oleh

Kabut Kehidupanku (part 3)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 53 Orang

“Masak sih, sini ibu coba.” Ibu masih berusaha mencari alasan, padahal selama ini Aku yang membuatkan kopi susu untuk Ayah tetapi selalu Ibu yang mendapatkan pujian.

“Mungkin karena Ibu kangen Ayah ni, jadi kopinya tidak enak.” Bisa saja Ibu mencari alasan.

“Biar Dinda yang buatkan Ayah kopi.” Sambil berkata aku bangkit dari dudukku dan menuju dapur. Ternyata Ibu mengikuti aku ke dapur.

“Dinda bicara apa dengan Ayah?” aku hanya bisa menghembus napas sebegitunya  curiga Ibu denganku.

“Dinda belum bicara Ibu sudah datang.” Jelasku.

“Awas ya kalau mengadu ke Ayah.” Ibu mengambil kopi yang sudah ku buat.

“Bawakan piring buat kue yang Ayah bawa.” Titah Ibu sambil meninggalkan aku di dapur.

Aku mengambil piring dan membawanya ke ruang tengah

“Ni kopi enaknya Yah, ibu yang bikin.” Aku sempat mendengar perkataan Ibu kepada Ayah. Masih saja Ibu mencari muka kepada Ayah.

“Masukkan kuenya kedalam piring din, beli dimana kuenya Yah?

“Ayah beli di bandara, sebelum pulang kerumah. Ayah tidak sempat membeli oleh – oleh karena Ayah langsung pulang seteleah urusan Ayah selesai. Ayah rindu sama Istri dan Anak Ayah.”

“Ah Ayah bisa saja.” Sungguh muak aku mendengar kata – kata Ibu.

“Di makan kuenya dinda, itukan kue kesukaan dinda.” Aku tersenyum sambil mengambil 1 kue yang ditawarkan Ayah dan memakannya dengan tidak bersemangat

“Ibu tidak ditawari Yah?”

“Ya, itu juga ada kue yang Ibu suka.” Kata Ayah.

“Din, kamu sakit? Aku terkejut dengan pertanyaan Ayah, dan menjawabnya dengan mengelengkan kepala karena dimulutku masih mengunyah kue.

“Dinda baik – baik saja Yah, kerjanya hanya main dan belajar saja. Ayah jangan khawatir.” Suara ibu menyakinkan Ayah.

“Tapi Dinda kurusan dan pucat bu.”

“Ah itu perasaan Ayah saja, dinda kerjanya hanya kesekolah dan main di kamar tentu pucat tidak kena matahari.” Lanjut Ibu.

“Jangan biarkan Dinda main saja bu, ajak Dinda untuk berolah raga juga. ibukan suka ikut senam ajak anak gadisnya sekalian jangan ibu saja yang mau jaga badan.” Ucapan Ayah membuat ibu memandang sinis kepadaku.

“Ya, besok – besok Ibu ajak Dinda senam juga.” dengan tidak bersemangat ibu menjawabnya.

Azan magrib berkumandang

“Ibu,Dinda ambil wudhu kita sholat berjamaah.” Aku langsung memandang Ibu, sudah lama aku  tidak pernah melihat Ibu sholat apalagi jika Ayah harus ke luar kota..

“Ayah sholat sama Dinda saja.”

“Kok begitu tu, apa ibu lagi dapat?” ibu menunjukkan kukunya

“Mau buang cat kukunya tadi ibu arisan jadi ibu memakainya. Ibu bersihkan dulu.”

“Sudah berapa kali Ayah kasih tahu Ibu pakai Inai saja, jadi tidak perlu dibersihkan.” Suara Ayah meninggi

“Iya, Ibu salah. Ibu tahu, besok – besok tidak lagi Ibu pakai.”

Aku dan Ayah bangkit dari duduk menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.

***

Untuk beberapa hari ini aku aman dari perintah Ibu, selama Ayah berada di rumah aku bagaikan putri kerajaan. Semua pekerjaan dari memasak, mencuci serta setrika dibuat oleh Ibu. Walaupun aku tahu Ibu memandangku sinis dan berharap Ayah cepat – cepat keluarg kota.

“Din, bantu Ibu.”

“Jangan Yah, biarkan Dinda belajar sebentar lagi Dinda ujian.” Ratu drama di rumahku.

Ya Allah semoga Ayah lama dirumah sehingga aku bisa sedikit istirahat dan belajar dengan baik untuk menghadapi ujian.

“Ayah, berapa bulan Ayah dirumah?” suatu sore aku bertanya kepada Ayah, sudah lebih dari seminggu Ayah dirumah. Biasanya Ayah hanya 10 hari dirumah setelah itu Ayah akan berangkat selama 3 bulan untuk mengurus usahanya.

“Ayah dirumah sampai Dinda pengumuman kelulusan.” Aku bahagia mendengar ucapannya.

“Kok lama sekali Yah, terus usaha kita bagaimana.” Tiba – tiba Ibu sudah ada di antara kami sambil membawakan kopi, teh serta camilan sebagai pendampingnya.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed