oleh

Efektifitas Guling dalam PJJ di Era Pandemi

-Terbaru-Telah Dibaca : 76 Orang

Sejak pandemi Covid-19 melanda, mulai pada tanggal 16 Maret 2020, hampir seluruh sekolah di Indonesia terpaksa memindahkan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Tak terasa, sudah lebih dari satu tahun kegiatan belajar dari rumah (BDR) dilaksanakan. Meski masih banyak kendala yang dihadapi, satuan pendidikan mulai terbiasa menyelenggarakan BDR.

Metode BDR sendiri ada dua, yaitu Pembelajaran Jarak Jauh Dalam Jaringan (PJJ Daring) dan PJJ Luar Jaringan (Luring). PJJ Daring secara khusus menggabungkan teknologi elektronik dan teknologi berbasis internet, sementara PJJ Luring dapat dilakukan melalui siaran televisi, radio, modul belajar mandiri, bahan cetak maupun media belajar dari benda di lingkungan sekitar.

Dengan diberlakukannya pembelajaran daring guru dan peserta didik sama-sama belajar untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Dalam pelaksanaannya pembelajaran daring ternyata banyak keterbatasan. Entah itu tentang keterbatasan sarana dan prasarana yang berupa handphone, laptop, maupun jaringan. Selain itu juga kemampuan guru dan peserta didik masih sangat terbatas dalam pemanfaatan teknologi. Hal itulah yang sering menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring, khususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah pedesaan. Berbagai upaya pun dilakukan oleh pihak sekolah agar proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik dapat berjalan sesuai dengan harapan.

Sistem pembelajaran yang kami laksanakan selama masa pandemi dengan memanfaatkan WhatsApp Group (WAG). Dengan metode tersebut, guru dapat mengupayakan siswa dapat mengetahui tugas maupun materi yang disampaikan oleh guru meskipun di tempat yang berbeda. Ternyata banyak permasalahan yang terjadi dengan penggunaan metode tersebut. Misalnya ketersediaan kuota bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring melalui WAG. Banyak diantara orang tua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet. Hingga akhirnya banyak siswa yang sering tidak mengirim tugas dengan alasan tidak mempunyai kuota yang memadai.

Banyak juga cerita orangtua/walimurid yang diposting di berbagai media sosial. Misalnya postingan yang menceritakan pengalaman orang tua siswa selama mendampingi anak-anaknya belajar baik postingan yang positif maupun negatif. Ternyata ada beberapa orang tua yang sering marah-marah karena mendapati anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah. Namun guru memaklumi keadaan tersebut dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi kepada peserta didik agar peserta didik tetap bisa mengikuti proses pembelajaran.

Menindaklanjuti berbagai permasalahan yang terjadi, akhirnya pihak sekolah berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk memecahkan permasalahan tersebut. Pihak sekolah yang diwakili oleh kepala sekolah mengambil solusi untuk melaksanakan PJJ dengan menggunakan metode “GULING”.

Apa itu “Guling”? Tentu banyak yang berfikir, apa kaitan antara guling dengan PJJ? Istilah guling biasanya identik dengan benda yang selalu mendampingi kita saat tidur. Tetapi dalam PJJ istilah guling yang kami gunakan sebagai solusi diartikan dengan “guru keliling”. Ada juga yang memakai istilah home visit, tapi kami lebih nyaman dengan istilah guling.

Setiap dua hari sekali guru datang ke rumah siswanya untuk mendampingi siswa dalam belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil agar pelaksanaan PJJ tetap mematuhi protokol kesehatan. Anjuran dari pemerintah untuk menjaga jarak, memakai masker, dan selalu mencuci tangan memakai sabun dengan air mengalir tetap dilaksanakan.

Dalam metode guling guru menyampaikan materi dan mendampingi siswa belajar seperti proses KBM saat di sekolah, tetapi ada perbedaan pada jumlah siswa, waktu belajar, dan tempat yang digunakan dalam KBM. Waktu yang digunakan saat pembelajaran dengan metode guling maksimal hanya 1 jam. Meskipun waktu tersebut sangat sedikit dibanding waktu saat KBM berlangsung di sekolah, tetapi itu sangat berpengaruh dengan hasil yang dicapai dibandingkan dengan siswa belajar sendiri di rumah dengan bimbingan orang tua saja. Agar anak tidak bosan, tempat yang digunakan berpindah-pindah, dengan tujuan lain yaitu memupuk rasa solidaritas dan silaturahmi antara guru dengan siswa, guru dengan orang tua, maupun siswa dengan siswa.

Jadi dengan metode guling, siswa dapat menerima materi pelajaran dengan baik, daya serap atau penguasaan materi juga lebih maksimal. Para orang tua pun sangat mendukung program yang dilaksanakan di sekolah kami. Mereka tidak terbebani dengan kesulitan dalam mendampingi belajar, kendala kuota, maupun gangguan jaringan.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pandemi Covid-19 menjadi tantangan seorang guru untuk terus mau belajar dan berlatih demi kelancaran pembelajaran secara daring. Di samping itu guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, serta mengolaborasikan media pembelajaran guna menghadirkan suasana pembelajaran yang interaktif.  Semoga pandemi Covid-19 cepat berlalu sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana seperti semula dengan kehadiran guru dan siswa yang saling berinteraksi langsung di sekolah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed