oleh

Rasanya Baru Kemarin ..

-Berita, Humaniora, Peristiwa, Puisi, Sosbud, Terbaru, Tokoh, YPTD-Telah Dibaca : 190 Orang

Selamat pagi sobat,

Judul artikel di atas saya kutip dari judul puisi yang dibuat oleh K.H. Mustofa Bisri atau yang lebih sering dipanggil dengan Gus Mus.

Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2022, saya ingin mengajak sobat yang membaca artikel di rubrik Celoteh Nurwendo Dalam Goresan Pena di pagi hari ini untuk sejenak merenungkan makna kemerdekaan yang sudah kita peroleh selama 77 tahun seraya menyimak kembali puisi yang ditulis oleh Gus Mus.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini sudah menulis puisi yang berjudul “Rasanya Baru Kemarin” sejak tahun 1994. Namun setiap tahunnya di peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Gus Mus selalu merevisi puisinya tersebut.

Pria berusia 78 tahun ini memang kerap menuliskan sebuah puisi yang menyentuh kalbu bagi yang membacanya dan puisi yang berjudul “Rasanya Baru Kemarin”  rasanya tepat untuk dihadirkan kembali sebagai perenungan.

Sosok ulama sekaligus budayawan kharismatik ini kerap menggambarkan situasi di negeri ini melalui tulisan puisinya, seperti salah satu puisinya yang berjudul “Negeri Haha Hihi”.

Yang saya sampaikan di artikel ini adalah puisi yang berjudul “Rasanya Baru Kemarin” yang telah direvisi oleh Gus Mus pada tahun lalu (2021).

Adapun isi puisi “Rasanya Baru Kemarin” karya Gus Mus yang saya kutip dari https://jateng.suara.com (17/08/2021) adalah sebagai berikut :

*****

Rasanya Baru Kemarin 

karya : Gus Mus 

Rasanya baru kemarin
Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
kemerdekaan kita di hadapan dunia

Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya dari para Jurkam PDI saja

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah 71 tahun lamanya
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada

Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak banya yang turun tahta

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi

Rasnya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya
Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriaki reformasi
Tanpa merasa risih. 

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini berdaulat
Sudah semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah 76 tahun lamanya
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan 
yang kemarin dibangga-banggakan 
sudah mulai runtuh 

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
Pelukan kasih banyak ibu-bapak
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata

Banyak suadara terhadap saudaranya
Daging yang selama ini terus dimanjakan
Kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
Para pengusaha berlaku sewenang-wenang
Kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
Sudah semakin melecehkan kebersamaan 

Rasanya baru kemarin
Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya baru kemarin.
Aku ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua 
Bagaimana rasanya merdeka ?

Ingin rasanya
Bertanya kepada kalian semua
Sudahkan kalian
Benar-benar merdeka ?

*****

Mudah mudahan perenungan di pagi hari ini memberikan manfaat bagi kita semua ..

Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamiin ..

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ..

Sobat, saatnya saya undur diri.

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat ..

 

NH

Depok, 17 Agustus 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan