oleh

Keajaiban menulis – part 3

-YPTD-Telah Dibaca : 162 Orang

Oleh : Noralia purwa yunita

Kilas balik tahun pertama di masa pandemi. Masih dalam suasana Ramadhan. Hari ini merupakan Ramadhan hari kedua. Ramadhan kedua ini, saya masih melakukan serangkaian kegiatan yang sama seperti hari biasanya, bekerja dan berkarya dari rumah. Memang selama masa work from home ini, selain disibukkan dengan pengurusan rumah tangga dan mempersiapkan materi untuk mengajar online, ada kesenangan baru yang tiap harinya harus dilakukan. Menulis…menulis apapun itu, entah itu tulisan yang muncul pada waktu menonton berita di tv, waktu ngobrol santai dengan suami masalah politik atau pendidikan, bahkan uneg-uneg pribadipun juga bisa dijadikan bahan tulisan.

Kebiasaan ini baru muncul setelah mengikuti kelas bersama om Jay dkk. Menulis memang saya jadikan kewajiban tersendiri setiap harinya. Minimal sebuah tulisan harus dapat terpublish di blog setiap hari. Kata om Jay dengan kita berlatih menulis setiap hari, maka lama-kelamaan tulisan kita akan mengalir sendiri dengan kosa kata dan pembentukan kalimat yang lebih bagus.

Hari ini, kegiatan ekstra bertambah, tidak hanya menulis tetapi melakukan diskusi lewat video conference melalui google meet dengan prof Eko Indrajit dan bapak ibu guru lainnya. Saya mengenal prof Eko sebagai salah satu narasumber pelatihan menulis yang diprakarsai oleh Om jay dan PGRI. Materi yang disampaikan oleh beliau waktu itu tentang bagaimana menulis buku dalam waktu seminggu. Wow..apa bisa??begitu batin saya. Saya ikuti setiap penjelasan beliau tentang cara menulis dalam seminggu dengan seksama. Materi yang beliau sampaikan, masuk akal juga menurut saya. Karena dalam menulis buku, kita selalu berpedoman pada 5W + 1H. Sebuah pedoman penulisan yang terdiri dari enam huruf. Apabila keenam huruf tersebut dipraktekkan dalam pembuatan sebuah buku, maka setiap harinya hanya butuh satu huruf yang dituangkan dalam tulisan. Apakah tulisan itu menjabarkan tentang what, why, where, when atau how. Maka dari itu, penyelesaian buku cukup dilakukan dalam jangka waktu 6 hari. Sisa 1 hari lainnya dapat kita gunakan untuk proses editing agar buku lebih enak ketika dibaca. Dengan demikian, sebuah buku sudah jadi hanya dalam waktu seminggu. 

Selesai pemaparan materi, prof Eko menawarkan kepada para peserta untuk berkolaborasi menulis bersama beliau dengan mengambil sebuah tema dari channel YouTube beliau. Kebetulan di saat pandemi ini, beliau membuat seminar online dengan tema yang berbeda tiap harinya. Jika kami tertarik, kami diperbolehkan mengambil satu tema dari bahasan seminar online beliau dan wajib dijadikan buku selama seminggu. Tak banyak yang mengambil kesempatan ini. Karena waktu seminggu adalah waktu yang sangat singkat untuk membuat buku. Hanya 21 peserta yang berani mengambil tantangan ini, termasuk saya. Akhirnya kamipun dimasukkan ke grup WA tersendiri oleh prof Eko guna pembimbingan pribadi dalam menulis buku kolaborasi.

Singkat cerita, hari ini kami diajak diskusi oleh prof Eko secara tatap muka maya. Diskusi dilakukan untuk mengetahui perkembangan dari naskah buku kami. Ada beberapa arahan dari beliau. Salah satunya adalah untuk menambah jumlah halaman buku minimal 100 halaman untuk tiap buku. Suatu tantangan ekstra lagi bagi kami. Tetapi kabar baiknya, prof Eko berkata jika sudah ada penerbit mayor yang siap menerima dan menerbitkan naskah kami. Kami merasa sangat beruntung. Betapa tidak, menawarkan sebuah naskah buku ke sebuah penerbit mayor itu tidaklah mudah. Banyak hal yang akan dijadikan bahan pertimbangan oleh penerbit mayor sebelum menerima naskah kita. Maka dari itu, berita dari prof Eko merupakan kegembiraan tersendiri bagi kami. Tanpa perlu bersusah payah mencari Penerbit, penerbit itu sudah siap menerbitkan naskah-naskah kami.

Keajaiban menulis itupun terbukti kembali. Jika kami tidak menjawab tantangan prof Eko untuk berani menulis buku dalam seminggu, mana mungkin kita dapat menerbitkan buku secepat dan semudah ini. Apalagi buku tersebut diterbitkan oleh penerbit mayor yang notabene sangat susah ditaklukkan oleh penulis. Bagi penulis profesional saja susah, apalagi bagi saya yang masih pemula dalam menulis. Bagaikan pungguk merindukan bulan jika dapat saya katakan. Maka dari itu, teruslah untuk menulis dan buktikan, keajaiban apa yang akan menghampiri.

Semarang
23 Agustus 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed