oleh

Petualangan Keil dan Keit di Hutan Cemara

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 81 Orang

            Minggu pagi Keil jalan-jalan mengelilingi komplek rumahnya bersama Keit, kucingnya. Ia dan Keit sangat senang menikmati segarnya udara pagi. Saat berjalan-jalan, seekor kupu-kupu putih menghampiri Keit dan berbisik di telinganya. Keit lantas menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Keil.

“Keit, ada apa? Mengapa kau berhenti?” tanya Keil penasaran.

“Miaw…miaw,” Keit mengeong ramai sambil memandang Keil. Keil tidak mengerti apa yang dimaksud Keit. Keit pun menarik celana Keil dan berjalan terus ke depan. Keil mengerti itu pertanda Keit meminta Keil untuk mengikutinya.

Dipandu oleh kupu-kupu, Keit dan Keil terus berjalan jauh meninggalkan rumah. Semakin jauh, semakin jauh hingga mereka sampai di hutan cemara. Keil berhenti sejenak. Keit memandang Keil seolah meminta untuk terus berjalan. Tetapi Keil takut kalau mereka tersesat jauh di hutan. Nanti mereka tidak bisa pulang ke rumah. Kupu-kupu berbisik lagi kepada Keit dan Keit mengeong riuh sambil menarik-narik ujung celana Keil.

“Apa kau yakin Keit? Kita bisa tersesat. Kita belum pernah ke hutan itu,” ucap Keil ragu-ragu. Keit terus mengeong riuh. Kupu-kupu berputar-putar di kepala Keil seolah meyakinkan Keil untuk tetap masuk ke hutan. Akhirnya Keil pun menyanggupi permintaan mereka.

“Terima kasih ya Keil dan Keit sudah mau mengikutiku ke dalam hutan.” Terdengar suara dari atas kepala Keil. Keil terkejut. Ternyata kupu-kupu tadi bisa berbicara.

“Ka..u bisa bicara?” Keil terbata saking kagetnya.

“Iya Keil. Aku juga bisa bicara,” sahut Keit dengan suara keras.

“Oh ya ampun Keil. Sudah lama kita bersama baru kali ini aku mendengar kau bicara Keit. Kenapa kalian tidak bicara saja sewaktu memintaku ke sini?” tanya Keil bersemangat.

“Kami tidak bisa bahasa manusia di luar hutan cemara ini Keil. Hutan ini adalah hutan magis. Kami bisa bicara dengan siapa saja di hutan ini,” jawab Keit sambil tersenyum.

“Oh ya, perkenalkan aku Kupi. Aku sengaja mencari Keit untuk meminta pertolongan,” Kupi sang kupu-kupu putih memperkenalkan dirinya.

“Pertolongan apa Kupi? Maafkan tadi aku sempat tidak mau memasuki hutan ini karena aku takut tersesat. Kalian pasti ingat jalan pulang bukan?” tanya Keil.

“Tentu saja Keil. Saat kau ke sekolah aku sering mengunjungi Kupi dan kawan-kawan yang lain di sini. Jadi, aku hafal betul jalan ini,” jawab Keit.

“Oh begitu. Oh ya, apa yang bisa kami bantu Kupi,” Keil kembali ingat dengan pertolongan yang Kupi minta sebelumnya.

“Beberapa pohon di dekat rumahku terbakar Keil. Sampai sekarang apinya belum mati. Sebenarnya titik kebakaran awal jauh dari rumahku. Namun lama kelamaan apinya membesar dan sebentar lagi akan mengenai rumahku. Keluargaku sudah bertebangan untuk menyelamatkan diri namun ada beberapa kepompong yang tidak bisa kami bawa. Makanya aku meminta bantuanmu Keil,” terang Kupi sedih.

“Benarkah? Kalau begitu ayo kita cepat berlari sebelum api itu menjalar ke rumahmu Kupi,” Keil segera berlari begitu tahu pertolongan yang diminta Kupi. Benar saja, sedikit jauh memasuki hutan, tampak asap hitam membumbung. Bau asap menyesakkan, memasuki hidung mereka. Kupi terbang dengan cepat menuju rumahnya. Setelah dekat dengan rumah Kupi, tampak saudara-saudara Kupi sudah menanti kedatangan mereka. Kupu-kupu itu mengerubungi Kupi dan mengatakan bahwa rumah mereka belum terbakar namun cuaca di sekitarnya sudah panas.

“Mana kepompongnya Kupi?” tanya Keil tersedak. Nafasnya memburu.

“Itu Keil,” jawab Kupi sambil menunjuk ke arah rumahnya. Dengan cepat Keil memindahkan kepompong yang ada dan membawanya keluar dari hutan.

“Ayo keluar kawan-kawan. Kita harus menghubungi pemadam kebakaran,” Keil, Keit dan semua kupu-kupu keluar dari hutan cemara. Setelah menempatkan kepompong di tempat yang aman, Keil dan Keit segera menuju pemadam kebakaran (Damkar) dan menceritakan adanya kebakaran di hutan cemara. Setelah mendengar cerita Keil, petugas Damkar segera mengambil peralatannya dan pergi ke hutan memadamkan api.

Kupi berterima kasih kepada Keit dan Keil. Kepompong sudah selamat dan api di hutan pun sudah padam. Petugas Damkar juga berterima kasih kepada Keil karena sudah cepat memberitahukan kebakaran tersebut sehingga hutan masih bisa diselamatkan.

“Kenapa hutan cemara bisa terbakar Pak?” tanya Keil kepada salah satu petugas Damkar.

“Ini semua karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Ada yang sengaja membakar hutan untuk bisa mendirikan bangunan di atasnya. Hal itu sangat tidak baik. Selain merusak lingkungan, apinya dapat membunuh hewan dan tumbuhan hutan. Asapnya juga membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Jangan pernah ditiru ya!” jelas petugas Damkar.

“Tentu Pak. Aku tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti itu,” jawab Keil.

Tentang Penulis: Santi Syafiana

Lahir di Batusangkar, tepatnya desa Saruaso, Kec. Tanjung Emas, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat pada tanggal 9 Juli 1989. Merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Menikah dan dikaruniai dua orang anak. Saat ini menjadi guru Kimia di SMA Unggul Hidayatul Ilmi, Kab. Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Pernah bergiat sebagai wartawan kampus di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai reporter Junior (2007), Fotografer (2008), Sektretaris Umum (2009) dan Redaktur Pelaksana (2010-2011). Pernah menjadi reporter terbaik di SKK Ganto UNP (2007). Selama menjabat di SKK Ganto, ikut terlibat dalam kepanitiaan Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Dasar se-Sumatera Barat (2007), Seminar Nasional Citizen Journalism (2007), Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (2008), Study banding ke media-media nasional (2008, 2009, 2010 dan 2011). Membaca, menulis dan mendaki gunung adalah hobi. Belajar, Berkarya dan Berguna menjadi motto diri penulis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed