oleh

Kabut Kehidupanku (part 2)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 76 Orang

Pukul sudah menunjukkan angka 2.30 sore aku baru menyuci dan mengepel rumah, aku masih harus memasak untuk makan sore. Melangkah lemah menuju dapur mengambil nasi bungkus yang ku simpan. Membukanya dengan semangat, perutku sudah berbunyi sejak tadi. Tapi aku tidak berani makan, Ibu belum tidur. Aku menunggu ibu tidur siang dulu, kalau tidak ibu pasti akan marah dan berkata

“Kamu mengemis lagi, buat malu Ayah saja. Ayahmu bukan orang miskin sehingga anaknya harus mengemis.” Andaikan Ibu mau membeli 2 nasi bungkus tentunya aku tidak perlu mengemis untuk makan siang ini.

“Bismilahirahmanirahim” aku membaca doa makan, melahap nasi di depanku

“Alhamdulillah.” Akhirnya laparku sudah hilang. Berdiri dari meja, menuju tempat cuci piring.

“Sudah masak?” untung saja aku sudah selesai makan, jika tidak?

“Ini baru mau mulai Bu.” Untung saja aku sudah mengeluarkan bahan untuk memasak, sehingga ibu tidak curiga dengan berdirinya aku di tempat cuci piring.

“Cepat sebentar lagi Ayah pulang, pasti lapar.” Setelah mengatakan itu Ibu berlalu meninggalkan aku sendiri di dapur. Bukannya membantu batinku, aku melanjutkan pekerjaanku. Azan Azar sebentar lagi akan berkumandang, terahim sudah terdengar aku sudah menyelesaikan tugas terakhir yang ibu minta. Nasi, beserta lauk pauk dan kerupuk sudah tersedia tinggal menyantapnya saja.

Aku berjalan lesu ke arah kamarku, belum juga aku masuk ke dalam kamar

“Dinda mandi bersihkan badanmu, duduk di teras Ayah sebentar lagi pulang.” Ibu mengingatkan apa yang harus aku lakukan tentu saja memperingatiku untuk tidak bercerita macam – macan dengan Ayah. Apalagi sampai aku mengadu kepada Ayah apa yang dilakukan Ibu padaku pasti aku mati.

***

Karena terlalu penat, akhirnya aku tertidur dibuaian yang berada diteras rumah. Sentuhan lembut di kepalaku membuatku terbangun.

“Ayah sudah pula” belum selesai perkataanku aku mendengar

“Ayah sudah pulang, dinda main terus sampai ketiduran dibuaian karena capek.” Suara ibu sangat membuatku muak.

“Masuk ya, dinda bawakan barang – barang Ayah ke dalam.” Selalu perintah dari Ibu yang ku dengar. Dengan malas aku bangun dan melangkah menuju barang bawaan Ayah yang terletak tidak jauh dari buaian. Mungkin Ayah meletakkannya disana ketika memegang kepalaku tadi.

Aku mengikuti langkah Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah

“Dinda buatkan minuman hangat, pasti Ayah sudah rindu dengan minuman buatan Dindakan yah?” ada saja cara Ibu untuk membuatku tidak lepas dari pekerjaan. Katanya Istri tapi selalu aku yang menyiapkan kebutuhan Ayah.

“Ayah rindu minuman buatan Ibu, Ibu buatkan kopi susu ya bu.” Ahhh ibu kena batunya, aku hanya tersenyum mendengar permintaan Ayah.

“Dinda, sini duduk disamping Ayah.” Ayah duduk diruang tengah di kursi kebesaran Ayah jika lagi nonton TV bareng aku dan Ibu.

Aku duduk dilantai meletakkan kepalaku dipangkuan Ayah. Ayah mengusap kepalaku sambil berkata

“Dinda baik – baik saja dirumah?Ayah lihat dinda agak kurusan dan pucat.”

Belum sempat aku menjawab ibu sudah datang membawa kopi susu permintaan Ayah

“Yaho, Dinda ngadu apa sama Ayah?” aku melihat mata curiga Ibu sambil berkata demikian

“Ibu, Dindanya belum ngomong apa – apa Ibu sudah datang. Kenapa anak kita kurusan sekarang bu. Ibu pasti tidak jaga Dinda dengan baik, pasti biaran Dinda berbuat sesukannya. Ayah tahu Ibu sayang Dinda tapi Dinda harus diperingatkan bu.” Ibu tidak senang mendengar perkataan Ayah.

“Yah Dinda saja yang suka semaunya, mana berani Ibu larang – larang Dinda.” Pandainya Ibu bersandiwara di depan Ayah.

“Ni kopi Ayah.” Ibu menyodorkan kopi buatannya.

Baru sedikit Ayah mencicipi kopi buatan ibu

“Bu ini kopi atau apa kenapa tidak enak begini.” Wajah Ayah berubah yang tadinya tersenyum langsung memandang lain kepada Ibu.(bersambung)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed