pertemuan ini juga akan menjadi semacam rapat rutin tidak resmi.” Jamel menjelaskan apa dan bagaimana pertemuan rutin setiap minggu itu dan apa yang akan menjadi agendanya.

“Pada pertemuan ini kita tidak akan membuat keputusan. Pada pertemuan ini kita mengisinya lebih kepada penyampaian informasi sekaligus koreksi jika ada yang tidak pas. Informasi adalah hal-hal yang akan datang, seminggu ke depan. Sedangkan koreksi maksudnya jika ada hal-hal yang kurang atau tidak tepat dalam satu minggu yang lalu. Inilah waktu kita mengoreksinya. Misalnya, data keterlambatan guru, jika itu tidak jelas alasannya, kita akan minta untuk diperbaiki ke depannya.” Jamel tampak bersemangat berbicara di depan guru-guru yang tentu saja masih baru baginya.

“Itulah makna koreksi yang kita inginkan dalam pertemuan ini,” jelasnya menambahkan kalimat-kalimat sebelumya. Panjang lebar Jamel memberikan penjelasan pada pertemuan kali ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 08.15 pertemuan pun diakhiri untuk memulai pelajaran pertama setelah apel. Ini artinya jam pelajaran sudah pada jam pelajaran kedua karena setiap Senin jam pertamanya diisi dengan Apel Bendera.

Para guru yang mempunyai jam mengajar langsung berdiri dan keluar Majelis Guru untuk menuju ke kelas masing-masing. Sedangkan pegawai TU juga berdiri untuk masuk ke ruang TU. Jamel sendiri msih duduk di kursi bagian depan Ruang Majelis Guru. Di depan itu memang ada meja panjang yang dialas plastik dan terdapat lima kursi. kelima itu adalah para Wakil Kepala Sekolah yang berempat dan satu orang Kepala Sekolah.*** (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan