oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (44)

-KMAB, Literasi-Telah Dibaca : 202 Orang
Tentang kebiasaan Jamel mengajar mengaji di kampungnya, nun di desa Kabun, dulu itu tetap dia lanjutkan di Pekanbaru. Ketika dia masuk Pekanbaru karena melanjutkan pendidikan ke PGA 6 tahun setelah menamatkan PGA 4 tahun di Desa Rumbio pada tahun 1975 dia tetap menjadikan kemampuan mengaji (membaca alquran) sebagai kebiasaan bahkan mulai menjadi topangan hidupnya. Jamel menjadi gharim atau noje di masjid adalah dengan andalan sedikit-banyak karena kemampuan mengajinya. Suaranya juga tidak jelek-jelek sangat. Azannya masih dianggap memadai untuk memanggil jamaah waktu solat. Bahkan ketika sudah menajdi mahasiswa Jamel pun mengajar mengaji anak-anak salah seorang dosen FKIP.
“Saya diminta mengajar mengaji anak-anak Ibu Nurmi Khatim, SH. Setiap habis magrib saya ke rumahnya,” kata Jamel kepada temannya.

Kurang lebih tujuh atau delapan tahun dia hidup di Pekanbaru (dua tahun di PGA dan lima tahun lebih) di Universitas Riau, selama itu pula Jamel tidak pernah meninggalkan tradisi mengaji dan mengajarkannya sekaligus kepada orang lain yang ada di sekitar dia bertempat tinggal. Pada awal di Pekanbaru, Jamel menumpang tinggal di rumah abang seayahnya, Bakaruddin yang waktu itu menjadi guru di Pekanbaru. “Kau tinggal di rumah Cu Bakar aja, ya?” Itu kata ayahnya saat awal Jamel diantarkan ke Pekanbary.

Hanya beberapa bulan saja dia rumah saudaranya, lalu dia hidup belajar mandiri dengan tinggal di masjid. Waktu itu, tahun 1975 hingga tahun 1976) dia membantu Thabrani yang saat itu menjadi gharim di masjid  yang ada di Jalan Kenanga, Pekanbaru. Bakaruddin mengizinkan adik seayahnya itu belajar hidup mandiri dengan tinggal di masjid Al-Azhar itu. Dan hanya beberapa bulan bersama sahabat ini, sampai akhirnya Jamel pindah ke surau Senapelan, Jalan Riau, Padang Terubuk bersama seorang temannya yang lain yang kebetulan namanya sama dengannya, Jamel. Jamel ini sebenarnya yang menjadi gharim resmi dan mendapat honor dari pengurus surau itu. Jamel sendiri hanya membantu teman senamanya itu sekaligus menumpang tempat tinggal sambil sekolah.

Beberapa bulan di surau ini, akhirnya Jamel mendapatkan masjid sendiri di Jalan Mangga, Sukajadi. Itulah Masjid Alkhairat, masjid yang menjadi awal Jamel mandiri sekaligus masjid yang mengakhiri status menumpang yang selama ini melekat padanya sebagai gharim. Di sinilah Jamel digaji (diberi honor) atas tugasnya menjadi gharim. Dan di sini pula Jamel merasakan kemandirian untuk mewujudkan harapan. Belajar dan mengajar mengaji semakin instensif dia lakukan karena akhirnya menjadi bagian penopang hidupnya selama menuntut ilmu di Pekanbaru. Bekerja sambil kuliah, itulah caranya.

Selepas kuliah pada tahun 1983 dan menjadi guru PNS pada tahun 1985 dengan tempat tugas ke Pulau Kundur, Tanjungbatu itu, tradisi menjadi guru mengaji tetap dia lakukan. “Ketika bujangan saya mengajar anak orang lain. Ketika saya sudah memiliki momongan, saya mengajar mengaji anak saya sendiri.” Begitulah, ketika Jamel ketika pindah ke Moro  beberapa tahun lalu itu dan pindah serta mulai hidup di Tanjungbalai Karimun karena dimutasi lagi, Jamel tetap meneruskan kebiasaan ini. Mengajar mengaji adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya*** (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan