oleh

JADI SUPIR TEMBAK DI KOTA DILI

-Terbaru-Telah Dibaca : 580 Orang

 

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Kota Dili yang dulu masih menjadi bagian dri NKRI merupakan ibu kota provinsi yang ke 27, provinsi termuda di kala itu. Tata kotanya memang indah dengan laut biru menghampar di hadapannya dan dilatarbelakangi bukit-bukit yang hijau di waktu musim hujan dan tampak kecoklatan di musim kemarau karena diterpa teriknya matahari.

Tahun 1979, ketika pemerintah Indonesia memberikan pilihan kepada warga Timor-Timur untuk menjadi warga negara Indonesia atau menjadi warga negara Portugal, maka sebagian masyarakat terutama mereka yang masih keturunan Portugis tetap memilih kembali pulang ke negeri leluhur mereka.

Jumlahnya cukup banyak, ada sebagian pegawai instansi pemerintahan, ada pegawai swasta dan lain-lain. Mereka ini tidak bisa lagi bekerja di instansi pemerintah atau perusahaan milik RI yang ada karena harus keluar dari Timor-Timur. Ketika menunggu dipulangkan ini yang pengaturannya juga memakan waktu yang cukup Panjang, muncul permasalahan yang harus dihadapi oleh keluarga-keluarga yang menunggu giliran diberangkatkan ke Portugal.

Dalam waktu penantian itu banyak keluarga yang tidak lagi bermata pencaharian. Berarti tidak ada lagi pemasukan untuk membiayai hidup sekeluarga sehari-hari. Menanggapi hal ini pemerintah daerah mengambil Langkah untuk menanggulangi masalah dengan mendayagunakan bantuan kemanusiaan dari Lembaga-lembaga internasional yang bekerjasama dan secara operasional berada di wilayah Timor-Timur serta berbasis di kota Dili.

Catholic Relief Services (CRS) merupakan salah satu Lembaga sosial yang berpusat di New York Amerika Serikat melayani program bantuan sosial untuk masyarakat Timor-Timur pasca pergolakan politik. Pada saat itu saya mendapat tugas melakukan persipan Kerjasama dengan pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan CRS. Karena masih dalam tahap persiapan saya hanya seorang diri, tanpa ada staf lain menemani. Selain itu ada ketentuan tidak boleh ada staf asing atau staf internasional yang mengerjakan, harus oleh staf nasional.

Saya melakukan semua persiapan seorang diri, mulai dari mencari tempat untuk kantor dan Gudang penampung barang-barang bantuan,merencanakan lokasi dan jumlah sasaran di lokasi-lokasi yang telah ditunjuk dan disepakati bersama dengan pemerintah daerah serta menyusun rencana distribusi untuk mencapai sasaran di lokasi-loasi yang telah disepakati bersama dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan program bantuan kemanusiaan. Sebagai anggota Satuan Tugas Pembangunan Timor Timur  yang dikoordinasikan oleh Hankam pada waktu itu,  saya  bertanggungjawab untuk mengatur bantuan bagi penduduk, khususnya yang berada di daerah pengungsian atau di desa-desa dimana penduduknya baru kembali dari persembunyian di hutan-hutan ketika terjadi pergolakan situasi.

Ketika pihak Korem menghubungi dan meminta kesediaan CRS untuk membantu keluarga-keluarga terdampak ini terutama yang mempunyai bayi dan anak-anak bawah lima tahun (balita), saya mendapat instruksi dari kantor Pusat di Jakarta untuk segera menyiapkan tempat untuk barang-barang bantuan yang sedang dikirim dan dalam 1-2 hai akan sampai di Pelabuhan Dili. Bantuan yang dikirim tahap pertama ini berupa beras dan Wheat Soya Blend (WSB) yaitu campuaran tepung gandum dan kacang kedele yang dapat dijadikan bubur atau makanan bayi dan anak-anak.

Meskipun sedikit  panik tapi saya berusaha keras berkoordinasi dengan pemda untuk mendapatkan Gudang dan kendaraan untuk distribusi. Akhirnya dapat juga pinjaman Gudang dan 3 kendaraan truk. Untuk operasional kamipun bekerjasama dengan keuskupan Dili melalui pastur Montero seorang pastur berkebangsaan India. Kendala lain muncul karena hanya tersedia 2 supir dan pihak keuskupanpun tidak memiliki kendaraan untuk mengangkut barang-barang bantuan. Apa boleh buat saya terpaksa harus menjadi supir tembak. Buat saya bukan soal menyetirnya, tetapi memang belum pernah sama sekali menyetir truk. Terpaksa harus melatih diri berlatih maju, mundur, parkir dan melaju di jalan raya yang masih sangat sepi karena jarang ada kendaraan yang lalu lalang, kecualu sesekali kendaraan militer yang mengangkut pasukan yang akan beroperasi atau mengangkut logistik ke beberapa wilayah kabupaten.

Akhirnya hari H tiba, barang-barang bantuan harus dibagikan ke beberapa Paroki dimana para biarawati dan biarawan sudah menunggu bersama keluarga-keluarga yang memerlukan bantuan. Selain itu juga saya sebagai Ahli Gizi  harus memberikan petunjuk bagaimana cara mengolah dan menyiapkan makanan untuk bayi dan anak-anak kepada para biarawati agar mereka selanjutnya dapat juga mengajari ibu-ibu untuk menyiapkan makanan bagi anak-anaknya. Kegiatan berjalan lancar dan saya merasa senang karena dapat melaksanakan tugas dengan baik dan selamat tanpa halangan, seraya tak henti-hentinya memanjatkan syukur kepada Tuhan atas perlindunganNya. Itulah sekelumit kisah menjadi supir tembak di kota Dili.

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari pengalaman ini dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jangan takut mencoba hal baru dan jangan takut gagal. Ibarat pepatah Jepang mengatakan kita harus mampu berdiri satu kali lebih banyak daripada kita jatuh. Karena tiada sukses tanpa kegagalan.

Komentar

Tinggalkan Balasan