oleh

Tantangan menulis lomba blog PGRI hari kesembilanbelas

-Edukasi-Telah Dibaca : 52 Orang

Menanamkan Wirausaha melalui Pembelajaran Muatan Lokal

Oleh: Pono, S.Pd.SD

 

 

“Melentur buluh bermula dari rebungnya”, pepatah yang kerap kali didengungkan  menjadi semboyan dunia pendidikan. Mendidik anak-anak dimulai sejak anak-anak masih kecil. Bagaikan batang bambu untuk mengarahkan kemana ia menuju sejak masih kecil. Jika sudah besar akan terasa sulit bagi mengarahkannya, karena ia sudah kaku. Begitu pula dengan anak-anak. Mau seperti apa ia kelak ketika dewasa hendaknya dipersiapkan sejak dini.

Sejak anak-anak menjadi siswa, memasuki institusi pendidikan formal menjadi tanggungjawab guru mendidiknya. Tentunya bukan tanggung jawab guru semata, melainkan semua pihak. Baik orang tua, guru, pemerintah, maupun  masyarakat. Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.  Guru adalah orang tua bagi siswa ketika berada di sekolah. Begitu pula orang tua adalah guru bagi anak-anaknya ketika mereka berada di lingkungan rumah tempat mereka tinggal.

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya memiliki kemandirian saat ia dewasa kelak. Guru pun menginginkan siswa-siswinya kelak berguna bagi bangsa dan nusa serta mampu hidup mandiri. Salah satu tanda manusia manusia mampu mandiri pada kehidupannya adalah mempunyai jiwa dan semangat wirausaha dalam dirinya.

Memiliki jiwa wirausaha  sememangnya merupakan tujuan pendidikan karena dengannya manusia dapat memecahkan permasalahan dalam hidupnya serta menemukan solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Dengannya pula seseorang ikut andil dalam memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kurikulum Muatan Lokal DAB sangat menekankan penanaman jiwa dan semangat wirausaha pada siswa sekolah dasar. “Melentur buluh bermula dari rebungnya”‘. Untuk mengimplementasikan amanat yang terkandung dalam kurikulum muatan lokal tersebut saya melaksanakan pembelajaran yang menantang bagi siswa, yaitu praktik. Sungguh pun konten yang terkandung dalam mata pelajaran mulok DAB berkenaan dengan pemasaran dawet ayu, namun konten strategi pemasaran bisa diterapkan pada pemasaran produk lainnya.

Praktik pemasaran di kelas 6 dimulai dengan diskusi kelas. Diskusi membahas target pasar, produk yang hendak dipasarkan, waktu pelaksanaan, serta pembentukan “team work” yang berupa kelompok kecil. Jumlah anggota “team work” 3 – 4 siswa. Mengingat tugas yang akan dilaksanakan tergolong rumit, siswa menentukan sendiri siapa-siapa yang akan menjadi timnya. Dengan alasan tim akan mudah dalam berkoordinasi.

Masing-masing tim menentukan sendiri produk yang akan ia pasarkan dengan ketentuan jenis produk yang termasuk dalam kesepakatan dalam diskusi kelas serta nominalnya/harga produk tidak boleh melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Hal ini disesuaikan dengan kekuatan pasar yang notabene siswa siswi SD semua kelas. Praktik pemasaran dilakukan pada jam istirahat secara bergiliran dengan ketentuan hanya 1 tim yang berhak berjualan dalam satu Minggu.

Pada hari yang sama untuk praktik, tim melaporkan kegiatan pemasaran produknya di depan kelas. Dengan bimbingan guru tim  menganalisis usahanya. Hal-hal yang dilaporkan antara lain: jenis produk yang dijualnya, jumlah produk yang dibeli, harga pembelian, jumlah produk yang dijual serta harga jual. Dari hal-hal tersebut dapat diketahui besar keuntungan serta prosentase keuntungan terhadap pembelian.

———-

Blog penulis: www.ono.my.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed