oleh

Mulai Menulis untuk Mengikat Ilmu

-Terbaru-Telah Dibaca : 210 Orang
Gambar: pexels-pixabay-257897
Mulai Menulis untuk Mengikat Ilmu

Di antara Anda pasti pernah, mungkin beberapa kali bahkan puluhan kali, mengikuti webinar. Webinar menjadi makin populer pada saat pembatasan sosial berskala besar akibat pandemi Covid-19 yang melanda negeri. Seminar, lokakarya/workshop, diklat (pendidikan dan latihan) lazim dilaksanaan secara daring. Belum lagi kulwap (kuliah melalui whatsapp) digelar untuk meingkatkan kompetensi guru.

Baca juga: Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya

Jika diibaratkan berburu dan ilmu atau pengetahuan dan keterampilan yang kita dapat adalah buruan, bagaimana mengikatnya agar tidak lari dan hilang? Tidak lain dan bukan adalah dengan menuliskannya. Salah satu cara mengikatnya adalah dengan menulis resumenya di blog.

Apakah harus di blog? Tidak. Boleh saja Anda menuliskanya pada buku tulis sebagaimana lazimnya kita mencatat. Menuliskannya di komputer/laptop juga bisa menjadi pilihan. Namun kedua media itu rentan hilang karena suatu hal. Entah karena kerusakan pada fisik buku atau pada program dan fisik komputer kita.

Beda halnya jika menuliskannya di blog. Blogger, misalnya. Tulisan itu tersimpan pada ruang penyimpan yang seolah tidak ada batasnya. Satu-satunya kemungkinan hilang adalah penulis kehilangan kata kunci atau password untuk mengaksesnya. Tulisan di blog menjadi jejak digital penulisnya yang akan terus ada.

Saya, belajar secara autodidak membuat blog pada bulan Juli tahun 2009. Blog yang dibuat tahun 2009 tersebut, hanya sekali yang memuat 7 postingan. Selebihnya, tidak lebih dari 5 postingan setiap bulannya. Itu pun tidak secara rutin setiap bulan penulis mengunggah tulisan. Bahkan pada tahun 2016 tidak ada satu pun coretan yang tergores pada blog.

Anda Seorang Menulis

Ada beberapa pernyataan sebagai berikut:

  1. Saya tidak bakat menulis.
  2. Menulis itu susah banget.
  3. Saya tidak punya waktu yang cukup untuk menulis.
  4. Menulis itu membuang-buang waktu saja.

Jika yang membuat pernyataan itu adalah Anda yang kebetulan bekerja sebagai guru, saya ikut prihatin. Mengapa? Karena sesungguhnya hidup Anda sebagai guru setiap hari bergelut dengan tulisan. Jika kita berhadapan tentu saya ingin bertanya, “Tulisan apa saja yang Bapak dan Ibu hasilkan setiap hari?”. Mungkin jawaban Anda adalah: administrasi kelas, pesat/chat WA, status FB, status WA, status IG, Karya Ilmiah, dan lain-lain. Nah, itu dia. Bapak dan Ibu sebenarnya seorang penulis.

Misalnya menulis untuk mengungkapkan isi hati. Siapa yang mengambil manfaatnya? Si penulis sendiri. Tidak inginkah agar tulisan itu dinikmati orang lain agara mereka mengambil hikmah dari apa yang Anda alami?

Contoh lainnya misalnya, Anda menemukan salah teknologi tepat guna atau menciptakan alat peraga. Agar orang lain mengetahui apa, mengapa, dan bagaimana alat tersebut dibuat atau digunakan Anda pun harus menuliskannya.

Anda mengikuti webinar. Dari webinar tersebut Anda mendapatkan pengetahuan dan/atau keterampilan. Agar tidak lupa atau ingin orang lain mengetahui sesuatu yang Anda peroleh pada kegiatan tersebut maka materi webinar tersebut dirangkum dan dituliskan.

Bagaimana Saya Belajar Menulis

Bagaimana saya belajar menulis, sedangkan saya sudah tua? Saya sudah telanjur tua, oleh karena itu tidak ada kesempatan belajar menulis lagi. Jika ini yang terjadi, jangan belajar teori lagi namun segeralah menulis.

Prof. Richardus Eko Indrajit pernah bercerita pada kelas menulis online yang saya ikuti. Jika Bapak dan Ibu setiap malam satu lembar tentang cerita pengalaman sebagai istri atau sebagai seorang ibu, maka dalam tiga bulan akan terkumpul hampir seratus halaman cerita. Kumpulan cerita harian tersebut dapat diterbitkan misalnya berjudul Bunga Rampai Pengalaman sebagai Seorang Istri.

Guru Blogger Indonesia, Omjay atau Bapak Wijaya Kusuma sering menyarakan menulislah dalam tiga alinea. Pembukaan, inti, dan penutup. Pada pembukaan kita sapa pembaca, pada inti kita bercerita, pada bagian penutup kita buat kesimpulan. Jadilah sebuah tulisan.

Tentu, tidak ada yang instan di dunia ini. Semua berproses. Profesor yang sangat ulung pun ia berasal dari seorang yang melewati bangku sekolah dasar dan seterusnya. Dalam konsteks menulis, keterampilan menulis pun tidak diperoleh serta-merta. Keterampilan itu perlu diasah. Membuat kalimat efektif yang baik dan penggunaan ejaan yang benar adalah keterampilan yang diasah karena dipraktikkan. Hal itu dapat terwujud jika kita pun rajin membaca.

Media Penerbitan Paling Mudah dan Murah

Tulisan hasil dari beberapa contoh kegiatan di atas perlu didokumentasikan. Satu-satunya media penerbitan yang paling mudah dan murah blog pribadi. Bung Dedi Dwitagama pernah mengatakan pada salah sesi materi belajar menulis yang saya ikuti, blog adalah majalah pribadi. Tidak ada satu orang pun yang Anda mintai persetujuan untuk menerbitkan tulisan atau gambar milik Anda kecuali diri Anda sendiri. Bayangkan jika kita ingin tulisan kita diterima penerbit buku atau majalah, ia akan melewati beberapa meja redaksi. Bisa saja, bahkan banyak yang mengalami, tulisan kita tergeletak begitu saja  dan tidak diterbitkan karena ada syarat yang belum terpenuhi.

Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk membuat blog. Simpan aneka tulisan, lukisan, dan foto milik Anda di blog. Jika itu dilakukan maka bukan hanya diri sendiri yang menikmati namun orang lain mudah-mudahan dapat mengambil manfaat dari tulisan yang kita torehkan.

 

Salam blogger sehat
Susanto
SDN Mardiharjo, Musi Rawas

 

                      

#NaskahKedua

#DariBlogMenjadiBuku

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed