oleh

Polemik “Uang Panai” (1) : Mahar di Perkawinan Suku Bugis Makassar

Pengantin Bugis-Makassar (foto dok FB Ayu Nur Fuada)

GADIS BUGIS DAN UANG PANAI –Bermula dari beredarnya video yang viral di media sosial. Salah satunya di grup What’sAap. Seorang wanita mengaku gadis etnis Bugis, emosi menghadapi seorang pria yang mau melamarnya dengan cara “preman.

 

Dari video tersebut, saya kemudian terinspirasi menulis (kembali) soal tradisi dari prosesi pra-nikah dalam adat perkawinan suku Bugis-Makassar ini.

Kenapa saya pakai istilah “kembali”? Karena sudah beberapa kali saya menulis soal “Uang Panai” — baik di media cetak maupun online — dari berbagai sudut pandang.

Bahkan saya lengkapi dengan konten video di channel saya YouTube.com/NurTerbit ini :

 

Di antaranya, juga dimuat dalam versi reportase ala blogger di blog pribadi NurTerbit.com seperti di link ini : Uang Panai di Makassar Kenapa Mahal?

*****

JANGAN SEPELEKAN UANG PANAI

Jangan sepelekan itu UANG PANAI… (Mahar, atau Uang Belanja) selain mas kawin dan seserahan pra pernikahan adat Bugis-Makassar, di Sulawesi Selatan. Gak percaya? Coba deh dengar kata wanita ini 🤣 #NurTerbit

Gadis Bugis, Nur Terbit
Gadis Bugis (repro : Nur Terbit)
Video gadis Bugis yang viral itu (repro : Nur Terbit)
Video gadis Bugis yang viral itu (repro : Nur Terbit)

Begitu kata pengantar saya di akun FB Nur Alim Advokat. Lalu atas permintaan teman-teman FB yang non etnis Bugis-Makassar, maka saya terjemahkan secara sederhana video gadis Bugis yang viral itu, seperti berikut ini :

Di video tersebut ada dialog perempuan dengan laki-laki (gak terlihat di video). Laki-lakinya bilang, “kalau maharnya cuma 3 juta sih saya masih sanggup”

Si perempuannya tersinggung. Dia bilang, “saya ini orang Bugis-Makassar, bukan orang Jawa. Kalau begitu mau kamu, jangan berani datang ke Makassar melamar saya, katanya 

“Jangankan 3 juta maharnya, 30 juta pun masih dicurigai kalau melamar calon istri di Makassar”.

Bahkan bisa jadi omongan/gosip satu kampung. Bisa jadi, mahar 30 juta itu dianggap perempuannya sudah hamil duluan, atau 30 juta itu mungkin separuhnya uang dari calon pengantin perempuan juga

Di Makassar, mahar itu sebutannya adalah UANG PANAI, atau tambahan uang belanja bagi calon pengantin perempuan. Besarnya uang Panai, tergantung status perempuannya

Kalau dari kalangan ningrat, berpendidikan, sarjana, gadis, dan berstatus Hajjah (sudah naik haji), maka uang Panai-nya juga mahal. Akan disesuaikan dengan prestasi dan prestisius calon pengantin wanita. Ada yang bahkan sampai milyaran loh uang Panainya..

Lebih kurangnya penjelasan ini, mohon disempurnakan jika ada tokoh Bugis-Makassar yang baca status ini. Tabek….mariki di?

Bekasi, Selasa 28 September 202

#NurTerbit

KOMENTAR PEMBACA

Makanya laria ke Surabaya bottiing (nikah) 😁😁🙏🏾 Tida berania ambe resiko 🤣🤣 (Mappa Manan)

Suamiku orang Jawa tapi tetap bawa uang panai karena istrinya Bugis, harus ikuti adat istri. Suami asal suku lain harus mengikuti adat Bugis (Fri Herlina Djufri).

Itulah Makasar, apa aja kasar. Gitu kata Sakkar Babinsa yang pernah jadi lurah ane sewaktu masih tinggal di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Endang Koeswari Sobirin)

Endang Koeswadi Sobirin : Orang Makasar itu ngomongnya aja yang kasar, tapi hatinya selembut salju, ciiieeeh.. 🥱 (Nur Terbit)

Gak ngerti pak saya (dengan yang diucapkan gadis Bugis di video itu), padahal pengen tau (Betti Risnalenni)

Betti Risnalenni : di video tersebut ada dialog perempuan dengan laki-laki (gak terlihat di video) yang menggelitik hehe. Iya Bun, saya sudah translet ke dalam bahasa Makassar di status di atas (Nur Terbit).

🤣🤣🤣🤣…baru  tau ya ada yang namanya Uang Panai? (Hj Rosniati)

Hj-Rosniati : saya sih sudah tau kakanda, karena saya juga sudah melewati yang namanya uang Panai. Tapi orang di luar Sulawesi mungkin banyak yang belum tau hahahaha … (Nur Terbit)

Oh ok. Uang panai itu masih mahal dan harus ya pak ? (Betti Risnalenni)

Betti Risnalenni : Itu tradisi adat Bu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Ada juga yang mau kompromi, misalnya biaya pesta, gedung, katering dan lain-lain ditanggung bersama hehehe…(Nur Terbit).

Cantiknya pengantin wanita suku Bugis Makassar (foto FB Ayu Nur Fuada)
Cantiknya pengantin wanita suku Bugis Makassar (foto FB Ayu Nur Fuada)

Jadi mikir, punya mantu orang makasar Pak Nur (Betti Risnalenni)

Betti Risnalenni : hahaha ….. Sebenarnya kalau dipikir, masuk akal juga sih kalau dikaitkan dengan biaya yang harus dikeluarkan kalau orang mengadakan pesta perkawinan. Mahar atau “Uang Panai” intinya kan bantuan biaya pesta untuk dari pria ke kelurga calon pengantin wanita.

Mungkin tradisi ini mirip-mirip di daerah tertentu di Padang, Sumatera Barat. Ada adat dimana pihak wanita yang datang melamar ke laki-laki. Istilahnya wanita “menjemput” si laki-laki. Ya kira-kira begitulah “uang Panai” di Sulawesi Selatan hehe…

Di Jawa, terutama di Jabodetabek, juga ada yang mirip-mirip koq. Pihak laki-laki ikut bantu “uang belanja” — yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi si laki-laki. Bedanya, besarnya uang belanja di Jawa, tidak sebesar yang Panai di Makassar…🙏 (Nur Terbit)

Salam, Nur Terbit, #KMAA32

Sebagian dari tulisan ini sudah dimuat di akun Facebook @ Nur Alim Advokat dengan judul : “Gadis Bugis dan Uang Panai”.

 

Tentang Penulis: Nur Terbit

Nur Terbit (Nur Aliem Halvaima), Profesi Jurnalis, Lawyer, Youtuber, Penulis Buku "Lika-Liku Kisah Wartawan" (PWI Pusat 2020), "Wartawan Bangkotan" (YPTD 2020), "Mati Ketawa Ala Netizen" (YPTD 2020), "Bunga Rampai Prahara di Tengah Corona" (YPTD 2021), menulis di Kompasiana, Viva, Lintas Kompas, Pos Sore, Terbitkan Buku Gratis YPTD, freelance di beberapa media, Lahir di Makassar Sulsel 10 Agustus 1960, Suami 1 Istri, Ayah 2 Anak, Kakek dari 2 Cucu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed