oleh

Cinta Tanpa Syarat (part 5)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 64 Orang

Tidurku gelisah, rasa panas merayap ditubuhku sehigga tidurku tidak nyenyak. Ketukkan dipintu membuat tidurku terganggu, dengan malas aku membangunkan badan dan mengayuhkan langkah menuju pintu, membukanya dan melihat sosok Bang Ijal disana.

“Sudah pukul 8, Nona Kecil. Mulai hari ini tidak boleh lagi telat atau meninggalkan sholat. Tugas istri apa perlu Abang ajarkan?” Aku tersenyum malu dengar perkataan Bang Ijal

“Panas jadi tidak bisa tidur.” Spontan aku menjawab

Suara tawa Bang Ijal mengema diruang kamar ini

“Siapa suruh milih Abang jadi suami. Maka belajarlah untuk hidup susah.” Katanya

Setelah mengatakan Itu bang Ijal melangkah kedalam menuju lemari pakaian mengambil bajunya kemudian keluar dari kamar menuju kamar mandi berganti pakain.

Aku melangkah keluar kamar menuju ruang dapur yang bersatu dengan ruang meja makan, membuka tudung saji sudah ada nasi goreng dan teh manis.

“Besok Liza yang harus membuat sarapan. Hari ini bonus karena Liza baru di rumah Abang.” Kata – katanya membuatku tersenyum malu.

“Abang sudah sarapan, tadi sopir Papa yang mengantar koper pakian untuk Liza, sudah abang masukkan ke kamar. Abang tinggal dulu ke kantor.” Aku menutup kembali tudung saji, melangkah mengikuti langkah Bang Ijal yang akan pergi kerja. Setelah Bang Ijal berlalu dengan motornya aku menutup pintu dan melangkah keruang makan untuk sarapan.

***

Bunyi suara motor terdengar, aku baru mau memindahkan baju – bajuku dari dalam koper ke dalam lemari yang berada dikamar Bang Ijal. Aku melihat jam yang berada di lenganku, belum 2 jam mana mungkin Bang Ijal yang pulang, pikirku. Aku berdiri bergegas keluar kamar menuju ruang tamu dan mengintip dari balik jendela. Bang Ijal, apa mataku tidak salah lihat, aku membuka pintu depan. Wajah lesu Bang Ijal, serta merta merubah ketika melihatku membuka pintu dan berusah tetap tenang dan ceria.

“Lagi ngapain?”

“Kok sudah pulang Bang?” tanyaku

Bukannya menjawab pertanyaanku, Bang Ijal langsung masuk ke kamar dan berganti baju setelah itu menuju ruang tengah duduk dan berkata

“Liza duduklah di sini.” Sambil berkata itu Bang Ijal menujukkan tempat dimana aku harus duduk. Setelah aku duduk, Bang Ijal memandangku sambil berkata

“Papa memecat Abang.” Aku terkejut mendengar perkataan Bang Ijal

Belum juga aku berkata, Bang Ijal sudah mendahului

“Tapi tidak apa – apa, masih ada pintu rezeki yang lain untuk kita. Liza jangan membenci Papa. Besok Abang akan mencari pekerjaan, semoga tidak lama Abang menganggur. Hari ini anggap saja kita lagi cuti bulan madu.” Mataku berkaca

“Jangan menangis, kita baik – baik saja, sekarang ganti baju abang mau mengenalkan Liza dengan orangtua abang.”(bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed