oleh

WASPADAI API DALAM RUMAH

-Terbaru-Telah Dibaca : 82 Orang

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Tak seharusnya lagi dampak merebaknya virus Covid-19 masih harus terus diperdebatkan. Semua lutut telah tertekuk dan semua lidah sudah mengaku bahwa mahluk kecil ciptaan Tuhan ini eksis dalam kehidupan manusia di seantero dunia saat ini.

Tak henti-hentinya himbauan dikumandangkan untuk menyandarkan masyarakat akan ancaman musuh yang tak kasat mata ini. Seruan heroik terus digemakan membakar semangat agar bangkit dari keterpurukan dan jangan menyerah meskipun serangan datang bergelombang dari mahluk-mahluk kecil yang memiliki ilmu malih rupa yang tinggi ini.

Pola kehidupan dipaksa putar balik seakan tunggang langgang. Kita ambil contoh kegiatan generasi muda. Dalam memanfaatkan teknologi modern mereka tidak terlalu terkejut. Memang mereka generasi yang hidup dalam era globalisasi dan digitalisasi.

Ada fenomena yang saya amati, terutama dalam lingkungan keluarga sendiri. Cucu saya yang sekarang memasuki semester IV di satu universitas selama pandemi ini belajar dari rumah. Senang juga melihatnya selalu ada di rumah dan jarang sekali pergi. Sebelum-sebelumnya aktivitasnya banyak di luar rumah. Terkadang ada rasa was-was dan sedikit kuatir karena tidak dapat mengawasi pergaulannya di luar. Tetapi syukurlah sejauh ini hal-hal yang dikuatirkan tidak terjadi.

Kegiatannya di rumah sekarang memang lebih banyak tinggal di dalam kamar. Banyak waktu dihabiskannya selain mengikuti kuliah online ternyata muncul kebiasaan baru. Waktu tidurnya berubah, kalau siang hari dia lebih banyak tidur. Malam hari sering terdengar suaranya riuh diselingi canda tawa hingga terdengar dari luar kamar. Selidik punya selidik kelompok bermain games nya bertambah. Menjelang pagi baru sepi tak terdengar suara lagi rupanya semua tertidur pulas.

Bukan hanya masalah bermain gamesnya yang menguatirkan. Tapi pola makannya juga berubah, kebiasaan ngemil dan makan tengah malampun meningkat. Jenis makanan yang dikonsumsi makanan-makanan yang cepat saji. Tentu saja jauh dari Konsep Gizi Seimbang.

Ada satu peristiwa yang membuat kami seisi rumah panik. Malam itu seperti biasa, cucu saya bermain games dikamarnya. Nampaknya permainan bersama kelompoknya itu seru. Tengah malam, ia keluar karena merasa lapar. Biasanya ia menyiapkan sendiri makanannya berupa mie instant. Selesai memasak, dibawanya makanan itu ke dalam kamar dan dia makan sambil bermain.

Tiba-tiba terdengar suara letupan dan listrikpun padam. Saya yang juga belum tertidur, menunggu beberapa saat dengan harapan cucu saya akan menaikkan tombol NCB untuk menyalakannya. Tetapi lama lampu tak menyala juga. Ketika saya keluar dari kamar tidur bermaksud menyalakan listrik, terdengar suara gemeretak dari arah dapur. Seketika ruangan dipenuhi asap putih tebal. ternyata Cucu saya lupa mematikan kompor gas setelah memasak mie instant.

Terlihat cahaya api yang mulai membesar dari kompor di dapur. Saya berteriak panik membangunkan seisi rumah dengan berteriak “api….api…api….!!!.” Situasi menjadi tegang, istri saya tanpa pikir panjang lagi meraih handuk di kamar mandi dan mencelupkannya ke dalam bak. Ia langsung berlari mendekati kompor dan menutupi api yang sedang berkobar. Saya berteriak mengingatkannya karena kuatir tabung gas meledak. Namun hal itu tidak terpikir sama sekali olehnya. Nalarnya terkalahkan oleh emosi untuk segera memadamkan api. Dengan perasaan was-was saya segera mengeluarkan tabung gas dan menyuruh cucu saya membawanya ke luar rumah.

Api sudah mulai membumbung ke langit-langit dapur, asap semakin tebal memenuhi semua ruangan. Saat itu baru kami sadar dan teringat anak kami yang perempuan ada di kamar lantai dua. Kami berteriak memanggilnya, ternyata dia juga sudah terbangun karena merasa sesak napas akibat asap tebal yang memenuhi ruang atas. Ia berusaha turun tetapi pandangannya gelap tertutup asap tebal. Akhirnya dia berhasil turun dengan sedikit bantuan cahaya senter dari ponselnya.

Tetanggapun berdatangan menolong memadamkan api. Akhirnya kebakaran dapat diatasi dengan menghabiskan tiga handuk dan dua selimut basah dan entah berapa serbet basah yang ada di dapur. Namun sebagian kitchen set di dapur habis hangus terbakar. Syukur kami kepada Tuhan, kejadian malam itu tidak sampai menjadi petaka yang lebih besar.

Peristiwa itu membawa hikmah, cucu saya agak trauma membuat makanan di tengah malam. Kini ia selalu makan makanan yang disediakan, makanan yang lebih sehat. Semoga pengalaman ini membuat kita waspada terhadap api dalam rumah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed