oleh

Mandi Hujan

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 78 Orang

“Hujan lagi, hujan lagi!” seru Aini kesal. Umi yang mendengarkan Aini mengeluhkan hujan tersenyum kecil.

“Kok marah sih sama hujan? Hujan itu rahmat lo!” ucap Umi sambil menarik pipi Aini agar tersenyum.

“Ih Umi ini. Hujan kan buat aku gak bisa jalan-jalan ke luar Mi,” jawab Aini masih dengan nada kesal.

“Iya, kan jalan-jalannya bisa besok. Di rumah menikmati hujan juga menyenangkan kok,” sahut Umi.

“Menikmati hujan? Bagaimana caranya Mi?” tanya Aini.

“Sudah baca doa hujan belum?” tanya Umi.

“Hihi, aku lupa Mi bacaan doanya,”

“Ya sudah, yuk baca sama-sama,” ajak Umi.

“Allahumma hawalaina wala ‘alaina, Allahumma ‘alal akami wa adhirabi, wa buthunil auwdiyati, wamanabitisyajari,” Umi dan Aini membaca doa serentak.

“Nah sekarang baca terjemahannya ya Aini,” pinta Umi.

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan,” Aini membaca terjemahannya dengan fasih.

“Nah, gitu donk anak Umi. Bukannya mengeluh,” kata Umi.

“Iya Umi, tapi aku jadi batal jalan sorenya,” jawab Aini.

“Iya iya, tapi sekarang coba Aini lihat bunga-bunga di luaran sana. Mereka senang bisa disiram air hujan. Pohon-pohon di hutan, bunga liar di tepi jalan yang tidak pernah disiram manusia, bisa melepas dahaga mereka saat hujan tiba. Sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik. Bayangkan juga petani yang sawah atau ladangnya kekeringan. Hujan adalah kebahagiaan bagi mereka karena tanaman mereka tidak jadi mati ditelan kegersangan. Belum lagi dengan bumi kita yang penuh debu dan kotoran. Hujan akan membersihkannya. Hujan ini penuh dengan berkah Dek.”

Aini mendengarkan Umi dengan baik. Hujan sebenarnya tidak harus membuat dia kesal. Aini bisa jalan-jalan besok hari. Selama ini pun Aini juga sudah tidak terhitung lagi banyaknya jalan-jalan saat cuaca cerah. Masak hujan sekali saja membuatnya marah.

“Nah, Aini kan belum mandi, bagaimana kalau kita menikmati hujan dengan mandi hujan,” ajak Umi.

“Mandi hujan? Bukannya mandi hujan dapat membuat kita sakit Umi?” tanya Aini.

“Iya sayang. Hujan yang membuat kita sakit kalau tubuh kita sedang tidak fit dan sistem imun kita rendah. Aini kan sehat dan kuat. Aini selalu makan makanan bergizi dan istirahat cukup sehingga mandi hujan pun tidak akan menyebabkan sakit,” jelas Umi panjang lebar.

“Benar Umi? Wah ayo kita mandi hujan!” ajak Aini bersemangat.

“Ayo!” jawab Umi.

Aini dan Umi pun langsung berlari ke halaman rumah. Mereka berlarian di tengah hujan. Menampung air hujan ke dalam baskom besar lalu masuk ke dalamnya sambil tertawa-tawa. Umi memercikkan air ke wajah Aini dan Aini membalasnya dengan gembira. Mereka mandi hujan dengan riang.

Abi yang melihat mereka mandi hujan juga ikut bergabung. Abi ikut masuk ke dalam baskom yang menyebabkan air tumpah ruah ke luar. Aini dan Umi tertawa melihat Abi  yang ikut berdesakan di dalam baskom. Abi pun juga ikut memercikkan air ke wajah Umi dan Aini. Percikan air dari Abi lebih keras sehingga tidak dapat dilawan oleh mereka. Akhirnya Aini dan Umi berlari lalu dikejar oleh Abi. Mereka bekejar-kejaran sambil tertawa-tawa.

Tak lama kemudian hujan pun reda. Umi segera masuk ke kamar mandi. Memakai shampo dan sabun lalu mandi yang bersih. Diikuti oleh Abi dan Aini. Selesai mandi, Abi dan Umi memasakkan masakan hangat untuk mereka bertiga. Hujan belum sepenuhnya reda, namun bekahnya melimpah ruah. Makanan hangat yang tersaji setelah mandi hujan terasa lebih nikmat dari biasanya. Aini pun melupakan jalan-jalan sorenya karena sudah tergantikan dengan pengalaman yang tidak kalah mengesankan.

Tentang Penulis: Santi Syafiana

Lahir di Batusangkar, tepatnya desa Saruaso, Kec. Tanjung Emas, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat pada tanggal 9 Juli 1989. Merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Menikah dan dikaruniai dua orang anak. Saat ini menjadi guru Kimia di SMA Unggul Hidayatul Ilmi, Kab. Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Pernah bergiat sebagai wartawan kampus di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai reporter Junior (2007), Fotografer (2008), Sektretaris Umum (2009) dan Redaktur Pelaksana (2010-2011). Pernah menjadi reporter terbaik di SKK Ganto UNP (2007). Selama menjabat di SKK Ganto, ikut terlibat dalam kepanitiaan Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Dasar se-Sumatera Barat (2007), Seminar Nasional Citizen Journalism (2007), Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (2008), Study banding ke media-media nasional (2008, 2009, 2010 dan 2011). Membaca, menulis dan mendaki gunung adalah hobi. Belajar, Berkarya dan Berguna menjadi motto diri penulis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed