oleh

Bukan Penulis (Part 6)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 128 Orang

Bunyi mobil berhenti dari arah depan rumahku membuat mata Ayah, Ibu dan Aku memandang ke arah pintu depan. Aku melihat Ayah melepakan pelukkan dari Ibu, berdiri dan berjalan menuju pintu depan rumah kami. Melihat Ayah meninggalkan Ibu, aku berusaha mendekati Ibu walaupun dengan langkah yang terbata – bata karena kakiku yang masih sakit.

Setelah sampai di tempat Ibu, aku merengkuh badan Ibu untuk memberikan kekuatan. Pintu depan rumah kami dibuka Ibu samar – samar aku mendengar percakapan Ayah dengan orang yang datang.

“Maaf, benar ini rumah Pak Imran.” Aku mencoba memperhatikan sosok yang sedang berbicara dengan Ayah. Tapi badan orang tersebut terhalang oleh badan Ayah, dari tempat Aku dan Ibu berada aku tiba – tiba melihat Ayah terduduk dari berdirinya sambil menutup mukanya dan menangis. Saat itulah aku dapat melihat siapa yang lagi berbicara dengan Ayah, seorang polisi lengkap dengan seragamnya baru saja berbicara dengan Ayah. Melihat Ayah seperti itu, ibu meronta dalam pelukku dan langsung berlari mendapatkan Ayah, dengan susah payah aku berusah menuju tempat Ayah dan Ibu.

Ibu tidak memperdulikan pak Polisi yang masih berdiri di depan pintu rumah kami

“Yah, ada apa? bapak Polisi ini mau apa? bukannya suara Ayah yang menjawab pertanyaan Ibu tapi

“Maaf bu, Lia Rahmawati, anak Ibu mengalami kecelakan dan dengan sangat menyesal kami beritahukan Lia meninggal di tempat kecelakaan.” Mendengar penuturan polisi itu bukan hanya Ibu yang terkejut aku juga terkejut dan semerta merta pipiku sudah banjir dengan airmata.

Ayah seperti mayat hidup mendengar berita ini, tidak ada kata ataupun gerakan dari Ayah sementara Ibu sudah menangis sambil memeluk Ayah.

“Mayat ada di rumah sakit, silakan Bapak dan Ibu untuk mengindentifikasi.” Setelah berkata itu polisi pamit. Hanya aku yang menganguk kepala kepada polisi ketika mereka berpamitan.

Aku mencoba menyadarkan Ayah

“Ayah sebaiknya kita kerumah sakit.” Ayah masih terdiam tanpa berreaksi

“Ayaaaaah.” Suara teriakan Ibu membuatku terkejut, Ayah terkulai lemah jatuh ke lantai.

Ayah pingsan, begitu sayangnya Ayah sampai Ayah tidak sanggup menerima kenyataan bahawa adikku Lia sudah pergi meninggalkan kami. Aku berusah membantu Ibu untuk menyadarkan Ayah. Masih dengan langkah terseok – seok aku berusaha mencari minyak angin dikamarku dan kembali ketempat Ayah dan Ibu berada.

“Bu, gosokkan minyak angin ini di hidung Ayah.” Aku menyodorkan minyak angin yang ku ambil kepada Ibu. Ibu mengosokkan minyak angin ke hidung Ayah dan pelipis Ayah.

“Alhamdulillah.” Aku mengucapkan syukur ketika aku melihat Ayah sudah mulai sadar.

“Lia.” Aku mendengar Ayah menyebut nama Lia adikku sambil meneteskan air mata

“Ayah, sebaiknya kita ke rumah sakit, Ayah kuatkan?” aku bertanya kepada Ayah

Anggukan kepala Ayah lemah, tapi aku melihat Ayah mencoba berdiri walaupun di bantu Ibu. Dengan susah payah aku berusaha keluar rumah, menuju rumah sebelah. Alhamdulillah aku melihat bang Jamal melintas di depan rumah

“Bang?” Panggilku kepada bang Jamal sampai melambaikan tanganku kepadanya

“Ada apa Ila?” sambil berkata bang Jamal menghampiriku

“Lia kecelakaan bang, mau ya abang, mengantar Aku, Ayah dan Ibu kerumah sakit. Pakai mobil Ayah saja.” Ekspresi terkejut jelas di wajah  bang Jamal mendengar perkataanku.

“Baik, abang pamit dulu sama orang tua Abang.” Aku melihat bang Jamal berlari kearah rumahnya tak lama kemudian bang Jamal kembali lagi kerumahku. Aku sudah menceritakan kepada Ayah dan Ibu bahwa Aku meminta tolong kepada Bang Jamal untuk mengantar kami ke rumah sakit. Kondisi Ayah tidak memungkinkan untuk menyetir mobil, untung saja Ayah mau mengerti, walaupun sewaktu mengutarakan maksudku aku takut Ayah marah, ternyata tidak. Aku bersyukur di dalam hati.

Selama perjalanan ke rumah sakit aku melihat ke arah wajah Ayah dan Ibu. Ibu memegang legan Ayah seperti memberikan kekuatan kepada Ayah, sementara Ayah seperti mayat hidup. Sekali – sekali aku mendengar suara yang keluar dari mulut Ayah

“Kenapa harus Lia yang duluan pergi, kenapa tidak Ayah.”(Bersambung)

***

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed