oleh

HIDUP UNTUK MAKAN ATAU MAKAN UNTUK HIDUP

-Terbaru-Telah Dibaca : 130 Orang

Abraham Raubun

Ketika kita memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya dan merasakan lezat dan nikmatnya rasa yang penuh sensasi itulah yang disebut makan enak. Memang yang disebut makan itu adalah mengkonsumsi makanan biasanya selain memenuhi selera dan cita rasa juga untuk memenuhi kebutuhan tubuh melangsungkan kehidupan.

Menarik untuk disimak, apakah kita hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Kalau hidup untuk makan rasanya berkonotasi kurang baik. Dalam Bahasa Jawa artinya serakah, kemaruk atau tamak,  kata orang Melayu. Kaitannya dengan makan dengan rakus, semua jenis makanan dilahap. Apa pepatah mengatakan “makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”Maknanya adalah mengendalikan diri agar kita makan dalam batas yang wajar.

Menunggu sampai “kampung tengah” alias perut menjerit keroncongan dulu tidalah elok. Jika tubuh kekurangan zat gizi akan merubah metabolisme makanan dalam tubuh. Berlebihanpun tidak baik karena selain membuat organ pencernaan bekerja ekstra berat, juga hasilnya menambah berat badan berlebihan yang ujung-ujungnya mengundang berbagai penyakit degenerative seperti penyakit jantung coroner, hipertensi, diabet dan teman-temannya yang lain.

Sejak zaman purbakala atau bahkan mungkin sejak manusia diciptakan Tuhan manusia mencari makan untuk mempertahankan hidup. Karena tubuhtubuh memerlukan asupan zat-zat gizi dalam jumlah yang memadai, tidak kurang dan tidak lebih. Inilah yang dinamakan gizi seimbang meski bukan hanya makanan yang berperan tetapi ada lagi faktor-faktor lain yang berpengaruh.

Sederhanyanya seimbang itu dapat dikatakan jumlah makanan yang masuk (intake) untuk menghasilkan energi sama dengan energi yang dikeluarkan (out-put). Dulu ada slogan 4 Sehat 5 Sempurna. Empat sehat yang dimaksud adalah makanan sehat jika jenisnya beragam terdiri dari makanan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, dianggap lengkap dengan meminum susu yang memiliki zat gizi dengan nilai biologis tinggi.

Konsep makan 4 Sehat 5 Sempurna ini pertama kali diperkenalkan olehProf. Poerwo Soedarmo, bapak Gizi Indonesia pada tahun 1952. Memang konsep ini dikembangkan karena saat itu di Indonesia belum ada pedoman makanan sehat. Maka lewat pedoman itu dianjurkan dalam menu makanan harus ada karbohidrat protein, vitamin dan mineral. Diharapkan pedoman 4 Sehat 5 Sempurna dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang gizi dalam makanan. Konsep dasarnya diturunkan dari Basic Food di Amerika Serikat yang dikembangkan oleh United States Department of Agriculture sekitar tahun 1940an.

Seiring dengan perkembangan zaman, pedoman 4 Sehat 5 Sempurna tidak lagi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan di bidang gizi dan teknologi yang semakin canggih. Kini untuk memberi pencerahan kepada masyarakat Kementerian Kesehatan mengeluarkan konsep yang disebut Pedoman Gizi Seimbang (PGS) sebagai pengganti 4 Sehat 5 Sempurna. “Isi Piringku” menjadi slogan dalam kampanye yang diluncurkan.

Agar kita tidak hidup untuk makan tetapi makan untuk hidup, lewat “Isi Pringku” kita dianjurkan untuk makan dengan porsi seimbang. Ada makanan pokok yakni sumber karbohidrat porsinya 2/3 dari setengah piring,  setengah lagi dari piring  1/3 bagiannya diisi dengan sayuran dan lauk-pauk lain.

Berbeda dengan pedoman 4 Sehat 5 Sempurna yang berbicara soal kelompok makanan sebagai sumber zat gizi, Gizi seimbang lebih luas dari itu. Tidak berbicara hanya soal makanan, tetapi juga berbicara soal keperluan keperluan hidup di luar makanan yang saling berpengaruh. Satu dengan yang lain. Makanan mengandung zat gizi yang kita makan tidak sepenuhnya dapat menjamin tubuh menjadi sehat dan bugar.

