oleh

KMAA#23 : Kajian

-Novel-Telah Dibaca : 37 Orang

Terik matahari begitu menyengat, sekujur tubuh basah oleh peluh. Butiran bening satu persatu jatuh dikening. Dari kejauhan tampak jalanan beraspal membentuk fatamorgana. Menyusuri kampus membuat kulit terasa dipanggang, butiran peluh mulai membasahi sekujur tubuh. Suara seorang muazzin berkumandang dari masjid yang berada di area kampus. Aisyah berusaha mengusap peluh dengan tisu sembari kakinya melangkah menuju ke sumber suara, sudah waktunya melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.  Sekaligus mengikuti kajian rutin yang diselenggarakan setiap minggu.

Gadis dua puluh tahun itu menunduk hendak membuka sepatu saat seorang lelaki menegurnya. Aisyah replek berbalik sambil memegang dadanya.

“Baru selesai kelas?”

“Aduh bang jantungku hampir copot” tukasnya setelah tahu bahwa lelaki yang mengangetkannya adalah Umam.

“Maaf dek, saya tidak bermaksud mengangetkanmu. Lelaki itu langsung duduk di dekat Aisyah sembari membawa kertas yang berisi beberapa coretan. 

Sebelum salat zuhur, kedua insan itu terlibat diskusi pendek terkait kegiatan kajian yang sebentar lagi akan di mulai.

“Apakah Ustad yang akan mengisi kajian hari ini sudah datang?” Tanya Aisyah memastikan Kepada Umam sebagai penanggung jawab kegiatan.

“Mungkin sebentar lagi, kajiannya mulai jam 02.30 dan sekarang baru jam satu.” Jawab Umam.

“Apa kamu ikut kajian atau ada kelas lagi siang ini?” Umam balik bertanya, berharap wanita idamannya ini ikut kajian.

“Ikutlah, kebetulan hari ini pak Abi sedang ada pelatihan, jadi tidak ada kelas.” Jawabnya sambil meninggalkan Umam untuk mengambil air wudhu.

Laki-laki itu pun kembali mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan kegiatan kajian yang tidak lama lagi akan dimulai. Dia tersenyum sendiri saat tahu gadis pujaan hatinya ikut kajian dan selalu duduk paling depan.

Di beberapa bagian masjid tampak kerumunan mahasiswa yang sedang asyik diskusi dengan temannya sembari menunggu kajian dimulai. Satu persatu mahasiswa yang datang semakin bertambah. Sehingga membuat Masjid yang memiliki ukuran lumayan besar itu terisi hampir setengah bagian.

Tampak ustad Haeri yang akan mengisi kajian sudah duduk di dekat mimbar, menandakan kajian akan segera di mulai, panitia melalui pengeras suara meminta para jamaah yang hadir agar merapatkan duduknya mendekati mimbar. Cubitan  seseorang memaksa Aisyah menoleh ke belakang.  

“Hai, May. Baru Dateng,” sapa Aisyah kepada sahabatnya yang langsung duduk di belakang.
“Ya, baru selesai kuis, jadi agak telat sampai sini. 

Mereka pun dengan khusuk dan seksama mengikuti kajian sampai selesai. Aisyah dan May berencana langsung pulang. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sesekali terdengar tawa mereka berdua, entah apa yang mereka bicarakan.

May menuju motornya yang diparkir tidak terlalu jauh dari tempat sepeda Aisyah. Saat gadis itu akan meninggalkan tempat tersebut, terdengar seseorang memanggil namanya.

“Aisyah, tunggu…

Dia langsung menoleh mencari sumber suara, di lihatnya Umam sembari berlari kearahnya. Jantung Aisyah berdengub kencang saat orang yang dikagumi selama ini datang menghampiri. Dia menarik napas panjang agar bisa menguasai perasaannya.

“Ada apa bang?” tanya Aisyah setelah Umam berdiri di depannya.

“Aku ingin mengajakmu makan di warung dekat kampus, kebetulan saya belum makan sejak tadi pagi. Umam ingin mengenal Aisyah lebih dekat.

Gadis sederhana dan sangat mandiri serta bertanggung jawab itu telah mencuri hatinya serta membuatnya berdebar-debar. Tidak jarang Umam mencuri pandang atau memperhatikan gadis pujaannya itu dari jauh setiap melihatnya di masjid atau di kampus. Umam sudah jatuh cinta pada Aisyah sejak pertama kali melihatnya ikut kajian.

“Saya harus cepat pulang, karena Nanti sore saya ada jadwal lesnya anak-anak,” jawab Aisyah.

Umam ingin mengenal Aisyah dan keluarganya lebih jauh. Dia tidak ingin menyatakan perasaannya kepada tersebut sebelum dia tahu bagaimana perasaan Aisyah kepada dirinya.

“Sebentar saja, biarkan sepedamu di sini nanti kita balik lagi,” Ucap Umam.
Aisyah tidak tahu alasan apa lagi yang harus dikeluarkan. Akhirnya ia menyetujui ajakan Umam, dan mengikuti lelaki itu menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

Umam berasal dari keluarga yang kaya raya, orang tuanya pengusaha karpet yang diinfor dari turky. Hampir semua masjid yang ada di daerah mereka membeli karpet di toko orang tuanya Umam. Walaupun lelaki itu berasal dari keluarga kaya raya, tapi prilaku Umam sangat jauh berbeda dengan Fadli. Prilaku yang sangat berseberangan.

Sebenarnya dalam hati Aisyah juga mengagumi dan tertarik kepada Umam, tapi keadaan keluarganya yang sangat jauh berbeda antara bumi dan langit, membuat Aisyah menepis perasaan yang sudah lama ada dihatinya. Sehingga membuat gadis itu selalu menjaga jarak dengan lelaki idaman banyak wanita.

Di mata Aisyah, Umam adalah lelaki idamannya. Disamping berwajah ganteng, lelaki itu baik hati, agamanya bagus, aktif di organisasi kampus khususnya kegiatan yang berkaitan dengan islam. Dia terlihat berwibawa dan bijaksana dalam menyikapi sesuatu. Lelaki itu mau bergaul dengan kalangan mana saja, dia tidak pernah memilih teman. Baginya semua manusia itu sama yang membedakannya adalah derajat ketaqwaannya. Itu prinsip yang selalu di pegang oleh Umam dan tidak sengaja Aisyah dengar saat Umam berdiskusi dengan temannya beberapa bulan yang lalu.

Aisyah duduk di jok depan, disamping Umam yang sedang mengemudikan mobil. Debaran jantung Aisyah berdengup kencang, badannya terasa gemetaran, napasnya tidak beraturan. Untuk pertama kali dia bersama lelaki yang bukan muhrim berada dalam satu mobil. Dinginnya AC mobil tidak bisa mendinginkan hati Aisyah yang sedang merasakan panas karena pompaan jantung yang sangat cepat

“Dug…dug…dug…” bunyi itu semakin keras terdengar di dalam hati Aisyah membuatnya salah tingkah.

“Masih jauh,” tanya Aisyah. Padahal dia tahu warung yang paling ramai dikunjungi mahasiswa itu ada di depan mereka, tapi karena perasaannya, membuat dia tidak bisa konsentrasi melihat sekelilingnya.

“Ini kita sudah sampai, kamu melamun ya, sampai tidak mengenal tempat ini,” goda Umam membuat Aisyah tersipu malu. 

Sesampainya di sana, warung itu sudah tidak terlalu ramai oleh pengunjung karena waktu makan siang sudah lewat dari tadi, sebentar lagi akan masuk waktu Ashar.  Umam memilih duduk di sudut ruang, dekat kipas angin agar suasana lebih tenang dan adem.

 “Mau makan apa?” Tanya Umam setelah mereka duduk berhadapan.
 “Apa saja,” jawab Aisyah singkat.

 Aisyah tidak tahu jenis menu di warung yang setiap hari ramai dikunjungi mahasiswa  ini. Karena Aisyah jarang makan di warung, kecuali di traktir oleh May sahabatnya. Baru Aisyah bisa merasakan makanan warung. Karena memang uangnya tidak cukup kalau harus makan setiap hari di warung.

Biasanya Aisyah makan siang di rumah sore hari waktu dia pulang kuliah.

Umam pun memesan dua nasi campur ayam kampung dengan dua air mineral. Selama makan, mereka lebih banyak diam. Mereka sangat paham adab makan, kurang baik kalau berbicara sambil makan. Sehingga mereka lebih fokus menikmati makanan masing-masing.

Selesai menikmati makanannya, barulah Umam memulai pembicaraan.
“Bagaimana perkembangan anak didikmu yang ikut les privat?”

“Alhamdulillah, mereka mengalami peningkatan yang pesat. Ini sesuai dengan pengakuan orang tua mereka. Nilai putra putri mereka naik.” 

Bagaimana dengan Parhan?”

“Secara prilaku anak itu sudah kembali seperti yang dulu, begitu pun dengan semangat belajarnya sudah mulai tumbuh. Tapi saya mengundurkan diri.”
Aisyah pun menceritakan kronologisnya sampai dia mengambil keputusan seperti itu.

Ada rasa haru, kasihan bercampur sedih di hati Umam mendengar penuturan Aisyah. Keadaan ini membuat Umam semakin ingin membantu serta melindungi gadis di depannya yang masih duduk dengan wajah sendu sambil menundukkan kepala.
“Ais, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.” Ucap Umam. Dia menggeser posisi duduknya, dia melihat sekeliling warung sembari memainkan jemarinya. Dia nampak seperti orang kebingungan.

“Ada apa bang, bilang saja siapa tahu saya bisa bantu?”

“Aku…aku…aku suka kamu sejak lama Aisyah, maukah kamu menjalani hari-hari bersamaku.” Ungkap Umam dengan nada terbata-bata.

Aisyah kaget bukan kepalang mendengar pengakuan Umam yang secara tiba-tiba. Dia tidak pernah menyangka Umam memiliki perasaan yang sama dengan apa yang dirasakannya saat ini.

Sesaat Aisyah terdiam, berpikir apa yang akan dikatakannya saat ini. Dia tidak ingin membohongi perasaannya tapi dia sadar perbedaan dengan Umam bagai bumi dan langit. Dia tidak ingin lelaki berwajah indo menyukainya hanya karena mereka kasihan.

“Apakah kamu tidak menyukaiku?” kata Umam setelah lama menunggu jawaban Aisyah yang tidak kunjung keluar dari bibirnya.

“Bukan begitu, bang. Kondisi kita sangat jauh berbeda. Apakak kamu tidak malu jalan dengan ku yang hanya seorang anak pemulung? Tanya Aisyah menjelaskan kondisi sebenarnya.

“Mengapa saya harus malu hanya gara-gara status sosial. Bagiku manusia itu sama di hadapan Allah. Hanya tingkat ketaqwaan yang membedakan kita di sisi sang pencipta,” jawab Umam memantapkan kenyakinan Aisyah akan jawaban yang akan diberikan pada lelaki yang telah lama mencuri hatinya.

“Bagaimana Aisyah? Kembali Umam mengulang pertanyaan yang sama seperti tadi.
“Sambil menarik napas, Aisyah pun menjawab dengan anggukan.

Senyum terkembang di wajah keduanya setelah resmi mengikrarkan janji suci untuk saling menjaga dan melindungi. (Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed