oleh

YPTD vs Literasi

-YPTD-Telah Dibaca : 324 Orang

Bulan Agustus telah tiba. Dalam hitungan hari, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Hari yang selalu disambut suka cita oleh semua warga Indonesia. Hari dimana Indonesia menjadi mandiri dan berhak menentukan kehidupannya sendiri. Tidak lagi terkekang dengan aturan negara lain.

Tidak hanya Indonesia yang merayakan kebahagiaannya di bulan ini. YPTD juga merasakan suka cita yang sama. Satu tahun yang lalu tepatnya tanggal 19 Agustus 2020, bapak Thamrin Dahlan beserta para sahabat menggagas berdirinya sebuah penerbit yang bergerak untuk memajukan literasi Indonesia. Bertempat di sebuah kafe bernama Coffee Toffee, penerbit YPTD lahir.

Saya pertama kali mengenal penerbit YPTD dari sebuah komunitas menulis yang saya ikuti. Rasa penasaran tentang penerbit ini mengantarkan saya untuk menghubungi nomor handphone yang terpajang di bagian beranda website YPTD. Bapak Thamrin Dahlan, pemimpin YPTD saya hubungi untuk menanyakan apakah YPTD benar-benar memberikan biaya Rp 0 di setiap buku yang diterbitkan. Melihat begitu banyak penerbit Indie lain yang memajang harga yang bervariasi untuk biaya penerbitannya. Dan, memang benar adanya. Slogan YPTD sebagai penerbit buku ikhlas tidaklah sebatas kata belaka. Penulis yang menerbitkan buku melalui penerbit YPTD, tidak ditarik biaya sepeserpun. Lalu apakah dengan biaya Rp 0 tadi, fasilitas yang didapatkan minim? Jawabnya adalah tidak. Fasilitas yang dapat penulis nikmati di penerbit Indie yang berbayar, juga dapat dinikmati di penerbit YPTD. Mulai dari cover yang oke, kualitas cetak dan penggunaan kertas buku yang oke pun dapat kita peroleh dari penerbit YPTD.

Memang tujuan awal YPTD adalah memajukan literasi bangsa dimana cara awalnya adalah memfasilitasi para guru penulis untuk menerbitkan mahkota penulis nya. Guru penulis tidak perlu lagi mengkhawatirkan biaya penerbitan karyanya . YPTD akan siap membantu mewujudkan impian para guru untuk memiliki mahkota penulisnya yaitu buku. Dan hingga sekarang, sudah banyak karya buku yang diterbitkan oleh penerbit YPTD.

Namun, semangat literasi yang dikibarkan oleh YPTD sekarang ini masih terbatas dapat dirasakan oleh para guru dan penulis lainnya non guru. Padahal, memajukan literasi bangsa harus dilakukan secara menyeluruh. Pengembangan literasi haruslah menyentuh ke segala lapisan masyarakat. Tidak memandang umur, profesi, dan yang lainnya. Oleh karena itu, YPTD perlu melakukan beberapa hal berikut agar tujuan YPTD untuk bergerak memajukan literasi bangsa dapat dilakukan secara menyeluruh dan optimal.
1. Nubar
Nubar alias nulis bareng. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu agenda rutin bulanan YPTD sebagai usaha memajukan literasi. Sasarannya tidak hanya untuk para guru penulis, namun ditujukan kepada siswa dan masyarakat umum lainnya. Keluarannya adalah buku antologi (buku karya bersama) dengan tema-tema yang sudah ditentukan sebelumnya. Agenda ini akan menjadi lebih menarik jika dikemas dalam bentuk lomba menulis. Ada dua kategori peserta dalam agenda ini. Kategori siswa dari berbagai jenjang pendidikan dan kategori umum dari berbagai profesi. Karena dikemas dalam bentuk lomba, maka akan diberikan penghargaan bagi para juara. Jika hadiah berupa uang sulit diberikan, hanya berupa trophy dan Piagam kejuaraan, sudah memberikan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi para pemenang.

Apalagi bagi siswa, piagam ini dapat membantu dirinya untuk mendaftar ke jenjang sekolah yang lebih tinggi karena akan memberikan nilai tambah pada saat pendaftaran. Dengan demikian, sekolah impian lebih mudah diraih dengan adanya piagam kejuaraan ini. Selain itu, hasil karya peserta juga dapat dikumpulkan menjadi satu dan diubah dalam bentuk buku antologi. Buku ini akan menjadi kenangan abadi yang tidak akan lekang dimakan waktu.

2. Webinar literasi
Banyak orang yang ingin menulis. Namun, karena keterbatasan pengetahuan bagaimana cara menulis dan menghasilkan karya yang berkualitas, membuat sebagian orang enggan melakukan kegiatan ini. Sebagai contoh diri saya sendiri. Saya pribadi sangat menyukai karya fiksi terutama novel. Novel dengan segala genre dapat saya babat hanya dalam hitungan hari. Bahkan novel Harry Potter karya J. K. Rowling yang sebegitu tebalnya, dapat saya lahap hanya dalam waktu tidak sampai seminggu. Namun, jika saya diminta untuk menulis novel, maka hanya angkat tangan yang dapat saya lakukan. Kisah yang pernah saya tulis cenderung pasaran. Hal ini karena minimnya pengetahuan saya tentang cara menulis naskah fiksi.

YPTD dapat memfasilitasi para penulis pemula seperti saya untuk mengupgrade ilmu kepenulisan dengan mengadakan webinar literasi. Fokus kegiatan dalam webinar ini adalah memberikan pengetahuan kepada para penulis tentang dunia kepenulisan. Seperti kiat menulis sebuah naskah fiksi, tips dan triknya, bagaimana melakukan swasunting, bagaimana mengatasi writers block, dan lain. Dengan demikian, para penulis pemula akan bertambah ilmunya yang akhirnya dapat diaplikasikan untuk menghasilkan sebuah karya tulisan yang berbobot.

Sasaran peserta dalam webinar ini sebaiknya tidak hanya untuk masyarakat umum, namun siswa juga diberikan wadah tersendiri untuk menambah pengetahuan tentang kepenulisan. Pengalaman saya, banyak siswa sebenarnya mempunyai keinginan untuk menulis. Namun, karena minimnya pengetahuan dan wadah yang dapat menampung kreativitas dan imajinasi mereka, akhirnya tulisan mereka berakhir sebatas internal sekolah. Padahal, jika ada sebuah organisasi yang memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi, maka karya mereka dapat dinikmati oleh masyarakat luas. YPTD sebagai penerbit yang mengedepankan kemajuan literasi sebaiknya memberikan apa yang selama ini dicari dan diinginkan oleh siswa.

3. Membuat Vlog
Literasi tidak akan maksimal jika sebatas hanya kegiatan menulis saja. Kegiatan menulis ini haruslah diimbangi dengan kegiatan membaca. Namun, tidak hanya sekedar membaca, tetapi membaca hingga paham apa maksud dari tulisan yang dibaca. Vlog atau video blog dapat dijadikan pilihan untuk dapat mengembangkan kemampuan membaca masyarakat dan siswa.

YPTD dapat memfasilitasi peningkatan budaya baca masyarakat dan siswa dengan membuat lomba Vlog. Peserta diminta untuk mendongeng, berpantun, berpuisi atau kegiatan membaca lainnya yang kemudian direkam dalam bentuk video dan hasilnya diunggah di website YPTD. Dengan demikian, dua pulau akan terlampaui, minat baca masyarakat meningkat dan hasil kunjungan ke website YPTD pun akan bertambah.

4. Pendampingan menulis buku
Awal saya mengikuti komunitas dan pelatihan menulis, saya benar-benar buta tentang bagaimana menulis buku. Meskipun, saya sering menulis karya ilmiah dan artikel, namun, sangatlah berbeda dengan menulis buku. Dan hal ini ternyata tidak hanya melanda saya. Beberapa teman juga demikian. Namun, saya sangatlah beruntung karena bertemu dengan prof eko dan pak akbar zainuddin yang mendampingi saya menulis buku. Mulai dari menentukan judul buku yang oke, membuat outline yang benar, teknis menulis, hingga membuat kelengkapan buku seperti sinopsis, prakata, dan lainnya. Hal-hal ini harus diketahui oleh para penulis pemula. Dan tentunya pendampingan dalam prosesnya sangatlah dibutuhkan agar kualitas buku yang dihasilkan bagus adanya.

Media sosial dapat digunakan sebagai sarana promosi untuk mempromosikan semua kegiatan YPTD. Instagram, Facebook, twitter dapat dijadikan pilihan untuk mengenalkan rangkaian kegiatan literasi YPTD kepada masyarakat luas. Apalagi di jaman sekarang ini, lebih banyak pengguna gadget yang melakukan penelusuran di media sosial untuk mencari berbagai macam info yang mereka butuhkan. Siswa sebagai contohnya. Media sosial tidak hanya dijadikan siswa sebagai sarana hiburan semata. Bagi mereka yang haus akan karya, media sosial ini serasa surga untuk menemukan tempat yang dapat mengembangkan dan mewadahi kreativitas mereka.

Kehadiran YPTD sebagai penerbit yang mengedepankan kemajuan literasi daripada profit sangatlah ditunggu oleh siapapun yang ingin menulis dan mendapatkan mahkota menulisnya. Kekhawatiran akan biaya penerbitan yang tinggi, teknis kepenulisan dan segala kesulitan lainnya menjadikan karya buku seakan sebuah mimpi belaka. Namun, YPTD dapat mengabulkan impian yang dirasa seperti mimpi tersebut. YPTD memberikan jawaban bahwa melalui YPTD mahkota seorang penulis berupa buku dapat dengan mudah dihasilkan. Apalagi jika beberapa hal yang menjadi masukan di atas dapat dilakukan secara rutin. Kemajuan literasi bangsa tidak lagi sebuah mimpi belaka melainkan mimpi yang terwujud menjadi suatu yang nyata.

YPTD MAKIN KAYA
YPTD MAKIN BANYAK KARYA

SALAM LITERASI

Komentar

Tinggalkan Balasan

4 komentar

  1. Assalamulaikum
    Selamat Pagi Ibu Noralia
    Terima kasih atas masukan untuk YPTD di Ultah I, Sangat rinci dan sistematis mulai dari Nubar, Webinar Literasi, Membuat Vlog sampai pada Pendampingan menulis Buku. Ide dan saran inspiratif sangat bermanfaat untuk pengembangan kemajuan YPTD.
    Salam Literasi
    Walaikumsalam
    YPTD

News Feed