Pedoman Gizi Seimbang merupakan pedoman hidup sehat dan bugar dengan memperhatikan kebiasaan makan sesuai kebutuhan tubuh, kebiasaan berperilaku hidup bersih, kebiasaan hidup aktif,  serta kebiasaan memantau berat badan normal untuk menjaga keserasian antara berat badan dan tinggi badan agar tidak ceking ataupun gendut.

Untuk menerapkan kebiasaan seperti yang dianjurkan dalam Pedoman Gizi Seimbang ada patokan yang disebut 4 Pilar Gizi Seimbang yang harus dilakukan. Pertama, mengkonsumsi aneka ragam makanan. Makan satu atau dua jenis makanan saja misalnya nasi dengan ikan, atau nasi dengan sayur, nasi dengan baso apalagi nasi dengan mie, mungkin saja membuat perut menjadi kenyang atau tidak terasa lapar tetapi tidak menjamin tubuh kita menjadi sehat dan bugar. Pasalnya, setiap bahan makanan mengandung jenis dan jumlah zat giziyang berbeda-beda. Makin beragam makanan yang kita konsumsi dalam jumlah yang tepat, semakin besar semakin besar kemungkinan tubuh mendapat asupan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjaga Kesehatan dan kebugaran tubuh kita.

Para pakar gizi sejak abad ke 19 telah mengelompokkan bahan makanan sesuai dengan kandungan zat gizinya. Ada kelompok makanan sumber tenaga/energi/kalori seperti nasi, jagung, singkong, talas, sagu, ubi, roti dan sebagainya. Kelompok kedua, kelompok makanan sumber protein, lemak,  seperti telur, daging, ikan, susu, tempe, tahu, oncom dan kacang-kacangan. Kelompok sumber vitamin dan mineral dan serat seperti sayur dan buah, ada juga telur ikan dan daging.

Jadi yang harus diingat dari pilar pertama ini, bukan makan enak yang mengikuti selera dan tuntutan kampung tengah. Tetapi untuk memperoleh asupan zat gizi yang beragam dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk melangsungkan hidup yang sehat. Karena tidak ada satupun bahan makanan, kecuali Air Susu Ibu (ASI) yang mengandung zat gizi secara lengkap. Ada karbohidrat, ada lemak, ada protein dan menyediakan vityamin dan mineral untuk bayi dari usia 0-6 bulan.

Pilar kedua, kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ini diterapkan mulai dari menjaga makanan sejak disiapkan, diolah, disajikan sampai dimakan. Setiap perlakuan disetiap tahapan harus dilakukan secara bersih seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum mengolah makanan dan sebelum makan. Mencuci sayuran yang akan dimakan sebagai lalapan. Menutup makanan untuk menghidari debu atau tercemar oleh lalat, kecoa dan sebagainya agar tidak terjangkit penyakit infeksi. Bagi para pedangan juga memperhatikan kebersihan seperti tidak memegang makanan langsung dengan tangan tetapi memakai sarung tangan plastik. Menutup mulut jika bersin dan batuk. Atau mengudap di tepi jalan yang hidangannya tidak terjamin kebersihannya.

Praktikkanlah pilar kedua ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam masa pandemic Covid-19 ini. Banyak bukti menunjukkan 45% dari penyakit diare dapat dihindarkan lewat mencuci tangan dengan sabun. Tentu harus dilakukan sebelum dan sesudah memagang makanan, sedah buang air kecil dan buang air besar, sesudah memegang binatang, sesudah berkebun dan sesudah bermain. Caranya yang betul adalah basahi seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir, gosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan bagian bawah kuku, bilas dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan denga lap bersih atau tissue atau alat dengan udara yang dapat mengeringkan.

Pilar ketiga aktivitas fisik dan olah raga. Tujuannya untuk menyehatkan tubuh dan menjaga kebugarannya. Aktivitas fisik atau bergeraknya tubuh apakah berjalan, mengerjakan sesuatu dengan bergerak, berolah raga kita ketahui untuk melancarkan peredaran darah, membakar kelebihan lemak atau menyeimbangkan antara energi yang masuk dari makan yang berlebihan sehingga tidak disimpan sebagai lemak di dalam tubuh, memperlancar pencernaan dan pengolahan zat gizi, melatih otot dan sendi-sendi tubuh. Sehat dapat dikatan baik seluruh bagian tubuh, tetapi dalam arti luas terkait juga dengan kondisi mental, spiritual maupun sosial. Sedangkan bugar bisa dimaknai dengan kemampuan tubuhuntuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan energik atau penuh energi, setelah bergiat kita masih tetap bersemangat.

Tentu menerapkan pilar ketiga ini harus rutin dan teratur. Pilihlah jenis olah raga yang sesuai dengan usia dan tidak membebani organ-organ tubuh secara berlebihan. Lakukan selama lebih kurang 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu. Niscaya kita akan merasakan tubuh sehat dan bugar.

Pilar keempat, menjaga berat badan normal atau ideal. Salah satu tanda tubuh sehat itu berat badan yang normal artinya ada keseimbangan dari tiga pilar yang dianjurkan. Sebaliknya kalau kurus atau gemuk badan menjadi tidak sehat beberapa penyakit siap mengancap. Kekurangan berat badan yang ditadai dengan penampilan tubuh yang kurus atau kurus sekali atau kelebihan berat badan sehingga tampak gemuk dan gemuk sekali, jelas menunjukkan tidak adanyanya keseimbangan dari tiga pilar yang lain. Karena itu kita perlu melakukan pemantauan berat badan secara teratur. Terutama anak-anak dalam masa pertumbuhannya yang disebut golden period yaitu usia di bawah dua tahun (Baduta). Anak sehat itu bertambah umur bertambah berat badannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ada alat untuk memantau pertumbuhan berat badan anak ini yaitu menggunakan timbangan dan mencatat hasil penimbangan secara rutin  sebulan sekali dalam suatu kartu yang dikenal dengan Kartu Menuju Sehat  (KMS) yang biasanya tersedia di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Memantau berat badan orang dewasa normal, kurus atau gemuk digunakan pengukuran Indeks Masa Tubuh (IMT).

Cara mempraktikkan pilar ke 4 ini intinya rajin memantau berat badan normal.  Berat badan normamal yaitu berat badan yang sesuai dengan tinggi badan. Bisa dilihat dengan mengukur IMT menggunakan rumus : IMT= Berat Badan (kg)/ Berat Badan2 (m2) . IMT yang baik adalah yang berada dalam kolom normal. Sebagai pedoman IMT kurang dari 17 dikatakan kurus sekali. Kalau nilai IMT kiata menunjukkan kisaran angka 17-18,4 kita dikatakan kurus. Ukuran normalnya berada pada kisaran angka 18,5-24,9. Jika berada pada kisaran 25-29,9 dikatakan gemus dan kelebihan yang bisa di sebut obesitas pasti angkanya berkisar antara 30-39,4.

Soal selera makan dan pola makan ini tidak mudah dirubah. Pepatah Cina mengatakan, lebih mudah meruntuhkan suatu dinasti dari pada merubah pola atau kebiasan makan. Kita bisa sadar akan manfaat makan makanan yang bergizi, tetapi terkadang selera dan lidah ini tidak mau berkompromi.  Karena makanan juga ada kaitannya dengan budaya suatu suku bangsa atau bangsa.  Kaitannya dengan budaya dapat kita dalami melalui tataboga atau istilah asingnya gastronomi. Gastronomi ini seni atau ilmu tentang makanan yang baik (good eating). Artinya sesuatu yang ada kaitannya makanan dan minuman. Gastronomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, gastros yang artinya perut/lambung dan nomos yang artinya hukum atau aturan. Kata ini di Perancis dikenal lewat suatu puisi yang dikarang oleh Jaques Berchoux lebih dari dua ratus tahun yang lalu.

Tetapi ketika kita menghubungkan cita rasa makan yang membuat kita makan enak, ilmunya disebut kuliner (culinary). Sekarang banyak dikenal Culinary tourism atau wisata kuliner alias jalan-jalan sambil berburu berbagai jenis makanan khas dan enak. Disinilah kita makan enak, menikmati cita rasa makanan-makanan yang kita makan sehingga perut kenyang hatipun senang. Inilah yang menjadi sahabat lidah yang terkadang sulit dirubah.

Nah tingggal kita memilih, jika kita hidup untuk makan yang kenikmatannya hanya kitarasakan sampai sebatas tenggorokan, atau kita makan untuk hidup yang manfaatnya dapat kita rasakan dalam tubuh yang sehat dan bugar. Selanjutnya terserah anda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed