oleh

Go to Bali

Alhamdulillah. Akhirnya kesempatan untuk ke Bali datang lagi setelah sekian tahun gak berkunjung ke sana. Semoga ini menjadi perjalanan yang menyenangkan. Pokoknya hidup ini serba alhamdulillah, sungguh banyak sekali nikmat yang Allah berikan. Alhamdulillah lagi banyak sekali teman di pulau dewata itu. Kebetulan juga saat ini sudah ada salah satu kompasianer yang menunggu di Denpasar dan kita sudah janjian untuk mengadakan Kopdar, yup, siapa lagi kalo bukan Kang Hadi Samsul. Menarik.

Saya menuliskan ini di dalam ruang tunggu di Bandara Soekarno Hatta di terminal 1A di gate 5. Sayang kursi yang tersedia untuk duduk terbatas, dengan terpaksa saya harus duduk ‘ngelesot’ bersama beberapa orang yang juga ikut duduk di bawah. Rencana pesawat dengan nomor penerbangan JT 0016 Lion Air berangkat pukul 18:45, jadi kurang sekitar 1 jam lagilah, lumayan lama dengan kondisi lingkungan bandara yang ‘lumayan’. hehe.

Planning di Bali lumayan, kalo yang ini kayaknya lumayan banyak ya. hehe. Paling tidak udah dua tahun saya tidak pergi ke Bali. Padahal dulu, sebelum ke Mesir, entah berapa kali saya pergi ke Bali. Dengan naik motor, dari rumah di Banyuwangi ke Bali hanya  butuh waktu tidak lebih dari 5 jam saja. Itupun view pemandangan dari Gilimanuk hingga Denpasar benar-benar ‘lumayan’. hehe. Lumayan yang ini beda lho. Rata-rata teman saya di Bali adalah mereka para alumni pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.

Banyak yang satu angkatan dengan saya. Diantara yang sangat akrab dengan saya adalah Ardian Riwayanto dan si Bejo. Kelucuan dan ‘keramean’ merekalah yang membuat saya selalu mengingatnya. Persahabatan itu memang indah ya. Dulu sewaktu di pesantren, kami adalah senasib seperjuangan, namun sekarang, seperjuangan tapi tak senasib. hehe. Sengaja hari-hari ini saya nulis yang ringan-ringan saja. Yang membuat saya dan pembaca tersenyum ketika membaca tulisan ini.

Jalan-jalan itu asyik, tapi capek juga ya. Banyak planning dan PR yang harus saya ‘deal’kan untuk prospek bisnis yang saya persiapkan sejak dari Cairo, jadi kalo nulisnya yang berat-berat, bisa tambah stres saya. hihi. Soklah. Jadi penasaran nich, seperti apa ya Bali sekarang. Masihkah kawasan pantai Kuta yang dulu sering saya sambangi rame dengan para penjaja tato. Kira-kira sekarang banyakan mana ya turis asing sama turis lokal di sana. Belum lagi kawasan wisata Nusa Dua yang dikenal dengan wilayah elitnya.

Dulu, menurut teman-teman, pantai Kuta itu tempat melancongnya turis yang pas-pasan, kalo pantai Nusa Dua untuk turis yang berduit. Benar tidaknya kabar ini, silahkan dicek sendiri. hehe. Bandara Soekarno Hatta. Rame sekali saat ini, saat saya menulis catatan ini. Orang-orang di samping saya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mainin hp, paling facebookan, ada juga yang asyik dengerin musik. Namun, saya lihat kok jarang yang sedang membaca buku ya, apalagi membaca kitab suci. hehe.

Padahal, bocoran nich, di bandara internasional Cairo, tidak tiga empat kali saya lihat sambil menunggu, orang Mesir gak malu untuk membaca al-qur’an. Pas di alenia ini, ada pengumuman, pesawat Lion Air menuju Surabaya hendak diberangkatkan. Alhamdulillah, beberapa antrian yang duduk di bawah mulai berkurang. Bentar-bentar, kok ada yang aneh ya. Mata saya memandang ke atas, ruangan ini adalah ruangan berAC, tapi hawanya kok panas ya.

Pemerintah Indonesia memang pemerintah yang baik hati, dekat saya duduk ‘ngesot’ di lantai, ada ruang khusus untuk para perokok. Seperti apa jadinya ya jika gak ada ruangan untuk itu. Beberapa kali saya berhubungan telpon dengan sahabat saya yang ada di Denpasar. Dia bilang, nanti kalo mau naik pesawat langsung telpon aja, satu jam berikutnya aku langsung ke bandara. Alhamdulillah, belum apa-apa udah mau dijemput. Mungkin inilah berkahnya punya teman banyak. Saya belajar dari ayah saya, ayah begitu rajin shilaturahim, kalo pengen ngetes, bagi teman-teman yang sering ke walisongo, di tempat pendaftaran tamu ketika para peziarah datang, tanyakan saja “bapak Ichwan dari Banyuwangi”, pasti mereka semua kenal.

Saya berani jamin. Pamer dikit nich. hehe. Secara nama, nama saya yang panjangnya Bisyri Ichwan itu berarti “orang yang membahagiakan saudara”, semoga ini bagian dari doa. Saya memang ingin sekali membahagiakan para saudara-saudara saya, termasuk saudara setanah air dong ya. Dulu yang ngasih nama ini adalah almarhum Kiai saya di pesantren Darussalam, beliau bernama KH. Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur. Semoga Allah memberikan tempat mulia kepada beliau di sisiNya. Pesantren Darussalam juga menjadi pondok paling gede di Banyuwangi.

Kembali lagi ke Bali. Penasaran saya tidak akan pernah terjawab sampai saya nanti menginjakkan kaki di Denpasar. Welcome to Bali. Liburan pulang ini benar-benar menyenangkan. Makasih ya Allah, Engkau telah memberi anugerah kesehatan dan kesempatan yang tidak semua orang tidak mendapatkannya. Perjalanan ini banyak niat yang saya tanamkan disamping shilaturahim. Mungkin sampai di sini dulu ya.

Semoga catatan kecil ini membawa manfaat dan inspirasi bagi teman-teman kompasianer yang membaca. Ini hanya catatan kecil kok. Dari pada keinginan saya nulis muter-muter di kepala, kan lebih baik saya tuliskan di sini. Saya itu sebenarnya ingin sekali ngamalin perintah Allah dalam al-qur’an, ini alasan saya kenapa suka jalan-jalan. hehe. Ayat itu berbunyi : “siiru fil ardli!”, “kelilinglah dunia!”. Ayatnya panjang, tapi ini kutipannya saja. Akhir kata, jalan-jalan yuk!

Komentar

Tinggalkan Balasan