oleh

Sang Helikopter Penyelamat

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 86 Orang

“Ya Allah Pa, mana kemaren mamah belanja banyak buat jualan di curug, hujannya malah gak berhenti dari semalam” ujar Bi Uar pada suaminya.

“Ya bisa buat lusa mah, belum di olah kan bahan-bahannya?” balas Pak Ardi sambil bertanya.

“Belum Pa”

Sepiring singkong goreng kemudian disajikan di ruang tamu.

“Faisal, sarapan dulu!” ajak Bi Uar kepada putra pertamanya.

Keluarga itu kemudian bercengkrama menikmati pagi yang berselimut hujan. Pak Ardi membuka cerita dengan beberapa pertanyaan pada anak sulungnya.

“Gimana Ujian Semesternya kemaren lancar gak?” sahutnya.

“Aalhamdulilah lancar Pak, Isal libur selama 2 bulan. Nanti mulai masuk semester depan awal Maret” jawabnya.

“Alhamdulilah, yang terpenting belajar dengan baik. Kuliah di mana pun sama saja selama kita bersungguh-sungguh” balasnya menasehati.

Gemuruh angin serta rintik hujan bersenandung membawa gawai yang resah. Sang hujan seolah mendekap bumi dengan dingin yang gundah.

Sepiring singkong itu masih bertumpuk berdesakan seolah menciptakan kehangatan yang mengobati dingin di pagi itu.

Suasana nampak santai, duduk bersarung untuk menghangatkan badan menjadi pemandangan yang menarik pada etalase pagi.

Menit berselang, ia melompat menghinggapi jam. Tiba-tiba bising suara menyerupai sebuah letupan mengagetkan warga. Pak Ardi dan Faisal terperanjak dari kursinya. Ia melihat ke luar, dan  warga berhamburan dari rumahnya. Mereka berduyun sambil berpayung, mencari sumber letupan yang seperti suara gunung berbatuk.

Tak lama tanah yang mereka injak bergetar keras, seperti goncangan gempa bumi. Warga mulai panik, merka berkumpul di mesjid. Dari mesjid mereka  menyaksikan gerakan batu menggelinding menuju sungai.

“Tolooong, Ada longsor di babakan Cigobang!” teriak salah satu warga mengagetkan.

Warga yang berkumpul mulai panik. Mereka bingung harus melakukan apa.

Dari dalam rumah Bi Uar berlari menuju mesjid, ia berteriak mencari suaminya.

“Pak, Emak pingsan” ujar bi Uar mengabari.

Pak Ardi dan Faisal kemudian bergegas menuju rumah ibunya yang sudah paruh baya. Mendapati ibunya yang lemas tak berdaya, ia dengan cepat menggendongnya. Pak Ardi kemudian memindahkan ibunya ke rumahnya.

Hari semakin siang, tapi tanah di kampung itu terus bergerak pelan dan perlahan. Warga mulai cemas memikirkan takdirnya. Sesepuh warga kemudian memutuskan untuk mengajak warganya mengungsi menuju hutan Sibanung.

“Tak ada cara lain, kita harus pergi dari kampung jika ingin selamat” ujar kasepuhan.

Para warga kemudian menyetujui, mereka berkemas dan hanya membawa barang-barang paling penting saja.

Pak Ardi kembali ke rumah, ia mengabari istri dan ibunya. Bi Sarah yang amat lemas dan renta di balut dengan jas hujan  untuk menghangatkan tubuhnya. Keluarga itu kemudian bersiap dengan membawa tikar, barang paling penting serta air minum.

Sekuat tenaga Pak Ardi menggendong ibunya. Mendaki  gunung, melewati lembah dan arai. Anaknya faisal siaga berjalan di belakangnya. Jika sewaktu-waktu Pak Ardi capek, ia berniat menggantiannya.

Perjalanan panjang ini benar-benar menguras tenaga, bukan sebuah tas yang di gendong Pak Ardi, melainkan mahluk bernyawa yang harus diperjuangkan keselamatannya.

Sesekali mereka berhenti sebelum menghadapi tanjakan, menyiapkan tenaga dan minum sebanyaknya agar tak dehidrasi.

Dalam gendongan anaknya Bi Sarah menguraikan air mata, rasa takut dan haru berkawan jadi satu. Tiga jam berselang perjalanan itu pun usai. Keletihan amat lekat dalam diri Pak Ardi.

Para warga mulai membuat tenda di hutan Sibanung. Mereka saling menggelar tikar untuk tempat tidurnya masing-masing.

Senja pun datang untuk membawa gulita, para warga mulai menyambut malam dengan sorotan lampu senter mereka. Rasa lelah dan dingin menghinggapi rasa mereka.

“Mah, Adit lapar” Ujar anak bungsunya Bi Uar.

“Sabar dede, gak ada nasi!” jawab ibunya.

Mendengar keluhan itu, Pak Ardi kemudian bergegas untuk mencari umbi-umbian. Untungnya, di hutan Sibanung itu, ada yang berkebun singkong. Pak Ardi menggali dua dahan singkong.

Tidak ada warga yang membuat perapian, karena tanah yang basah serta kayu-kayunya juga basah, akhirnya singkong itu di makan mentah oleh Pak Ardi beserta keluarganya. Sambil menelan singkong mentah itu, Bi Uar meneteskan air mata. Ia merasa bersyukur di kala amat kelaparan, masih ada makanan yang mengganjal perutnya.

Malam itu mereka lewati dengan rasa gelisah, cemas dan takut menghantui hati mereka, sulit untuk terpejam dan terus memikirkan jalan keluar.

***

Ke esokan harinya, kondisi Bi Sarah semakin lemah. Para warga mulai kebingungan, gak ada stok makanan, dan sumber mata air pun sulit mereka temukan. Mereka mulai kelaparan, mereka tak lagi memikirkan kampung kesayangan. Mereka berpikir jika kampungnya telah lenyap ditelan bencana.

Beberapa remaja yang aktif di sosmed, memberi kabar lewat facebook dan instagram. Meski baterai Hp mereka hanya tersisa sekian persen, tetapi kegesitan mereka patut di acungi jempol.

Kabar pengungsiang di hutan Sibanung mulai santer di lini fb, hal ini menarik perhatian khalayak ramai hingga menarik perhatian Bupati.

Tanpa pikir panjang, di hari kedua itu Ibu Bupati memerintahkan untuk mengirimkan bala bantuan via helikopter. Para petugas BNPB bergerak cepat sesuai perintah sang pemimpin. Mereka terbang menentukan titik koordinat, menembus hamparan awan dan siap menerbangkan bantuan.

Helikopter itu kemudian tiba di hutan Sibanung, karena kabut yang tebal serta tanah yang licin tidak memungkinkan sang heli untuk melakukan pendaratan. Akhirnya para petugas BNPB melakukan inisiasi pelemparan bahan makanan dengan jarak pandang lima meter.

Para warga berteriak senang, ada yang menangis haru dan ada pula yang berteriak minta tolong.

“Pak toloooong, daruraat butuh bantuan” teriak Pak Ardi dengan keras.

Suara Pak Ardi terdengar samar, karena di halau oleh suara baling-baling helikopter yang berputar kencang. Kemudian Pak Ardi memutuskan untuk memberitahu dengan bahasa isyarat.

Bahasa Isyarat itu, di fahami oleh petugas BNPB. Akhirnya sang Heli pergi dengan membawa pesan penting untuk Ibu Bupati.

Mendengar kabar dari petugas pembawa pesan, Ibu Itti Oktavia Jayabaya menjadi sangat terenyuh. Ia menjadi gusar, hatinya tak tenang dan ingin segera bertemu warga.

Di hari ke-empat cuaca mulai cerah, tak ada mega hitam di langit sehingga  Ibu Bupati memutuskan untuk melakukan penjemputan warga yang kondisinya darurat.

Selang dua jam sang Heli terbang, akhirnya ia mampu menginjakan kakinya pada tanah Sibanung. Para warga berteriak menyambut Ibu Bupati. Mereka penuh gembira menyambut pemimpin yang amat baik hati.

Turun dari Heli Ibu Itti membentangkan tangannya bernada menerima pelukan warganya. Para warga kemudian berlari untuk memeluk dan merangkulnya.

Suasana ini begitu haru. Bu Itti menangis dalam pelukan warganya, ia meminta maaf karena baru menyempatkan diri mengunjungi mereka.

Pak Ardi datang menyalami tangan lembutnya sang Ibu Bupati. Ia bercerita jika ia adalah orang yang memberi pesan itu. Mendengar apa yang di utarakan olah Pak Ardi, Bu Itti kemudian menjenguk Bi Sarah dan merangkulnya. Kemudian ia memutuskan untuk membawa Bi Sarah dengan Helikopter.

“Para warga yang baik, dengarkan Ibu! Tolong bertahan dulu di sini untuk beberapa hari, Ibu akan mengusahakan tempat pengungsian yang layak buat semua warga. Nanti helikopter akan melakukan penjemputan secara bertahap. Jadi tolong bersabar!” ujarnya.

“Bagaimana dengan ibu saya Bu?” tanya Pak Ardi.

“Bi Sarah akan saya bawa hari ini, karena ini darurat” jawabnya lugas.

Mendengar jawaban itu keluarga Pak Ardi bersiap untuk menaiki Heli. Bi Sarah di gendong oleh petugas BNPB untuk menaiki helikopter.

Lelah di hari kemarin terbayar oleh kunjungan Sang Pemimpin. Pak Ardi merasa terharu dan sangat berterimakasih kepada Ibu Bupati. Ia takan pernah bisa melupakan momen paling berat ini. Terkenang sepanjang ingatannya, dan jika harus di balas maka takan terbalaskan.

Menaiki helikopter adalah kali pertama baginya, jika bencana ini tidak menimpanya entah kapan ia bisa menaiki Heli atau burung besi lainnya.

Sang Heli kemudian mendarat di Batalion Mandala Yuda, sebuah komplek TNI yang kemudian dijadikan tempat pengungsian warga.

Pertolongan pertama langsung ia dapatkan dari tim medis. Ibu Bupati mempersiapkan segalanya dengan baik. Ia bersyukur atas ujian itu, karena dengan ujian itu banyak hikmah yang dapat ia petik.

Seperti pepatahnya Harly UmbohPahit dan manis bercampur adalah suatu kenikmatan, seperti kopi yang disajikan ketika hangat ataupun dingin. Tambahkan gula jika terlalu pahit atau hangatkan jika terlalu dingin; Seperti itulah hidup, kita sendiri yang menentukan tingkat kenikmatannya dengan tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.”

Begitulah kisah yang ia dapatkan dalam hidupnya. Bertemu dengan orang penting di kotanya, serta berpengalaman menaiki burung besi adalah bonus dari bencana itu.

-Sekian-

Tentang Penulis: Maesaroh

Maesaroh adalah seorang Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Lebakgedong, yang juga merupakan seorang Trainer di ProNative. Pegiat Literasi dan Penulis Buku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed