oleh

Perjalanan Cinta Seorang Guru (46)

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Novel-Telah Dibaca : 122 Orang

Sebagai Kepala Sekolah baru, Jamel harus mampu menyesuaikan diri dengan teman-teman baru yang sudah duluan ada di SMA Negeri 2 Karimun. Para guru yang sebelumnya dipimpin oleh Yatim Mustafa, selanjutnya akan menjadi mitra kerja Jamel jumlahnya sangat banyak berbanding guru di SMA Negeri 1 Moro. Jamel tahu itu. Jamel harus belajar lagi menyesuaikan diri dengan sekolah baru ini.

Sesungguhnya pengalaman di Moro sebagai sekolah pertama yang dia pimpin, Jamel sudah belajar banyak. Di sinilah sesungguhnya Jamel belajar sesungguhnya. Delapan tahun lebih menjadi pengemudi, Jamel merasa itu sangat cukup sebagai bekal pengalaman. Kata Jamel,  memimpin sekolah itu ternyata tidak berbeda dengan memimpin diri sendiri. 

“Benar kata orang tua-tua kita bahwa sebenarnya yang tersulit dalam memimpin itu adalah memimpin diri kita sendiri.” Itu disampaikannya kepada isterinya di satu siang.

“Tapi sekolah ini jauh lebih besar, Bang. Muridnya jauh lebih banyak berbanding di Moro.” Tati selalu ikut memberikan pandangan kepada suaminya, saat-saat suaminya bercerita tentang sekolah. Kata isterinya, suaminya akan bisa memimpin sekolah baru itu. “Dimana ada kemauan, di situ ada jalan,” kata isterinya mengutip sebuah peribahasa.

“Benar kata, Ibu. Itu sekolah lumayan besar. Tapi kita harus percaya, kita bisa kalau belajar dan berusaha.” 

“Iya juga, Bang. Segala kesulitan dan tantangan dalam 8 tahun memimpin SMA Negeri 1 Moro, anggaplah itu sebagai belajar memimpin diri sendiri yang mungkin lebih sulit. Betul, kan?” Isterinya tersenyum seperti menggoda suaminya.

“Begitulah perinsip yang Abang pakai. Pokoknya, kalau isteri Abang terus bersama, insyaalllah Abang akan kuat mengelola sekolah itu.” Jamel meyakinkan dirinya bahwa kekhJika saya jujur kepada diri saya maka saya juga harus jujur dalam memimpin sekolah.

Kini dengan segera akan mendapat tugas baru di sekolah baru, SMA Negeri 2 Karimun maka perinsip yang harus saya pergunakan tetaplah perinsip yang sama. Saya akan sukses memimpin sekolah baru ini nanti jika saya terus berusaha untuk memimpin diri saya sendiri dengan baik juga. Jamel seperti berbicara sendiri kepada dirinya. Dia memang rada khawatir dengan amanah baru yang diberikan bupati, Muhammad Sani. Dia tidak ingin gagal dalam memimpin sekolah.

Suami isteri itu berdiri, setelah sebelumnya Jamel mencium kening isterinya. “Kita harus laksanakan tugas dengan sebaik yang mampu, Neng,” bisi Jamel kepada isterinya. Jamel menuju ke depan karena ada yang memanggilnya sementara Tati ke belakang.*** (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar