oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (43)

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Novel-Telah Dibaca : 167 Orang

Ada satu kebiasaan Jamel yang positif. Bagus untuk dicontoh jika ada kemampuan di situ. Itulah mengajar mengaji (mengajarkan membaca alquran) di mana saja dia bertempat tinggal. Baik di Tanjungbatu, ketika pertama kali menjadi PNS, 1984-1985-an atau di Moro, ketika pertama kali juga dipercaya memimpin sekolah –meski baru status wakil Kepala Sekolah Pembina, waktu awal itu– sekitar tahun 1994-an dan atau di Tanjungbalai Karimun, tahun 2002 saat dia pertama kali pula dimutasi ke ibu kota kabupaten, Tanjungbalai Karimun.

Periode 1985 hingga 2002 awal mutasi menjelang 2004 awal, ketika  pindah rumah ke Wonosari, Meral dia juga masih mempertahankan kebiasaan mengajarkan membaca alquran kepada anak-anak tetangga atau siapa saja. Itu kebiasaan yang bagus. “Saya suka Pak Jamel karena dia selalu ada waktu untuk mengajar anak-anak mengaji,” kata seorang tetangga Jamel di Bukit Senang.

Ternyata ada teman-teman yang mengamati kebiasaan ini. Perhatian teman ini dicatat oleh Jamel dalam memorinya. “Itu menjadi salah satu catatan saya dalam rangkaian catatan panjang tentang tugas-tugas kemassyarakatan.” Itu catatan Jamel dalam buku diarinya setelah mendapat pujian dari tetangganya itu. Dia menulis satu catatan berjudul, ‘Dalam Kekurangan Aku Melakukan’. Maksudnya bahwa dalam serba kekurangan yang dia alamai dalam hidup, tapi berusaha untuk terus berbuat baik. Itulah pemberian yang bisa dia lakukan.

Temannya yang diam-diam memperhatiannya itu, adalah Supriadi, tetangganya di Kampung Melayu itu. Supriadi pernah mengatakan begini, “Pak Jamel, satu hal yang saya kagumi dari Bapak adalah bahwa di setiap tempat Bapak tinggal, Bapak selalu mengajar mengaji. Anak-anak tetangga disamping anak sendiri selalu ada kesempatan mengaji bersama Bapak.”

“Mumpung ada waktu, Di. Inilah yang dapat saya berikan. Duit kita tidak berlebih, kan?” Jamel terkejut juga sekaligus haru diperhatikan begitu oleh temannya itu. Kata Supriadi lagi, dia juga mendapat informasi dari orang lain ketika bertempat tinggal di tempat lain, juga selalu mempunyai murid mengaji. “Benar, kan Pak kalau dimana-mana Bapak selalu menjadi guru mengaji anak-anak?”

“Iya. Itu juga karena memang masih ada waktunya. Selepas magrib menjelang isya, kita bisa memakainya untuk mengaji. Untuk diri sendiri sekaligus bisa membantu anak-anak yang belum bisa membaca atau memahami alquran.”

Ketika pindah ke rumah di Wonosari, rumah pertama dan pertama kali berumah sendiri selama di Kepulauan Riau ini, sejak 1985 Jamel Jamel pun menjadi guru. Tentang membangun rumah, Jamel memang tidak memaksakan membangun rumah di ‘rantau orang’ karena waktu itu masih berpikir untuk kembali ke Pekanbaru jika bisa mutasi kerja. Itu jua sebabnya Jamel membangun rumah di Ibu Kota Riau, Pekanbaru sebagai antisipasi jika dia benar-benar pindah, ‘pulang kampung’ ke Riau atau Pekanbaru. Tapi mutasi itu tidak pernah terjadi. Jamel berpindah tugas hanya di sekitar pulau-pulau di Kabupaten Karimun saja.

Sesungguhnya kebiasaan Jamel menjadi guru mengaji, sudah dilakukan sejak lama, ketika awal dia menjadi mahasiswa di Pekanbaru  tahun 1978 itu. Bahkan boleh jadi kebiasaan ini adalah kelanjutan kebiasaan Jamel sejak awal remaja, ketika awal dia bermastautin di Pekanbaru  tahun 1976. Menurut Jamel, saat dia bertempat tinggal masih di kampung kelahiran, Kabun Airtiris, Kampar Jamel pun mengajar mengaji di surau kampung.

Kebetulan ketika di kampung, dalam usia menjelang remaja atau belum remaja Jamel sudah menjadi guru mengaji adik-adik yang lebih kecil dari pada dirinya yang masih belajar muqaddam.  Waktu itu ada peraturan tidak tertulis di surau, bahwa bagi siapa saja yang sudah khatam alquran dan mampu mengajar anak-anak kecil yang masih muqoddam, maka dia wajib menjadi guru. Tentu saja guru tanpa bayaran alias suka rela saja.

jamel sendiri, dalam usia menjelang remaja, pasca tamat SD dan melanjutkan pendidikan di PGA-P Rumbio saat itu sudah mampu membaca alquran dengan baik. Maka sesuai tradisi itu tadi harus mengajar adik-adik (usia SD) yang masih belajar awal alquran. Itulah mungkin awal Jamel menjadi guru mengaji.

Seingatnya waktu di kampung itu, karena Jamel dan beberapa teman sebaya sudah lancar membaca alquran dan sudah masuk kelompok pembaca lanjutan dengan pelajaran membaca alquran tingkat seni baca alquran waktu itu maka Jamel otomatis membantu teman-teman yang belum lancar membaca alquran. Itulah pengalaman menjadi guru di surau dan itu adalah pengalaman awal menjadi guru dalam kehidupan Jamel. Dan ketika sudah remaja Jamel meneruskan mengajar di surau. Ketika dia sudah belajar di PGA, milsanya Jamel terus melakoni peran sebagai guru mengaji. Termauk ketika dia melanjutkan pendidikan di Pekanbaru, di PGAA atau kuliah di Unri. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan