oleh

Baiti Jannati (3)

KMAA#37

Alasanku mutasi dari SMP Negeri 20 ke SMP Negeri 42 Semarang adalah mendekati rumah, selain kekurangan jumlah jam mengajar di sana.Dengan jumlah jam mengajar hanya 5 jam per minggu, sementara ada banyak guru IPA di sana menjadikan aku harus mutasi ke SMP Negeri 42 yang terletak di jalan Klipang Raya. SMP Negeri 42 Semarang ini mulai berdiri dan menerima siswa baru Tahun Pelajaran 2015/2016.

SMP yang baru dibuka dan pembangunan gedungnya baru sampai tahap 50 % ini memgharuskan kami, guru-gurunya yang hanya berjumlah 7 orang, tanpa tenaga kependidikan, tanpa kepala sekolah, karena masih menginduk di SMP Negeri 29 ini, harus babad alas (membuka lahan baru) untuk menjadikan sekolah ini sejajar dengan SMP Negeri yang lain di Kota Semarang. Karakter, pembiasaan, operasional, struktur kurikulum dan kegiatan lainnya dimulai dari nol dan kita harus membuat program bagaimana visi dan misi sekolah ini mau dibangun dan dibawa kemana.

Di tahun pertama dimana arah dan tujuan dari visi dan misi sekolah ini sudah ditetapkan dan kita harus bekerja keras membentuk pembiasaan dan menjalankan semua yang sudah kita programkan, dedikasi dan semangat guru yang luar biasa menjadikan sekolah ini mulai mendapat perhatian dari pemkot dan masyarakat sekitar. Memasuki awal tahun kedua, pembangunan gedung SMP Negeri 42 sudah finish dan mendapat Kepala Sekolah baru dan tendik yang siap membawa amanah memajukan sekolah ini .

Jumlah jam mengajar yang padat, 30 jam per minggu, dengan tambahan sebagai wali kelas dan menjadi bendahara Pendamping BOS dan BOS membuat kesibukanku amat sangat dan luar biasa. Aku sering lembur sampai maghrib karena harus menyelesaikan tugas sebagai bendahara sekolah, bahkan di akhir tahun anggaran pulang pukul 21.00 atau 22.00 sudah biasa. Namun semua ini aku syukuri sebagai karunia yang Allah berikan padaku. Jarak rumah sekolah yang hanya ditempuh dalam waktu 5 menit tanpa macet dan kemrungsung menjadikanku enjoy menyelesaikan semua tugas sekolah. Di sisi yang lain, godaan datang dan mulai menggoyahkan keimananku.

Usiaku 45 tahun, dengan kesibukan ini hampir saja merusak hubugan suami istri antara aku dan Mas Aro. Hampir sebagian waktu kuhabiskan untuk sekolah. Berangkat pagi pukul 07.00 sudah siap di sekolah. Aktivitas rutin hingga pukul 14.00 WIB selebihnya tugas adminsitrasi mulai dari membuat laporan keuangan P BOS atau BOS, memantau pengadaan barang, hingga harus menghadiri rapat dinas di Dinas Pendidikan atau di Pemkot membuatku lelah fisik dan pikiran. Maka tak heran setelah sampai rumah tentu setelah sholat aku langsung tidur dan terlelap hingga pagi. terkadang bangu tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar.

Aktiviatas harianku menjadikanku ‘gila kerja’. Aku hampir tak ada waktu buat anak-anakku yang kala itu Alif duduk di bangku SMA dan Huda masih SMP, apalagi waktu untuk suami. Aku jarang menanyakan keadaan mereka di sekolah hari itu, apa yang mereka dapat di hari itu apalagi mendampinginya belajar. Anak-anak kutuntut bisa mandiri dan tidak bergantung pada ibunya. Secara materi semua tercukupi, uang, pakaian, apa yang mereka minta aku selalu memenuhinya. Namun aku lupa bahwa mereka masih anakku yang perlu kasih sayang tidak hanya kebutuhan materi saja, tapi juga butuh perhatian dari ibunya. Dan perselisihan pendapat, salah paham antara aku dan mas Aro, mulai memantik, menyulut api.

bersambung…

Tentang Penulis: Noorlanyati

Gambar Gravatar
Noorlanyati, guru IPA SMP Negeri 42 Semarang. Email noorlanyati@gmail.com NPA PGRI 1201016759

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed