oleh

Perjalanan Paling Terjal

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 127 Orang

Rinai Hujan yang  bercucuran semalaman, menjadikan pagi begitu senyap. Desiran angin mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

“Ajun bangun! Kebiasaan udah solat subuh suka tidur lagi” ujar ibuku.

“Apa sih Mah, dingiiin” balasnya.

“Selang di bak mandi gak ada airnya , sepertinya  terbawa hanyut di hulu sungai, coba cek kesana!” perintah ibuku pada adik lelakiku.

Nanti aja agak siang” timpalnya.

Mendengar jawaban itu, ibuku pasrah dan kemudian bergegas menuju dapur untuk memasak. Niat untuk mencuci baju ia urungkan sejenak.

Selesai memasak, ia kemudian mengepel teras rumah. Hujan yang masih mengguyur dari semalam menjadikan lantai di teras amat kotor dan becek.

Sambil mengepel ibuku memperhatikan air solokan yang keruh. Solokan itu nempel dengan teras rumah ibuku. Airnya mulai berjalan menggenang teras rumah, ibuku terkejut.

“Ajuun, bangun solokan rumah kita banjir” teriak ibuku.

Adiku terperanjat dari tidurnya, ia melihat ke luar dan menyaksikan air yang  bergulung menuju teras rumah.

Ibuku mulai panik, angin seperti bergulung kencang. Daun-daun pada pepohonan saling bersalaman, mereka meliuk-liuk mengikuti arah angin. Desiran angin seolah menarik tubuhnya agar tumbang.

“Praaaaaaaak” suara pohon dari lereng bukit berjatuhan. Nampak jelas dari pandangan, karena rumah ibuku di kaki gunung.

“Astagfirullah” teriak Ajun adiku.

Belum sempat melihat sekitar, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras seperti bom meledak.

“Daaaaaaaaaaaarrrr!”

“Suara apa itu Ajun?” tanya ibuku panik.

Belum sempat memberikan jawaban, tiba-tiba para warga berlari menuju masjid.

“Rumah Jaro Anis kena longsoooor” teriak salah satu warga.

“Bu Elah, ayo kumpul ke mesjid!” ajak tetangga depan rumah.

Ibu dan adiku bergegas pergi tanpa menghiraukan gulungan air solokan.

“Bangunin Bapak kamu Ajun!” teriak ibuku.

“Pak, hayuk ke Mesjid ada longsor” Ajak Ajun.

Bapakku terkejut, ia berjalan perlahan karena kaki dan tangan kanannya terkena stroke.

Mereka kemudian berkumpul di mesjid. Para warga mulai gelisah. Ada yang menangis, ada yang berdoa, namun banyak pula yang merekam kejadian itu.

Di tengah perkumpulan itu, mereka menyaksikan gunung-gunung yang mengelilingi kampung saling memuntahkan isinya. Luncuran air berlumpur seperti air terjun menuju muara.

Para kasepuhan di kampung Cinyiru mulai mengajak berdo’a dan membaca Al-Qur’an. Suasana semakin sendu, listrik yang padam, pohon yang tumbang serta hujan bak seperti air mata berkawin dalam pagi yang menyedihkan.

Satu hari mereka lewati dengan memikirkan jalan keluar. Jembatan yang rusak, serta kubangan lumpur yang berserak menutupi jalan, membuat warga terjebak di kampung itu. Keadaan yang pilu membuat pikiran menjadi buntu.

Keesokan harinya, semua keluargaku termasuk nenek, paman dan bibiku memutuskan untuk mengevakuasi diri. Mereka mengatur rencana untuk pergi menuju kampung Cileuksa. Pamanku berpikir jika di sana mungkin tidak terjadi bencana.

Dalam pagi yang dingin, mereka semua menaiki bukit menerobos butiran embun pada lengkung dedaunan. Bapakku berjalan perlahan menggeser kakinya yang terkena stroke.

Ibuku berjalan perlahan mengatur ritme nafas pelan-pelan agar terhindar dari serangan jantung. Karena, sakit jantungnya sudah berlangsung 17 tahun.

Sekitar 5 jam mereka menerobos hutan, menghantam tanjakan dan jalan yang terjal. Haus, lelah dan cucuran keringat membersamai perjalanan mereka. Tubuh ibuku gemetar, keringat dingin bercucuran dehihdrasi menyerangnya. Adik dan keluargaku menjadi panik di tengah hutan yang jauh dari penduduk mereka kebingungan. Memikirkan suatu hal burruk yang bisa terjadi.

Tak ada makanan yang mereka bawa, sebotol air minum habis dalam perjalanan, sehingga mereka harus mengisi ulang botol mereka dengan air mentah dari mata air.

Waktu semakin berlari, kaki mereka semakin gemetar dan rasa lapar tak tertahankan. Tiba di tempat tujuan yaitu kampung Cileuksa, mereka terkejut melihat keadaan yang sama buruknya.

Para gunung seperti berkode untuk muntah bersama, mereka kompak dan senada memporak poranda para desa di kakinya. Seperti murka dengan dosa manusia, mereka buktikan kekuatannya.

Para keluargaku bersedih, harapannya tak sesuai yang di bayangkan. Tak ada warga yang menyambutnya karena mereka memiliki kepiluan yang sama.

Rasa lapar tak kunjung berbalas, tak ada warga yang berbagi makanan. Para cacing seperti berdansa menagih umpan untuk perut mereka yang keroncong.

Ada satu warga yang memberi keluargaku sepiring nasi. Kemudian nasi itu dimakan oleh keluargaku yang berjumlah 15 orang. Di sini lah sesuap nasi itu mereka rasakan, bukan dalam peribahasa tetapi pada kenyataan sebenarnya. Sebotol aqua yang di bagi untuk 15 orang benar-benar dirasakan keluargaku dalam meminum setenggak air.

***

Di rumah, hati ku amat gusar mengharap kabar yang tak berbalas membuat dadaku sesak. Air mata dalam pipiku seperti rintik hujan yang tiada berhenti. Tak tau apa yang terjadi, dan bagaimana keadaan keluargaku benar-benar membuat hatiku resah.

Atas kesedihan itu aku meminta suami untuk mencari mereka. Hingga suamiku memutuskan untuk mendaki gunung bersama pamanku. Hanya berbekal sebotol air minum mereka berdua mulai berangkat melakukan pencarian.

Hari menjadi larut, senja membawa gulita namun tiada kabar yang ku dapati, suamiku, ibuku, adiku, bapakku, keluargaku, seperti hilang ditelan angin. Aku semakin gundah, pikiranku mulai kacau dan tangisku pecah pada keheningan malam.

Yang di cari dan yang mencari entah dimana, tak siap dengan berita duka aku semakin  histeris. Tanganku gemetar, tubuhku lunglai dan tangisku sedu sedan. Malam itu ku lewati tanpa melipat mata. Terduduk dalam balutan mukena dan menengadahkan do’a menjadi sumber kekuatanku.

Hingga sang fajar datang, aku masih genggam erat Hp ku. Ku pandangi dengan erat berharap suami dan adiku memberi pesan, namun tiada balasan. Berulang kali aku telpon hanya ‘memanggil’ pesan yang ku kirim bertanda ‘ceklis satu’. Aku ingin berteriak pada dunia dan mengatakan ‘Tolong aku’, tapi aku tak mampu. Hingga aku berpasrah pada Tuhan dan menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.

Sang fajar pun tenggelam, ia membawa pagi dengan pucuk harapan untuk diriku. Tepatnya jam 8.15 suara Hpku berbunyi. Ku baca Wa dan ternyata pesan itu dari suamiku. Ia mengirim sebuah foto dengan sebuah caption:

“Mah, Alhamdulilah keluarga kita sudah di temukan dengan lengkap dan selamat. Ayah akan membawa mereka  pulang menuju rumah kita, do’a kan ya” tulisnya pada Whatsapp.

Seketika tangis haru membasahi pipiku, aku terduduk dan bersujud.

“Terimakasih ya Allah” gumamku lirih.

Aku kembali pandangi foto itu, dalam foto itu terlihat mereka sedang memakan nasi yang beralaskan kresek hitam. Sebungkus nasi itu di makan oleh 15 orang. Betapa sedihnya  hatiku melihat foto itu. Hingga aku bergegas untuk memasak nasi untuk menyambut mereka.

Pada pertengahan siang, rombongan keluargaku datang menuju posko di kecamatan. Tak kuasa ku peluk ibuku dengan pecahan tangisan. Tim medis segera merawat bapakku yang mulai melemas, sebuah pertolongan pertama sudah mereka lakukan. Di akhir petang, aku membawa keluargaku ke rumah.

Itu adalah episode yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Tuhan mengujiku dengan rasa takut kehilangan dan kecemasan yang mendalam.

Episode itu mengajariku untuk tak menyiakan keluargaku selagi hidup. Melihat mereka berkesusahan saja membuat hatiku tertusuk, apalagi jika harus benar-benar kehilangan. Rasanya sangat tak sanggup.

Tuhan memeberi alasan untuk mereka bertahan melewati bencana, agar aku lebih peduli dengan mereka, terhusus kedua orangtua dan suamiku. Ini seperti kesempatan kedua buat diriku untuk terus berbakti dan menyayangi. Bersyukur atas hikmah dari bencana ini.

Tentang Penulis: Maesaroh

Maesaroh adalah seorang Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Lebakgedong, yang juga merupakan seorang Trainer di ProNative. Pegiat Literasi dan Penulis Buku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed