oleh

Obituari Prie GS : Dari Ipung yang Merenung Sampai Mati

-Humaniora, Terbaru-Telah Dibaca : 239 Orang

 

2021 baru memasuki bulan kedua dan kita kembali diliputi kesedihan. Kali ini saatnya Pak Dhe Prie GS yang kembali ke haribaanNya. Kabar kepergiannya menjadi trending topic. Seorang budayawan yang juga kartunis, penyair, penyiar, public speaker diberbagai seminar, juga menjadi host diacaranya sendiri.

Beliau yang bernama asli Supriyanto ini, lebih masyhur dikenal dengan nama Prie GS. GS sendiri merupakan kependekan dari Great Spirit yang berarti semangat yang besar.

Saya yang bertemu langsung sekalipun tidak pernah, tapi merasa amat kehilangan. Tulisan-tulisan dengan gaya berceritanya yang sederhana membuat saya tidak perlu bersusah-susah memahami konteks sampai harus menyambangi mbah google. Meski demikian tulisan-tulisannya begitu dalam dan bagi saya karya-karyanya terasa dekat dan tak berjarak.

Ipung adalah sosok imajiner ciptaan Prie GS dalam novel yang ditulisnya. Ipung menemani masa-masa sulit saya. Sosok yang membuat saya terpikat meski dalam imaji. Dari Ipung inilah saya belajar untuk tidak banyak mengeluh dengan segala keterbatasan yang ada dalam hidup saya. Benar jika disematkan sebagai novel motivasi karena saya merasakannya sendri setelah membaca novel ini.

Selain Ipung tulisan beliau lainnya yang terasa mendalam bagi saya terdapat dalam bukunya yang berjudul Merenung Sampai Mati.  

Membaca lembar demi lembar buku ini, membuat saya tersadar akan banyak hal yangg terkadang saya anggap sepele. Padahal ketika direnungkan lebih seksama menjadi perihal yang begitu sarat makna.

Sejak awal membaca buku ini saya seperti ditegur dengan halus, betapa selama ini saya merasa biasa saja ketika mendarat dengan selamat dari pesawat. Padahal harusnya saya banyak bersyukur atas KuasaNya masih diberikan keselamatan. Berikut cuplikan tulisannya:

Banyak pesawat jatuh belakangan ini. Akan tetapi, banyak benarkah? Tidak, tidak banyak. Kata “banyak” hanya berasal dari persepsi manusia yang keliru, yang menganggap pesawat harus selalu tidak bisa jatuh. Padahal, menurutnya siapa yang berani bermain di ketinggian harus siap jatuh. Jadi, kodrat pesawat adalah “jatuh”, sebagaimana hidup harus mengenal kematian – hal. 1

Semakin tergelitik saat membaca bab Khotbah Di Sekitar Kita, menceritakan gambaran yang sangat real. Betapa banyaknya khotbah dimana-mana, tetapi tetap saja kejahatan pun masih bergelimang dimana-mana, juga penindasan kepada siapa saja terutama mereka yang lemah tentu saja. Menggelitik karena dimulai dengan sebuah pertanyaan, “kita tidak tahu persis, apakah kita jenis masyarakat pengkhotbah, pendengar khotbah, atau sekedar penyelenggara khotbah?

Kini dibulan perayaan cinta beliau pergi, meninggalkan kita untuk merenung sampai mati.

Sugeng Kondur, Pak Dhe

Suwargi Langgeng

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed