oleh

Gojek Dan Grab Merger ? Monopolikah ?

-Berita, Bisnis, Ekonomi-Telah Dibaca : 475 Orang

Sambil menikmati secangkir teh hangat di pagi ini, saya membaca di media online tentang rencana merger dua perusahaan raksasa aplikasi transportasi berbasis online yaitu Gojek dan Grab.

Berita menarik ini yang saya angkat sebagai topik di rubrik NGETEH MORNING di pagi ini.

Saya melihat bahwa rencana merger dua perusahaan bertitel decacorn, Grab dan Gojek, tentu saja dapat menimbulkan plus dan minus bila dilihat dari sudut pandang bisnis.

Dari sisi plusnya, rencana merger antara Grab dan Gojek dapat menguntungkan karena masing-masing perusahaan tersebut memiliki kelebihan, seperti Grab mempunyai keunggulan dalam layanan angkutan roda empat yaitu Grab Car, sedangkan Gojek memiliki unggul di angkutan roda dua yaitu Gojek. Kelebihan dari masing masing perusahaan ini bila digabungkan akan sangat menguntungkan.

Selain itu, apabila merger benar benar terjadi maka baik Grab maupun Gojek dapat melakukan ekspansi di bidang dompet digital yang mengarah pada pengembangan ekosistem fintech di masa mendatang. Hal ini dikarenakan bahwa Grab memiliki Ovo sedangkan Gojek memiliki Gopay sebagai penyediaan dompet digital di masing-masing aplikasinya.
Rencana merger ini juga akan membuat Grab dan Gojek akan memperoleh manfaat berupa perluasan pangsa pasar sekaligus adaptasi IT yang lebih canggih.

Kemudian rencana merger bisa jadi merupakan keinginan dari investor Grab maupun Gojek. Karena bila Grab dan Gojek terus bersaing, maka kedua perusahaan ini akan terlalu banyak uang yang harus dikeluarkan hanya untuk mempertahankan pangsa pasar dan menggaet konsumen baru. Oleh karena itu, rencana merger ini akan membuat investor Grab dan Gojek akan dapat meraih keuntungan lebih cepat.

Namun demikian dari sisi minusnya rencana merger Grab dan Gojek bisa mengganggu iklim transportasi online di Indonesia. Karena tanpa ada merger pun maka baik Grab maupun Gojek sudah tampak dominan dalam transportasi online di Indonesia. Oleh karena itu, rencana tersebut benar benar terjadi maka bukan tidak mungkin muncul praktek monopoli.

Saat ini ketika merger belum terjadi maka bagi pengguna aplikasi transportasi online masih mempunyai alternatif lain bila salah satu dari Grab dan Gojek mempunyai masalah pada aplikasinya.

Namun bila merger telah terjadi maka pengguna aplikasi transportasi online akan kesulitan untuk beraktivitas menggunakan model transportasi online tersebut. Saat ini, kedua perusahaan baik Grab maupun Gojek telah merajai transportasi online dengan segala kelebihannya.

Rencana merger ini nampaknya ditolak oleh Serikat pengemudi Grab dan Gojek se-Indonesia yang merasa tidak dilibatkan dalam pembicaraan merger di antara dua perusahaan transpirtasi online tersebut.

Mereka keberatan karena 3 hal yaitu :
1. Dapat memicu pemutusan mitra driver secara massal dengan dalih efesiensi.
2. Aplikator masih kurang memperhatikan kesejahteraan mitra drivernya.
3. Adanya praktek monopoli bisnis jasa transportasi online.
Rencana merger ini masih ada waktu untuk dievaluasi apalagi dengan munculnya penolakan dari Serikat pengemudi Grab dan Gojek se-Indonesia.

Apakah merger Grab dan Gojek benar benar terealisasi ?

Kita tunggu saja ..

Dan saya pun undur diri untuk kembali menikmati secangkir teh hangat di pagi ini ..
Salam sehat ..

 

NH

Depok, 18 Desember 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed