oleh

Kuyakin Prahara Akan Berakhir (6)

KMAA#33

Aku harus dirawat di RSUD KMRT Wongsonegoro selama beberapa hari. Ada luka pada bagian lutut dan beberapa goresan pada wajah, yang harus dijahit. Namun luka yang cukup serius pada bagian kepala. Mungkin karena jatuh dan kena benturan menjadikan kepalaku amat sangat pusing, berputar-putar dan ini memicu mual dan muntah. Inilah awal aku terkena penyakit vertigo.

Setiap kali kubuka mata, dunia rasanya berputar, terbalik ke bawah. Meski aku berada di atas tempat tidur, rasanya bed yang kutiduri  berputar 180 derajad hingga aku berteriak-teriak dan berpegangan pada sisi ranjang. Berputar terbalik membuatku pusing lalu muntah. Maka aku memilih memejamkan mata tak berani membuka mata. Meski hanya melirik pun sudah membuat perut dikocok mau muntah. Kata suster aku terkena penyakit vertigo. Penyakit yang tak terlihat, tapi luar biasa bisa menjungkir balikan keseimbangan otakku, sehingga apa yang kulihat berputar dan berbalik .

Ya Allah meski hanya sentilan ringan yang Engkau berikan padaku, namun ini menggugah keimananku. Betapa sehat itu mahal harganya dan waktu luang amatlah berharga. Kini aku merasa, baru sedikit gocangan dalam otak mengakibatkan perubahan keseimbangan, dan aku tak bisa menguasai keseimbangan diri. Untuk membuka mata saja pusing yang luar biasa menyerang, dan aku tak sanggup membukanya. Aku memilih untuk memejamkan mata. Untuk merubah posisi dari tidur terlentang menjadi miring aku harus pelan-pelan dan berpegangan pada pinggir bed.

Ya Allah, selama ini aku beribadah hanya untuk memenuhi kewajibanku saja, bukan karena aku membutuhkanMu . Seharusnya beribadah adalah momen tempat aku curhat padaMu, momen tempat aku berdialog memuji namaMu, momen meresapkan kalimat toyibah untuk mengisi kekosongan jiwa. Ya Allah, ampuni kekhilafanku, ampuni kelenaanku.

Kini aku hanya bisa berbaring dan memejamkan mata. Inilah awal penyakit vertigo muncul menyerangku. Jangankan sholat atau berdiri, untuk bisa duduk saja aku harus belajar. Menikmati pusaran-pusaran gelombang di otakku, merasakan goyangan-goyangan memualkan, dan semua itu mau tidak mau kunikmati dan menjadi santapan ketika aku belajar menggeser posisi badan. Kata suster yang merawat, aku harus belajar keseimbangan dan membangun tekad untuk sembuh. Ya sembuh untuk bisa beraktivitas normal lagi, tanpa derita vertigo.

 

Tentang Penulis: Noorlanyati

Gambar Gravatar
Noorlanyati, guru IPA SMP Negeri 42 Semarang. Email noorlanyati@gmail.com NPA PGRI 1201016759

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed