oleh

Polemik “Uang Panai” (3) : Jodoh Dalam Perkawinan Adat Bugis Makassar

“Uang panai yang dikenal dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar ini sejatinya, merupakan perlambang penghormatan terhadap kaum wanita”

Itu bukan kata saya loh. Tapi penyataan dari Sosiolog dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rahmat Muhammad.

Nah, dalam tiga seri tulisan “Polemik Uang Panai” ini — dua tulisan sebelumnya sudah posting di sini — maka di bagian ketiga ini saya coba menyinggung tentang “jodoh” — masih dalam perkawinan adat Bugis Makassar.

Pengantin Nur Terbit
Pakaian pengantin adat Bugis Makassar (foto dok Nur Terbit)

JODOH atau perjodohan, memang selalu menarik dibicarakan. Jodoh dengan pilihan sendiri atau dijodohkan oleh orangtua. Keduanya misterius. Tapi bagaimanapun juga, jodoh itu (selain ajal dan rezeki) ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan Hansip.

Di Provinsi Sulawesi Selatan terutama di kalangan masyarakat suku Bugis – Makassar, jodoh atau perjodohan tidak lepas dari masalah “uang Panai”. Apalagi jika sudah melangkah ke jenjang perkawinan dengan segala pernik – pernik dan tahapan – tahapannya.

Apa itu “Uang Panai” dalam perkawinan etnis Bugis-Makassar? Kenapa menjadi “momok” bagi pemuda yang mau menikah? Saya akan mencoba membahas dalam tulisan berikut ini.

Orang di luar Provinsi Sulawesi Selatan tentu asing dengan istilah ini. Uang Panai adalah kewajiban membawa uang bagi pria yang melamar seorang gadis, di luar mas kawin atau mahar.

Uang Panai adalah tradisi suku Bugis-Makassar yang masih berlaku hingga sekarang.

 

Yakni berupa pemberian bantuan uang belanja untuk biaya pesta calon mempelai wanita saat pria datang melamar.

Uang Panai, sempat jadi topik pembicaraan, khususnya di kalangan remaja ABG Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Itu karena kebetulan ada sebuah film komedi situasi berjudul sama, “Uang Panai”.

Pengantin Nur Terbit
Saya dan istri saat duduk pengantin adat Bugis Makassar, 1987 (foto dok Nur Terbit)

Di poster filmnya tertulis: Uang Panai Maha (R) L, di mana huruf “R” pada kata “mahar” disisipin huruf “L”. Dari “mahar” menjadi “mahal”. Sebuah fenomena sosial yang diangkat ke layar lebar.

Uang Panai atau Doe’ Panai (dalam bahasa Makassar) atau Doe’ Paenre’ (dalam bahasa Bugis, berarti uang naik. Yakni sejumlah uang yang diberikan kepada calon mempelai wanita. Uang tersebut dimaksudkan untuk keperluan pesta pernikahan dan belanja pernikahan lainnya.

Dengan demikian, uang panai tidak termasuk mahar.

Tapi Uang Panai adalah adat tradisi yang terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga.

Sebagian pria Bugis-Makassar sedikit “ketakutan” soal uang panai ini, terutama yang ingin menikahi gadis pujaannya yang bersuku sama. Mengapa? Karena semakin hari demi hari nominal uang panai semakin tinggi, puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran.

UANG PANAI TERMAHAL

Contoh cerita berikut ini. Omar Muhammad Sahar, sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Melihat dari namanya, dia juga bukan Raja Arab, atau minimal masih kerabat Raja Salman yang kaya raya itu.

Omar adalah “Daeng Umar” (sapaan bagi orang Makassar), pria asal Gowa, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak ada yang istimewa. Sama saja dengan pria Makassar lainnya.

Namun “Si Daeng” tiba-tiba jadi terkenal dan fotonya sempat viral di media sosial. Itu karena prosesi lamaran atau tunangan yang dia lakukan.

Betapa tidak, Omar meminang wanita Bugis bernama Aqilla Nadya.

 

Kejadian yang juga menarik perhatian para netizen ini, terjadi di Kabupaten Soppeng Sulsel awal Februari 2020 silam.

Tidak tanggung-tanggung. Dia memberikan “Uang Panai” sebesar Rp 3 miliar saat melamar Aqila.

Selain “Uang Panai” 3 miliar, juga masih ada lagi penyerahan perhiasan berupa berlian serta satu unit rumah.

Nah itulah keunikan tradisi Uang Panai di kalangan suku Bugis-Makassar.

Keunikan tersebut menginspirasi saya menulis di blog pribadi saya nurterbit.com dengan judul : “Uang Panai di Makassar Kenapa Mahal?”

APA BEDANYA UANG PANAI, MAHAR ATAU SESERAHAN?

Secara umum yang orang ketahui, uang panai, sering juga ditulis “panai” atau “panaik”, merupakan uang yang wajib diserahkan pihak pria ke keluarga pihak wanita yang akan menjadi istrinya.

“Uang Panai” ini berbeda dengan mahar ataupun seserahan. Ketika sudah diberikan pada pihak calon istri, uang panai sepenuhnya untuk keluarga pihak wanita.

Sosiolog dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rahmat Muhammad, mengatakan uang panai yang dikenal dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar ini sejatinya, merupakan perlambang penghormatan terhadap kaum wanita.

Atau secara spesifik, sebagai penghormatan calon suami terhadap calon istri.

“Uang panai juga merupakan siri, atau kewibawaan-harga diri dalam budaya Bugis-Makassar,” kata Rahmat seperti dikutip dari detikNews.

Sosiolog Unhas lainnya yaitu Ramli AT menjelaskan dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, pria yang hendak menikah harus punya kemampuan finansial yang cukup.

Nikah Nur Terbit
Pengantin wanita dalam pakaian ada Bugis Makassar (foto dok Ayu Nur Fuada)

Kenapa demikian? Laki-laki yang menikah itu istilahnya harus mampu ‘mengelilingi dapur sebanyak tujuh kali’, artinya punya kemampuan kemandirian ekonomi. Nominal uang panai bermacam-macam.

Menurut Rahmat Muhammad, umumnya berkisar antara jutaan hingga ratusan juta rupiah. Jumlah uang panai ini biasanya akan diumumkan saat prosesi lamaran atau tunangan.

Pengumuman inilah yang membuat “uang panai” jadi lambang prestise di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Dalam perkembangannya, angka itu menjadi simbol gengsi karena angka itu dipublish.

Misalnya, seorang perempuan dilamar dengan uang panai sekian ratus juta rupiah, itu menjadi simbol bahwa yang terlibat dalam pernikahan ini adalah orang mampu. Memang jumlah panai harus diumumkan.

Rupanya jumlah “uang panai”, juga tak melulu soal prestise.

Uang panai yang tinggi juga bisa menjadi tanda bahwa pihak calon mertua menolak calon suami anaknya.

Oleh karena itulah keluarga wanita akan menetapkan nominal uang panai yang tinggi agar si pria urung menikahi calon istrinya.

Makanya, ada cara keluarga wanita menolak laki-laki. Ya, dengan menaikkan uang panai menjadi sangat tinggi. Kalau sudah tidak masuk akal, tidak memungkinkan dilihat kemampuan laki-laki.

“Biasanya, itu maksudnya adalah penolakan,” tutur Ramli. Wow …

Nur Terbit, #KMAA36 #UangPanai

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Jodoh dan “Uang Panai” di Kalangan Masyarakat Suku Bugis Makassar”

Tentang Penulis: Nur Terbit

Nur Terbit (Nur Aliem Halvaima), Profesi Jurnalis, Lawyer, Youtuber, Penulis Buku "Lika-Liku Kisah Wartawan" (PWI Pusat 2020), "Wartawan Bangkotan" (YPTD 2020), "Mati Ketawa Ala Netizen" (YPTD 2020), "Bunga Rampai Prahara di Tengah Corona" (YPTD 2021), menulis di Kompasiana, Viva, Lintas Kompas, Pos Sore, Terbitkan Buku Gratis YPTD, freelance di beberapa media, Lahir di Makassar Sulsel 10 Agustus 1960, Suami 1 Istri, Ayah 2 Anak, Kakek dari 2 Cucu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed