oleh

Nyobain Tol Jawa Jakarta – Surakarta, Catatan Perjalanan (1)

PERJALANAN DARAT
12 JAM JAKARTA – SOLO

Kota Solo atau Surakarta di Jawa Tengah, memang bukan daerah asing bagi saya. Beberapa kali saya bolak-balik ke kampung Presiden Joko Widodo ini.

Baik datang ke Solo sebagai wartawan, turis domestik, maupun sebagai pribadi yang berburu cinta. Cieh…Kali ini, saya datang ke Solo lagi sebagai pengurus satu organisasi kedaerahan: Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Paguyuban para perantau 4 etnis ini: Bugis, Makassar, Toraja, Mandar seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri, menggelar musyawarah besar (Mubes) 15-17 November 2019. Saya hadir mewakili pengurus KKSS Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sebagai wartawan, tentu saja saya juga akrab dengan Solo, sebagai kota tempat lahirnya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini. Bahkan, hanya di kota inilah yang memiliki Museum Pers. Daerah lain belum ada.

Di kota “Bengawan Solo” — nama lagu populer karya musisi Gesang yang lekat dengan kota ini — saya pernah mengirim dokumen pers terkait Museum Pers.

Kumpulan kliping tulisan dan berita, saya jilid lalu dikirim ke museum ini. Harapannya, sederhana saja. Kliping tersebut sebagai  sumbangsih kecil sebagai wartawan untuk dunia pers.

JEMPUT PAKSA PAK KIAI

Pengalaman lain tentang Solo, ketika saya dengan tidak sengaja meliput kasus Ustadz Abubakar Ba’asyir (UAB) yang dituduh tokoh teroris, saat dijemput paksa dari rumah sakit PKU Muhammadiyah, tempat beliau dirawat.

Pengasuh pondok pesantren Al-Amin, Ngeruki, Solo ini kemudian diterbangkan ke Jakarta dalam pengawalan ketat. Kisah penjemputan paksa dari rumah sakit menuju bandara, menjadi perhatian publik secara nasional. Bahkan internasional.

Saya dan teman-teman jurnalis dari Jakarta yang sedianya ke Solo mau meliput pagelaran wayang, tiba-tiba harus pindah lokasi liputan ke rumah sakit tempat di mana USB dirawat. Ini pasti akan jadi berita besar. Begitu naluri wartawan kami “mengendus” peristiwa ini.

Benar saja. Seperti yang pernah saya catat dan dimuat di Harian Terbit, tempat saya bekerja, penjemputan paksa ini menajdi berita head line karena berakhir rusuh. Aparat keamanan, sempat bentrok dengan para santri UAB, yang mempertahankan kiai mereka.

Eh iya, dari awal tulisan, saya juga menyinggung Kota Solo sebagai obyek wisata, tepatnya lokasi tempat saya pernah berburu cinta. Mencoba menjalin asmara dengan putri Solo, namun gagal berjodoh.

Lah, baru PDKT (baca : pe de ka te), belum sampai jadian, tapi sudah langsung putus. Baru mau jatuh cinta, tapi langsung patah hati. Oooowww…. (nanti saya bikin tulisan tersendiri deh, hehe..)

MEMPERSIAPKAN PERJALANAN

Sebelum berangkat, saya sudah googling dan banyak bertanya ke teman di grup Whatsapp, tentang rencana perjalanan darat dengan menyetir mobil sendiri ke Solo via jalan tol. Kira-kira berapa estimasi biaya tol dan bensin?

Seorang teman pengurus komunitas otomotif, Mas Sugie, memberikan informasi penting ke saya. “Mahal di tolnya dari padabbensinnya wk..wk tapi estimasi waktu lebih efisien,” kata mas Sugie.

Mas Sugie kemudian merinci biaya perjalanan seperti ini. Bayar Tol 450 ribuan dari Bekasi ke Solo. (Tapi akhirnya saya berangkat dari Jakarta, karena jemput anak, mantu dan cucu sekalian satu mobil).

Itu tadi baru biaya tol. Sedang untuk bensin BBM, kata mas Sugie, perlu dipersiapkan untuk mobil LCGC sekitar 300 ribuan, “sudah sampai di Solo, Om”.

Rute perjalanan, juga diberitahu oleh Mas Sugie, si Raja Jalanan, dan penasehat komunitas mobil merah (Red Car Red Aksi) chapter Bekasi ini lewat pesan wahtsaap.

Sugie: “Jika akan menuju Jogya dulu, bisa ambil opsi keluar Salatiga lewat Magelang baru ke Jogya.

Saya: “Kalau keluar Boyolali jauh ya mas? teman saya kemarin lewat Boyolali pas ke Jogja”.

Sugie: “Bisa juga. Tapi jarak tempuh kilometernya lebih jauh. Karena harus memutar ke Klaten dulu baru Jogya”.

MEMULAI PERJALANAN

Jakarta – Solo lewat jalan tol ditempuh 12 jam baru sampai? Lama buuanget, padahal bukan jalan biasa non tol? “Tetangga saya berangkat lewat jalan yang sama ke Solo, cuma di tempuh 7 jam,” kata kawan saya, Firdaus Pagagan. Kenapa bisa begitu?

Itu pernyataan Bang Firdaus, saat membaca postingan saya di media sosial FB. “Kali ini lain,” jawab saya. Beda cara, lain pengalaman. Itulah traveller dadakan dan petualang amatiran.. “Hahahaha…biasalah Bang”, kata saya kepada Bang Firdaus.

Ini kan perjalanan santai. Berangkat Subuh dari Jakarta tiba Magrib di Solo (pk 06.00 – 18.00). Setiap ada rest area mampir, kalau ada tempat kuliner asyik singgah dulu. Lebih banyak mampir-mampirnya dari pada menyetirnya hahaha….

Bersambung ke : Ketemu Pak JK di Solo dan Ibu Jokowi, Catatan Perjalanan (2)

Salam :

Nur Terbit

#KMAA25

Judul asli “12 Jam Nyetir Santai Jakarta – Solo”

Tentang Penulis: Nur Terbit

Nur Terbit (Nur Aliem Halvaima), Profesi Jurnalis, Lawyer, Youtuber, Penulis Buku "Lika-Liku Kisah Wartawan" (PWI Pusat 2020), "Wartawan Bangkotan" (YPTD 2020), "Mati Ketawa Ala Netizen" (YPTD 2020), "Bunga Rampai Prahara di Tengah Corona" (YPTD 2021), menulis di Kompasiana, Viva, Lintas Kompas, Pos Sore, Terbitkan Buku Gratis YPTD, freelance di beberapa media, Lahir di Makassar Sulsel 10 Agustus 1960, Suami 1 Istri, Ayah 2 Anak, Kakek dari 2 Cucu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed