oleh

Kado Terindah Pengobat Rasa Duka

-Humaniora, Pendidikan, YPTD-Telah Dibaca : 103 Orang

Sumber gambar : fimela.com

Tahun 2020 telah pergi meninggalkan kita. Berjuta rasa dan kenangan sudah kita torehkan di tahun yang baru saja terlewati. Ada suka dan ada duka, semua silih berganti sebagai romantika kehidupan.

Secara pribadi, saya melewati tahun 2020 dengan banyak kenangan manis dan indah sebagai hasil perjuangan yang insyaAllah terus mendapat ridho dan berkah dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Awal tahun 2020 yang lalu, dengan tekad dan dukungan dari istri tercinta, saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan dengan menjadi mahasiswa pasca sarjana di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Mengapa saya mengatakan memberanikan diri?, karena perlu pembaca ketahui bahwa saat ini saya masih berstatus sebagai guru honorer swasta yang memiliki income atau pendapatan relatif kecil jika dibandingkan dengan guru PNS atau yang lainnya. Namun, alhamdulillah sejauh ini segala urusan masih dimudahkan Allah Subhanahu wa ta’ala, penulis dapat membayar uang kuliah dengan lancar termasuk seluruh biaya sekolah keempat anak saya.

Hampir sepanjang tahun 2020 kita dibayang-bayangi oleh pandemi Covid-19, yang telah memporak-porandakan seluruh tatanan kehidupan di negri ini, baik kesehatan, ekonomi, politik, maupun pendidikan. Namun, ada sisi positif yang dapat kita ambil dari adanya pandemi ini, khususnya di bidang pendidikan dan literasi. Dengan adanya pandemi yang mengharuskan guru menggunakan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), maka muncullah cara-cara kreatif guru untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan kepada para siswanya.

Dengan adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), maka penulis jadi belajar bagaimana caranya membuat video pembelajaran melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting ataupun Google Meet untuk kemudian diupload ke kanal YouTube. Salah satu konten YouTube penulis bisa pembaca lihat di https://www.youtube.com/watch?v=9OSuVT-0FEU

Ternyata, saya hanyalah salah satu dari sekian banyak guru yang sudah membuat  channel di YouTube untuk menunjang pembelajaran. Selain itu, pasca pandemi juga bermunculan  kegiatan-kegiatan seminar secara virtual yang disering disebut webinar. Webinar yang sering saya ikuti adalah webinar yang berkaitan dengan pelatihan menulis bagi penulis pemula, baik berlatar belakang sebagai seorang guru ataupun profesi lainnya.

Pada kuartal ketiga di tahun 2020, tepatnya pada medio September, penulis mendapatkan nikmat yang luar biasa. Apa itu?. Penulis berkesempatan mengumpulkan artike-artikel yang pernah penulis tayangkan di web https://www.kompasiana.com/ropiyadi19360 untuk dibukukan. Ini merupakan keinginan terpendam saya, yang sudah lama ingin menjadi seorang penulis yang memiliki nama yang abadi, tidak hanya tercatat di batu nisan jika telah tiada, tetapi juga tercatat di sampul buku karya sendiri. Alhamdulillah, melalui jasa baik Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan dan web https://terbitkanbukugratis.id/ , akhirnya saya telah berhasil menjadi penulis buku untuk yang pertama kali pada 30 September 2020, kemudian disusul buku yang kedua pada 10 November 2020.

Telah banyak orang yang berjasa besar bagi saya sepanjang tahun 2020, selain istri saya dan keluarga, saya sangat berterimakasih kepada ketua Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) yaitu bapak H. Tahmrin Dahlan, SKM, M.Si yang saya anggap seperti orang tua sendiri, dan juga kepada bapak Nazief Hasjmi Maksum atau yang memiliki nama pena Dian Kelana yang sangat besar andilnya dalam membidani lahirnya dua buku pertama saya yang berjudul “Mencerdaskan Putra Bangsa di Tengah Badai Pandemi” dan “Mengejar Bayang-Bayang Sejati”.

Pada 27 Desember 2020 pukul 18.45 WIB yang lalu saya kirimkan email draft buku ketiga saya kepada bapak Dian Kelana, dengan tujuan untuk dibuatkan cover dan juga lay-outnya. Namun, beberapa saat kemudian saya membaca berita di pesan WhatsApp Grup penulis YPTD melalui Bang Nur Terbit, bahwa Pak Dian Kelana tengah terbaring di rumah sakit karena sakit typus yang dideritanya. Segera sayapun mengirim pesan singkat berupa untaian do’a ke nomor WhatsApp pribadi pak Dian Kelana, dan meminta beliau untuk banyak istirahat agar lekas sembuh. Selain itu, saya juga memberikan info bahwa untuk cover buku ketiga, saya akan minta bantuan ke pak Ajinata.

Pada tanggal 29 Desember 2020 pukul 17.19 WIB, saya mengirimkan pesan WAPRI ke pak Ajinatha untuk minta dibuatkan cover untuk buku ketiga saya yang berjudul “Membumikan Nilai-Nilai Dasar Islam”. Beliau sangat antusias untuk membantu saya dalam membuat cover buku. Tidak sampai berjam-jam, tepatnya pada pukul 19.10 WIB cover buku ketiga sayapun telah selesai.

Selang sehari kemudian, tepatnya pada hari Rabu 30 Desember 2020, buku ketiga saya siap dicetak bersama delapan buku penulis YPTD lainnya. Perlu pembaca ketahui, bahwa salah satu program YPTD adalah mencetak buku dari para penulis setiap hari Rabu dua minggu sekali, dan itu bersifat gratis. Setelah master buku ketiga saya selesai dicetak, oleh percetakan kemudian dikirim ke kantor penerbit YPTD yang beralamat di Jl. Bumi Pratama VIII No.23, RT.5/RW.6, Dukuh, Kec. Kramat jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta . Setelah tiba di kantor YPTD sehari setelahnya , maka oleh Pak H. Thamrin Dahlan buku-buku itupun dikirimkan ke alamat masing-masing penulis.

Menurut perkiraan, buku ketiga saya akan sampai di rumah saya pada hari Jum’at 01 Januari 2021, sehari setelah dikirimkan oleh penerbit YPTD.  Sambil menunggu buku ketiga datang, saya sempatkan menulis sebuah artikel dihttps://terbitkanbukugratis.id/ropiyadi-alba/01/2021/apa-resolusi-anda-di-tahun-2021/.  Setelah selesai, kemudian saya membuka hand phone untuk sekedar mengikuti berita atau informasi di beberapa grup WhatsApp. Betapa kaget dan terkejutnya saya, setelah membaca salah satu pesan di grup WhatsApp yang dikirim oleh ibu Muthiah Al Hasany sekitar pukul 11.09 WIB yang menuliskan bahwa bapak Nadzif Hasjmi Maksum atau bapak Dian Kelana telah meninggal dunia.

Rasa kehilangan yang mendalam bagi saya pribadi, dan seluruh rekan-rekan penulis di keluarga besar YPTD. Untaian do’a tak henti-hentinya mengalir di lisan ini dan juga memenuhi chat WhatsApp grup Terbitkan Buku Gratis YPTD. Semoga segala amal ibadah beliau diterima Allah Subhanahu wa ta’ala dan diampuni segala dosanya, serta saya bersaksi bahwa beliau adalah termasuk Min Ahlil Khair.

Dengan hati dan pikiran yang masih dirundung duka, saya mempersiapkan diri untuk sholat Jum’at di Masjid terdekat dengan rumah. Namun, beberapa saat sebelum berangkat ke masjid, tiba-tiba ada suara orang mengucap salam di luar rumah. Segera saya ke luar rumah, dan ternyata yang datang adalah seorang kurir dari TIKI yang membawakan buku ketiga saya ” Membumikan Nilai-Nilai Dasar Islam”. Rasa duka akibat baru saja kehilangan salah seorang yang sangat berjasa, akhirnya sedikit terobati dengan hadirnya buku ketiga tersebut. Buku ini saya katakan sebagai “Kado Terindah Pengobat Rasa Duka.” Selamat jalan Uda Dian Kelana. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed