oleh

Selamat Jalan, Sahabat Adik Tingkat

-Berita, Edukasi, Literasi-Telah Dibaca : 89 Orang

INNALILLAHI wainna ilaihi rojiun, itulah kalimat yang saya ucapkan setelah membaca status teman, malam itu. Sebenarnya masih suasana peringatan HUT Kabupaten Karimun, Selasa (12/10/2021) kemarin itu. Sejatinya hati saya masih bergembira. Kabupaten Karimun, daerah saya tengah merayakan hari jadinya.

Setelah mengikuti apel pengibaran bendera dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Karimun, pada pagi hari, siang hingga malam, itu saya hanya membaca-baca info tentang milad kabupaten ‘berazam’ . Walaupun masih dirundung covid-19 tapi suasana perayaan Hari Jadi tetaplah sebagai suatu yang menggembirakan. Namun malamnya saya membaca berita duka melalui status salah seorang sahabat yang bermastautin di Pekanbaru. Fahrunnas MA Jabbar, sahabat saya itu menulis status tentang telah perginya Al-Azhar yang tidak lain adalah teman sekuliah, dulu di Unri (Universitas Riau) Pekanbaru. Memang tidak satu angkatan. Dia adik tingkat, tapi satu jurusan.

Menjelang ajalnya, dosen ini juga menjabat sebagai Ketua MKA (Majelis Kerapatan Adat) LAM (Lembaga Adat Melayu) Riau. Karena jabatan yang tinggi dan bergengsi, itulah kepergiannya menjadi buah bibir di kalangan petinggi provinsi. “Datuk Seri Al Azhar Meninggal Dunia, Ketua MKA LAM Riau berpulang kerahmatullah pada hari Selasa, 12 Oktober 2021 sekitar pukul 22:39 WIB.” Begitulah kira-kira isi status teman saya itu. Saya kaget karena saya tahu, Al-Azhar yang pernah bersama-sama dulu di Universitas Riau Pekanbaru pada tahun 80-an adalah teman akrab saya. Saya kenal sangat baik dengan belyau karena memang kebetulan sama-sama mengambil Jurusan Bahasa dan Seni di Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Unri. Bedanya saya duluan satu tahun.

Kabar berpulangnya tokoh masyarakat Riau itu beredar secara berantai di media sosial, termasuk disebarkan oleh sejumlah tokoh di Riau. Begitu isi berita media online malam itu. Bagi saya, Al-Azhar adalah seorang mahasiswa yang aktif termasuk di dunia tulis-menulis dan sastra. Jadi, saya merasa ikut kehilangan atas wafatnya sahabat dekat yang pernah mengecap pendidikan di Negeri Belanda ini. Harus saya tegaskan sekali lagi bahwa kami memang akrab tersebab kami memang selalu bersama saat di bangku kuliah, waktu itu. Bahwa kini kami sudah berjauhan disebabkan oleh tuntutan profesi masing-masing, itulah kenyataan saat ini. Syukurnya, media sosial saat ini membuat jarak itu tidak terasa lagi. Dan ketika ‘kepergian’ Al-Azhar terjadi nun di Ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru saat bersamaan saya dan orang-orang yang mengenalnya di Kabupaten Karimun langsung tahu.

Kabar berita yang kita baca di media,  wafatnya Datuk Alazhar dikatakan bahwa almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan ICU RS Awal Bros, Sudirman Pekanbaru. Sebagai petinggi di LAM Riau kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi sahabat-sahabatnya di organisasi itu dan juga di kalangan teman-temannya di manapun berada. Selamat jalan, sahabat, adik tingkat. Kami doakan semoga kepergianmu mendapat ridho dari Allah dan mendapatkan ampunan jika ada dosa-dosa yang dibawa menjelang ajal tiba.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed