oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (45)

-Edukasi, KMAB, Literasi, Novel-Telah Dibaca : 238 Orang
Petang itu Jamel duduk sendiri. Dia membaca catatan hariannya. Inilah pengalaman pertama saya menjadi pemimpin di sebuah sekolah. Walaupun di tahap awal dengan status ‘pejabat’ Kepala Sekolah saja begitu terasa baru bagi saya. Jamel berhenti membacanya sejenak. Satu sisi tentu senang dan bangga namun pada sisi lain tetaplah ada rasa khawatir dan rasa takut. Pengalaman baru dengan jabatan baru, itulah yang membawa perasaan khawatir itu. Sangat-sangat disadari bahwa di balik kehormatan yang diberikan, ada tanggung jawab berat yang dipikulkan. Itu hukum yang tidak bisa dielakkan. Jamel melanjutkan membacanya.

Setelah kurang lebih sembilan tahun mengabdi sebagai guru di SMA Negeri Tanjungbatu, sekolah yang dibangun di tengah kebun karet milik China di sekitar Batu-4 arah Sawang, itu kini Jamel diberi kepercayaan mewakili Kepala Sekolah dan memimpin sekolah baru di daerah baru Kecamatan Moro (Kepri). “Tidak saya sangka kalau saya akan dipercaya,” kata Jamel dalam hatinya.

Di Moro, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Moro Sulit (karena segalanya memang sulit) Jamel memimpin sekolah yang berdiri pada awalnya atas prakarsa masyarakat Kota Moro melalui Yayasan Pendidikan Moro (YPM). Sekolah ini didirikan dengann target kelak akan dinegerikan oleh Pemerintah. “Itu yang saya ketahui dari salah seorang pengurus Yayasan Pendidikan Moro setelah saya bertugas beberapa hari di Moro.” Begitu Jamel mencatat rapi dalam buku hariannya.

Jamel datang ke Moro bersama Kepala SMA Negeri Tanjungbatu, Kundur, Supardjo Suk, BA dan dihadiri juga oleh Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Riau, Drs. H. Abdul Rahman yang menugaskan Jamel mengelola sekolah baru ini. Jamel merasa haru dan bangga karena langsung diantarkan oleh Kepala Sekolah Induk (Pembina) dengan didampingi oleh orang tertinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan se-Kabupaten Kepulauan Riau, Abd. Rahman. Meskipun dia sudah ubanan namu ndia sangat energik.
 
“Mel, kau kelola sekolah ini dengan penuh semangat, ya? Tidak mudah tapi jangan selalu gundah. Ada sulit pasti ada mudah.” Pak Rahman memberikan semangat yang penuh kepada Jamel di awal datang ke Moro.
Tidak mudah mengelola sekolah baru ini. Apalagi, penunjukan tugas awal hanya sekadar mewakili Kepala Sekolah SMA Negeri Tanjungbatu sebagai sekolah pembina. Status SMA Moro sebagai kelas jauh, hanya ditunjuk guru sebagai perwakilan Kepala Sekjolah saja. Selama satu tahun Jamel berposisi sebagai Wakil Kepala Sekolah kelas jauh SMA Negeri Tanjungbatu di Moro.
Berdiri di atas tanah kebun, kurang lebih satu kilometer dari Pelabuhan Moro sekolah ini setahun berikutnya menjadi sekolah negeri dan Jamel dipercaya menjadi Kepala Sekolah. Benar, di awalnya baru sebagai pejabat dengan surat tugas dari Kakanwil Depdikbud Provinsi Riau. Tentu saja sekolah ini benar-benar baru segalanya bagi Jamel. Meski lokal awal ini dibangun semi permanen oleh YPM namun bangunan baru yang dibiayai oleh Pemerintah, sudah berupa bangunan permanen tapi berada di tengah kebun yang semula dimiliki seorang keturunan. Setahun berikutnya barulah hadir belasan guru negeri menggantikan guru honor waktu itu. Pelan tapi pasti, sekolah ini beroperasi dengan baik.
Dari tahun 1993 hingga 2002 Jamel berkutat dengan SMA ini. Sebagai sekolah baru dan pimpinan baru serta rekan-rekan guru baru juga, Jamel dan rekan-rekan guru itu berusaha bekerja keras untuk meletakkan dasar pengelolaan sekolah yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan. Tentu saja tidak mudah mengelola sekolah yang jauh dari akses komunikasi dari dan ke daerah lain itu. Urusan sekolah yang mengharuskan ke Kandepdikbud di Tanjungpinang atau ke Kanwil Depdikbud di Pekanbaru, terasa sekali betapa sangat jauhnya akses informasi itu. Waktu itu, sarana telpon juga belum semudah yang diharapkan. Jamel menelangsa jauh membayangkan kenangan itu.
Kurang lebih 8 tahun Jamel mengelola sekolah ini, selanjutnya oleh Pemerintah Kabupaten Karimun yang sudah menjadi kabupaten otonom sejak 1999, Jamel dimutasi ke Pulau Karimun. Tepatnya, ditugaskan sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Karimun. Terhitung sejak 2002 itu Jamel dimutasi secara resmi dari Moro ke Karimun. Ada guratan bahagia di wajah Jamel sore ini saat berulang-ulang membaca catatan hariannya selama di Moro.*** (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan