oleh

SEMUA PERLU PROSES

-Pendidikan-Telah Dibaca : 52 Orang

Menurut Bapak Thamrin Dahlan, “Buku adalah mahkotanya penulis.” Suatu ungkapan yang akan menjadi pemantik para penulis untuk terus berkarya. Ya, yang namanya mahkota tentu barang sangat berharga, bernilai, dan tentunya tidak sembarang orang memilikinya. Untuk menghasilkan mahkotanya tersebut, penulis memerlukan proses. Karya buku yang dihasilkan penuh dengan cucuran peluh, memutar pikiran, dan menguras energi. Buku karya orang lain yang sering kita baca punya cerita tersendiri. Jarang-jarang pembaca yang mengetahui proses perjalanan pembuatan buku. Hanya isi buku yang dicari dan diresensi. Memang tidak salah, karena tugas pembaca adalah seperti itu. Akan tetapi jika mau tahu, pembuatan buku perlu proses. Sebenarnya bukan hanya pembuatan buku, semua hal yang ada dalam kehidupan ini ada prosesnya. Sangat mustahil, jika tanpa proses. Hal yang menjadi perbedaannya mungkin soal waktu dan tingkat kesulitannya. Ada orang yang menghasilkan buku dengan sangat cepat, bahkan hanya dengan 110 hari mampu menerbitkan 9 judul buku saperti Bapak Nurwendo. Sangat luar biasa memang, patut dicontoh. Tetapi sebaliknya, ada juga untuk membuat satu buku saja, sulitnya bukan kepalang, bahkan hanya membuat satu artikel saja perlu bertapa lama.

Berangkat dari itu, hakikat kehidupan adalah proses, tidak terkecuali dalam pembuatan buku. Seperti yang dialami penulis. Naskah buku yang sekarang diajukan, ada prosesnya. Berawal dari keikutsertaan dalam pelatihan menulis online, peserta wajib menyimak penjelasan narasumber. Selanjutnya, peserta harus membuat resume materi yang disampaikan narasumber. Tidak sampai di situ, resume yang dibuat harus diposting di blog sendiri serta dibagikan alamatnya. Dengan demikian, akan banyak orang yang membaca dan mengetahui isi bacaannya.

Proses membuat resume bisa dianggap sulit jika tidak mempunyai tekad yang kuat. Konsistensi untuk menulis mutlak diperlukan. Ada kurang lebih 20-30 narasumber yang terlibat. Mereka dengan baik hati, bergantian memberikan materi, ilmu, dan pengalamannya. Sebanyak itulah juga tema materi resume yang harus dibuat peserta.

Setelah pelatihan berakhir, peserta dapat membuat tulisan lain di blognya. Pelatihan tersebut dianggap “kawah candradimuka” peserta dalam berlatih menulis. Jadi memang, tujuan akhir dari pelatihan tersebut adalah membiasakan dan mengembangkan kemampuan menulis. Akan tetapi, tujuan tersebut sulit dilaksanakan penulis. Banyak faktor yang menghambat kegiatan menulis. Proses pembuatan buku juga sudah banyak disalip peserta gelombang berikutnya.

Proses pembuatan buku diawali dengan membuat draft buku. Tulisan yang terdapat di blog, diambil dan dikumpulkan. Urutan bagian tiap tulisan ditentukan. Hal yang paling penting juga menentukan judul yang sesuai. Judul dalam sebuah buku sangat penting. Sehingga perlu waktu dan gonta-ganti pemilihan kata yang tepat. Sinopsis buku juga harus dibuat untuk menggambarkan garis besar buku. Dengan adanya sinopsis, pembaca akan mengetahui arah dan isi buku secara sekilas. Hal penting berikutnya adalah pembuatan kata pengantar. Kata pengantar dapat dibuat sendiri atau meminta seorang figur, tokoh atau orang yang berpengaruh. Jadi kata pengantar bebas dibuat sesuai dengan keinginan penulis, maunya seperti apa.

Jadi kesimpulannya, dalam hal apapun perlu proses, termasuk dalam menghasilkan sebuah buku. Buku dapat dihasilkan oleh penulis, tetapi tidak semua penulis mampu menghasilkan buku. Buku, jendelanya dunia. Buatlah buku yang berkualitas. Salam literasi, jayalah penulis, jayalah dunia perbukuan.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed