oleh

Hambatan dalam Menulis

-Terbaru-Telah Dibaca : 52 Orang

Oleh Nuraini Ahwan

Hambatan dalam menulis banyak sekali. Hambatan ini menjadi alasan untuk tidak menulis. Hambatan ini banyak diungkapkan oleh orang yang belum pernah merasakan bagaimana menulis itu. Tidak bagi para penulis. Para penulis dengan entengnya mengatakan menulis itu mudah. Bahkan ada penulis mengatakan bahwa menulis itu semudah membuat telur ceplok (menurut ibu Lilis). Membuat telur ceplok siapa pun bisa. Anak-anak kecil juga bisa membuat telur ceplok. Seperti itulah penulis yang sudah andal mengumpamakan mudahnya menulis.

Apa saja hambatan yang diungkapkan oleh orang yang tidak pernah menulis?
‌1. Susah memulai
‌2. Tidak tahu apa yang harus ditulis
‌3. Kalau menulis kata-katanya itu-itu saja
4. Sulit mendapatkan kata-kata
5. Malu kalau tulisannya dibaca orang
6. Tidak ada waktu, tidak sempat.

Bagi penulis pemula seperti saya misalnya, hambatan-hambatan itu ada benarnya juga tetapi banyak juga tidak benarnya. Mengapa?
Mari coba kita memberikan beberapa alasan mengapa membenarkan hambatan yang diungkapkan oleh orang yang belum pernah menulis. Mengapa juga penulis andal membantah hambatan-hambatan  untuk seseorang menulis.

Susah memulai, kata-katanya itu-itu saja, sulit mendapatkan kata-kata, merupakan alasan yang bisa jadi ya, karena mereka tidak banyak membaca. Sedangkan tidak tahu mau menulis apa, merupakan hambatan yang tidak bisa dibenarkan karena bahan tulisan sangat banyak terbentang di alam. Seluruh yang kita lihat, dengar, rasakan, dan lakukan bisa menjadi bahan tulisan. Hanya saja ide mungkin yang belum bisa mereka gali.

Hambatan berikutnya adalah malu tulisan dibaca orang. Jika ini alasannya maka seseorang tidak akan menulis. Padahal kalau sudah menulis dan dishare atau dibaca orang tidak ada komentar negatif tentang tulisan kita. Atau jika ada komentar negatif maka itu menjadi bahan perbaikan bagi tulisan kita berikutnya. Komentar yang mengandung perbaikan justru akan membuat kita belajar menjadi editor sendiri buat tulisan sendiri sebelum dishare ke orang lain.

Lalu hambatan berikutnya , tidak ada waktu. Saya menjadi ingat buku karya Bapak Much. Khoiri yang berjuduk SOS atau Sopo Ora Sibuk? Siapa tidak sibuk. Kalau tidak salah artinya seperti itu karena saya bukan dari jawa. Kalau menunggu waktu khusus untuk menulis maka banyak orang tidak punya waktu. Menulis tidak membutuhkan waktu khusus tetapi menulis bisa di sela-sela kesibukan.

Bagi orang yang sudah mulai merambah dunia tulis menulis apalagi sudah masuk pada kategori penulis andal, mereka bisa mengatasi segala macam hambatan.  Jika susah memulai maka menulis bisa dimulai dari hal-hal yang paling disukai. Jika ide sulit dicari, maka penulis juga tentu sudah punya balon tulisan atau bakal calon tulisan. Balon tulisan ini biasanya disimpan di notebook atau catatan di handphone. Biasa juga di tulis di writer plus dengan free writingnya.

Sulitkah mendapatkan kata-kata atau kata-katanya itu-itu saja? Jawabannya tidak bagi penulis karena perbendaharaan kata akan semakin kaya jika gemar membaca. Penulis adalah pembaca juga. Dosen IAIN Tulungagung, Bapak Ngainun Naim, mengatakan dengan kalimat indahnya, “Membacalah agar mampu merangkai kata.”
Jadi jika merasa kekurangan kata-kata maka perbanyaklah membaca.

Merasa tidak ada waktu, maka dapat dibantah dengan mengatakan bahwa menulis tidak membutuhkan waktu khusus. Menulis bisa di sela-sela kesibukan. Misalnya jika sudah penat di depan lattop mengerjakan tugas maka bisa membuka balon tulisan yang ada di handphone. Tulis sedapatnya saja tidak harus selesai. Terpenting adalah komitmen untuk menulis.

Hambatan-hambatan yang ditulis di atas semuanya bisa di atasi. Cara mengatasinya beragam. Bangun minat membaca dan tingkatkan daya baca. Baca cathing di whatsaap ya, baca buku mengapa tidak? Terpenting adalah ada kemauan untuk menulis, pegang komitmen dan perkuat konsistensi.
Lalu GILA, (Gali Ide Langsung Action)

Lomba blog ke-22

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed