oleh

Awal Derita Ku (part 5)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 69 Orang

Tok ..tok…tok pintu ruangan ku di ketok, Masuk. Pintu terbuka aku melihat office boy kantor disana, sambil mengangguk meminta izin untuk masuk, aku mengangguk member izin untuknya masuk. “ Bu ada bouguet bunga untuk ibu, sambil menyerahkan bouquet bunga kepadaku. Dengan pandangan heran aku bertanya? Untuk saya bouquet bunganya? “ Ya bu, kata pengantar bunga ini untuk ibu.” Aku meraih buoqet bunga yang diberikan office boy sambil mencari kartu nama, siapa yang mengirimi aku bunga?

Kartu nama berwarna biru, bertuliskan kalimat “ Salam kenal dari Indara Pranata, semoga kita bisa secepatnya berjumpa” aku membacanya. Sambil mengingat beberapa hari yang lalu aku pernah berjanji akan memberikan kabar bahawa aku dan Indra akan makan sian bersama. Belum hilang rasa penasaranku, handphoneku berbunyi, “ Assallamualaikum” aku mendengar suara dari seberang sana. Sudah menerima bouquet bunganya, mudah – mudahan bunga yang saya kirim Cahaya suka. Masih suara dari seberang sana yang aku dengar. Lama tidak ada suara yang terdengar, aku masih terdiam akhirnya aku mendengar suara “ maaf jika menganggu jam kerja Cahaya saya hanya menelepon untuk bertanya itu saja”, aku mendengarkan suara nada handphone di putuskan. Astafirullah apa yang aku lakukan? Aku bahkan tidak menjawab, apalagi pertanyaan yang diberikan oleh Indra. Pasti ia mengira aku adalah orang yang sombong.

Aku menekan kipet handphone ku mendail ulang nomer terakhir yang baru saja masuk, nomor Indra sudah terhubung, satu kali, dua kali, tiga kali aku mendengar nada sambung sebelum nada ke empat aku mendengar desahan napas dari seberang sana. “ Maaf, tapi aku hanya terkejut saja mendapatkan bouqet bunga. Terdengar suaraku sedikit gemetar sewaktu mengucapkan kalimat itu, saya harap Indra tidak tersinggung. Suara dari seberang sana membuat hatiku sedikit merasa tidak enak. “ Maaf saya mungkin terlalu memaksakan kehendak saya. Maaf mungkin saya tidak masuk ke dalam criteria yang Cahaya maksudkan, saya tidak akan menganggu Cahaya lagi. Dengan cepat aku bersuara sebelum handphone dari seberang sana di tutup Indra. “ Maaf saya yang salah, kalau Indra tidak keberatan siang ini kita jumpa di restoran Sederhana untuk makan siang. Aku mengambil inisiatif untuk mengajak Indra makan siang, aku ingin menebus kesalahan yang aku buat, karena bukan salah Indra jika ia mnghubungiku karena pada dasarnya aku mendaftar pada biro perjodohan yang sama dengan Indra.

Lama keheningan diantara kami, aku memberanikan diri berkata” jika Indra sibuk kita buat janji lain kali saja. “ “maaf hari ini saya lagi luar kota, dua hari lagi saya baru pulang, jika Cahaya tidak keberatan lusa kita makan siang bersama. Aku mendengarkan penawaran dari Indra. Akhirnya kami sepakat akan makan siang bersama dua hari yang akan datang. Sambil menjawab salam dari Indra aku menutup telephone begitu juga dengan Indra.

Aku hanya tersenyum, mudah – mudahan jodoh yang diminta ibu bisa aku hadirkan secepatnya kehadapan Ibu kataku di dalam hati. (bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed