oleh

Awal Derita Ku (part 4)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 76 Orang

Sudah sepekan pertanyaan ibu tidak bisa aku jawab, persoalan jodoh bukannya aku tidak mau tapi karena alasan yang mungkin menurut orang lain hanya di buat – buat. Banyak orang yang ditinggal Ayah mereka dan menjadi tulang punggun keluarga masih sempat untuk mencari jodoh mereka. Ada juga yang mengatakan zaman sekarang tidak usaha malu sudah biasa perigi mencari timba. Itu adalah perumpanan di daerahku yang mengatakan untuk perempuan yang mencari pasangan bukan malah sebaliknya. Bukan aku tidak mau tapi sekarang dengan posisi seperti sekarang ini, untuk laki – laki dibawah level ku pasti akan berfikir macam – macam untuk meminangku, semenatara untuk laki – laki yang berada diatas levelku pasti mereka sudah mempunyai istri dan anak.

Akhir dengan terpaksa aku mengikuti perjodohan yang lagi tren sekarang ini, mendaftar pada salah satu biro jodoh dan menunggurpaksa aku mengikuti perjodohan yang lagi tren sekarang ini, mendaftar pada salah satu biro jodoh dan menunggu kabar dari biro jodah jika ada yang ingin kencan buta denganku. Hidupku bagaiman novel – novel akan sekarang yang mencari jodoh dengan perantara biro jodoh. Aku tersenyum miris menangisi hidupku. Dulu aku menangis karena harus mandiri dan jadi kepala keluarga karena di tinggal Ayah karena pulang ke sang yang Khalid, sekarang aku menangis karena harus mencari jodoh karena ingin membahagiakan Ibu.

Sudah 3 bulan berlalu, aku sudah melupakan bahwa aku pernah minta dicarikan jodoh oleh biro jodoh, satu pesan di chat wharsapp sekitar jam 10 pagi aku terima. Foto seorang pria yang mengaku tinggi badanya 175 cm dengan berat badan ideal serta kulit sawo matang ingin berkenalan denganku. Aku hanya tersenyum, benar nggak sich tingginya 175 kalau Cuma foto pasti bisa ngaku – ngaku tinggi tapi kenyataannya belum tentu. Aku hanya membacanya saja, masih jam kantor aku tidak mau di ganggu dengan urusan pribadi. Fikirku.

Pukul 12.15  masuk lagi chat dari nomor yang sama, “ aku tahu anda sudah membaca chat saya, mungkin anda sibuk sehingga tidak membalasnya.” Bunyi chat dari yang mengaku bernama Indra. “ Jika anda sudi, maukah anda makan siang dengan saya hari ini.” Aku tidak menyangka aku akan menerima chat lagi dari Indra yang katanya mendapatkan infomasi tentang diriku dari biro jodoh yang sama tempat dia juga meminta jasa yang sama denganku untuk dicarikan pasangan hidup.

“ Maaf, aku lagi makan siang sekarang ini. Bagaiman kita mencari waktu yang tepat untuk bertemu.” Balasku kepada Indra.

“ Maaf kalau kesannya aku memaksa, ok aku tunggu info dari anda kapan kita bisa bertemu.” Aku tersenyum memandang chat balasan dari Indra.

Aku memandang laptop yang berada di depanku, bukan makanan seperti yang aku jawab pada chat yang aku tulis kepada Indra.

Mengambil handphone mencari nomor biro jodoh, dan menghubunginya. Aku hanya mau memastikan apakah benar ada seseorang yang bernama Indra yang ingin berkenalan denganku.

“ Halo, ada yang bisa kami bantu? Suara dari orang biro jodoh menyambut telephon dariku.

“ Saya Cahaya, hanya ingin memastikan saja. ada seseorang dengan indentitas seperti yang di kirim Indra kepadaku benar ingin berkenalan denganku.” Suara lembut di seberang sana menjawab pertanyaanku dengan mengatakan, Nona tidak mengecek email dari kami, kami sudah mengirim info ini 2 minggu yang lalu.

“ Maaf saya lupa mengecek email saya kataku sambil berterima kasih dengan menutup panggilan telephone.

Aku membuka email dari biro jodoh dan melihat ada pemberitahuan tentang kencan yang seharusnya sudah aku balas 2 minggu yang lalu, tapi aku tidak melakukanya.

Mungkin ini jodoh pikirku, karena seharusnya yang namanya Indra tidak perlu menunggu atau malah mewashsapp aku secara pribadi karena menurut ketentuan wakut untuk kami kencan buta sudah berakhir.(bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed