oleh

Merpati Tua tidak Sepasang

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 108 Orang

Berjalan menyusuri jalan menuju tempat pemberhentian bus yang tidak jauh dari rumah. Sudah hampir beberapa pekan ini aku terpaksa berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. Suamiku yang dulu berjanji akan setia mengantar dan menjemput aku pulang dari sekolah sepertinya tidak lagi menepati janjinya. Bukan hanya tidak menepati janjinya untuk mengantar dan menjemput diriku tapi juga sudah hampir sepekan pula ia tidak pulang kerumah.

Kami sama – sama pegawai negeri tapi suamiku sudah 3 tahun pensiun dari kedinasan, tapi bukan berarti ia, suamiku berhenti bekerja. Sebentar lagi aku juga akan pensiun , entahlah janji untuk menunggu dan merawat cucu – cucu kami tidak ditepati.

“ Bu, aku mendapat tawaran untuk bergabung bersama teman yang mendirikan perusahaan.” Itu kata suamiku baru beberapa bulan saja ia pensiun.

Aku sempat protes,” katanya mau istirahat, mau berkebun dan mengelola tanah yang tidak sampai sehektar.” Kataku ketika suami menyampaikan alasan untuk bekerja lagi.

“ Aku hanya ingin mengisi masa pensiunku dengan hal – hal yang positif saja, kerjanya juga tidak tiap hari paling jika ada rapat atau apalah.” Suamiku menyakinkan ku untuk member izin ia bekerja lagi.

Aku tidak mau dibilang sebagai istri yang mengukung kebebasan suami, apalagi cerita teman – teman orang pensiun jika hanya duduk dirumah akan membuat stress. Akhirnya aku mengizinkan suamiku untuk ikut berbisnis dengan temannya. Waktu berjalan hanya 3 bulan suamiku menepati janjinya bekerja sambilan saja.

Bulan ke empat, suamiku sudah seperti orang kantoran saja, sudah ada jam berangkat dan jam pulangnya. Setahun berlalu, akhirnya aku merasakan bahwa suamiku lebih sering di luar rumah daripada berada dirumah. Dan yang lebih parahnya lagi, jam terbang suamiku melebihi jam terbang sewaktu ia menjadi pegawai negeri.

Jika aku menuntut janji suamiku tentang masalah keberadaannya dirumah dan janji untuk mengurus tanah kami yang tidak sampai sehektar, jawaban yang kuterima sangat menyakitkan. “Aku bukan tipe pekerja yang harus mencangkul dan tangan berlumpur dengan tanah. Setiap aku mengingatkanya pasti terjadi pertengkaran kecil yang mewarnai rumah tangga kami.

Cucu sudah banyak, untung anak – anak tidak tinggal dengan kami kalau tidak mereka akan mendengar ribut – ribut kami yang sudah tua pasti akan sangat memalukan. Tapi suamiku cuek saja.***

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed