oleh

Pak Yatim, Penyuka Literasi Telah Pergi

HARI ini, Rabu (08/09/2021) adalah hari berduka bagi keluarga, saudara, para sahabat, handai-tolan dan semua orang yang mengenal Pak Yatim Mustafa. Bahkan sejak malamnya, Selasa (07/09/2021) sekitar pukul 21.50 saat Dr. H. Yatim Mustafa, MPd dinyatakan telah berpulang kerahmatullah para keluarga sudah berduka. Sosok lelaki berbadan tegap, guru yang pernah menjadi Kepala Sekolah dan Kepala Dinas di Provinsi Kepri adalah sosok yang sangat dikenal masyarakat. Tidak hanya di sekitar kediamannya, Kampung Bulang dan di Kota Tanjungpinang, bahkan namanya sudah terkenal di Provinsi Segantang Lada ini. Sebagai pejabat public, dia bahkan sudah punya nama secara Nasional.

Kepergian Pak Yatim Mustafa dalam usia 63 tahun pada hari Selasa malam, itu sangat mengejutkan teman-teman, karib-keluarga dan handai-tolan yang selama ini mengenalnya. Orang tahu kalau dia sehat-sehat saja. Di masa pensiunnya dia tetap berkegiatan karena dia merasa sehat. Tapi Allah menentukan ajalnya sudah sampai. Kematian memang tidak ditentukan oleh sakit atau usia tua. Kematian adalah garis pasti yang sudah ditetapkan Tuhan untuk setiap yang bernyawa. Jika ajal sudah sampai, maka kematian akan datang tanpa dapat ditunda atau dipercepat sedetikpun. Itu penegasan Tuhan.

Pak Yatim, orangnya mudah tersenyum dan ramah. Mudah bergaul dan disenangi teman-teman. Meskipun suaranya cukup keras saat berbicara dengan bawahan, itu lebih kepada ketegasannya dalam menyampaikan sesuatu. Innalilahi wainnailaihi rojiuun, Selamat Jalan, Sahabat kita, sahabat kami, guru kita, Pak Yatim Mustafa. Kita berdoa atas kepergiannya, semoga Allah menempatkannya pada tempat terbaik di sisi-Nya.

Selesai sudah perjalanan seorang Yatim, putra kelahiran Tanjungbatu, 28 Desember 1958. Begitu tulis seorang Kepala Sekolah yang masih keluarga dengan Pak Yatim, Memme di akun medsosnya. Memme menerangkan dalam status yang dibuatnya, mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri, ini meninggal di Tanjung Pinang, kota terakhir tempat Pak Yatim mengabdi sebagai abdi Negara. Catatan pengabdian Pak Yatim bermula dari seorang guru BP, lalu dipercaya menjadi Kepala Sekolah di Tarempa, SMA Negeri 2 dan 1 di Karimun serta sebagai Kepala SMA Negeri 2 Tanjungpinang.

Pak Yatim memimpin berturut-turut dua dinas di provinsi Kepri, Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan. Ketekunan dan kesungguhannya bekerja membuat dia dipercaya oleh Gubernur meneraju Dinas yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Saya mengenal Pak Yatim sejak tahun 2002 ketika saya menggantikan kursinya sebagai Kepala SMA Negeri 2 Karimun. Dia dimutasi ke SMA Negeri 1 Karimun sementara saya dimutasi dari SMA Negeri 1 Moro ke SMA Negeri 2 Karimun. Saya tahu, Pak Yatim juga suka menulis dan pernah menerbitkan minimal satu buku semasa dia masih berdinas. Satu buku yang saya tahu. Mungkin ada beberapa buku lainnya yang saya tidak atau belum tahu.

Ada catatan khusus yang selama ini saya catat dalam nama Pak Yatim. Nama Yatim tidak hanya sekadar namanya dengan nama lengkap Dr. H. Yatim Mustafa, MPd, anak dari Pak Madrus. Ternyata nama Yatim itu sering dia plesetkan sendiri dengan yatim dalam arti anak yang sudah tidak memiliki ayah karena sudah berpulang. Pak Yatim sering memplesetkan namanya sendiri untuk menyebut anaknya yang sudah menjadi anak yatim padahal bapaknya masih hidup. Selalu dia menyebut sebutan anak yatim untuk anaknya yang masih mempunyai bapak. Jika dia berpidato dan akan menyebut anak dan isteri, dia akan berseloroh menyebut anaknya yang sudah menjadi ‘anak yatim’ pada hal ayahnya masih hidup. Begitu dia berseloroh.

Terakhir dia mengulang kalimat itu pada 30 Agustus lalu. Hanya beberapa hari menjelang kepergiannya untuk selamanya. Seperti dikatakan Pak Raja Rahman, orang Tanjungbatu (sekampung dengan Pak Yatim) ketika bertemu di Tanjungpinang dia masih bergurau dengan namanya itu. Dia masih sempat mengatakan bahwa  anak-anaknya sudah menjadi anak yatim padahal orang tuanya masih hidup. Begitu dia mengatakan kepada Pak Raja Rahman saat bersemuka itu.

Kini, Pak Yatim benar-beanr meninggalkan anak-anaknya dengan sebutan anak yatim. Benar-benar anak yatim yang ditinggalkan oleh ayahnya. Syukurnya, anak-anak belyau sudah dewasa dan tidak lagi mengkhawatirkan kepergian orang tuanya. Kita yang masih diberi kesempatan hidup, mari mengucapkan Selamat Jalan kepada Pak Yatim yang mendahului kita. Kita doa dia husnul khotimah dan diampuni segala dosanya. Kelak Allah masukkan dia ke salam syurga.

Di akhir catatan ini, saya ingin bersaksi bahwa Pak Yatim juga menyukai liteasi. Ketika kami sama-sama menjadi Kepala Sekolah –di sekolah yang berbeda, tentunnya— di tahun-tahun 2002-2005 dan sesudahnya, kami selalu ada waktu untuk bersama dalam rapat-rapat tertentu. Juga dalam pelatihan Kepala Sekolah, misalnya. Saya tahu dia rajin menulis. Dia juga suka menciptakan lagu. Di sekolah yang dia pimpin, Pak Yatim selalu membuat lagu untuk dinyanyikan siswa dan warga sekolah. Artinya, dia memang penyuka dan praktisi literasi. Sekali lagi, selamat jalan, Pak Yatim.***

Tentang Penulis: M Rasyid Nur

Gambar Gravatar
Pendidik yang sudah bersara dari PNS. Setelahnya tetap melanjutkan fungsi sebagai pendidik. Insyaallah hingga hayat dijemput Kholiq.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed